DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 18 Mei 2019, 11:50 WIB

Pustaka

Gerakan dan Ide Anarkisme di Indonesia

Suhairi Ahmad - detikNews
Gerakan dan Ide Anarkisme di Indonesia Foto: IG daunmalam.katalog
Jakarta -

Judul Buku: Perang yang Tidak Akan Kita Menangkan: Anarkisme dan Sindikalisme dalam Pergerakan Kolonial hingga Revolusi Indonesia 1908-1948; Penulis: Bima Satria Putra; Penerbit: Pustaka Catut, 2018; Tebal: xxiii+ 225 hlm

Anarkisme seringkali disebut sebagai biang kerok kekerasan dan ini sudah mencapai puncaknya di Indonesia. Media massa beramai-ramai menggunakan diksi tersebut untuk menjelaskan segala hal terkait kebrutalan, kerusuhan, dan pengrusakan lainnya. Pandangan tersebut seolah final untuk memaknai dan memahami anarkisme. Seperti halnya isme-isme yang lain, ia turut menjadi korban bahasa yang diselewengkan dalam percakapan sehari-hari.

Namun, ada hal lain ketika May Day 2019 beberapa waktu lalu. Pihak kepolisian menyebut kemunculan anarko sindikalis adalah fenomena baru yang berkembang di Indonesia (detikcom, 2/5). Padahal gerakan ini muncul dan berumur sama tuanya dengan gerakan nasional sejak masa awal pergerakan nasional di Indonesia. Anarkisme pernah menjadi salah satu varian gerakan yang memiliki andil dalam pemberontakan rakyat melawan pemerintah kolonial Belanda.

Istilah Anarkisme sendiri berasal dari kata Yunani "anarki". Terdiri dari dua kata, awalan an (atau a) yang bermakna ketiadaan, tidak, atau kekurangan. Lalu dilanjutkan dengan kata archos yang berarti suatu peraturan, pemimpin, kepala, atau kekuasaan. Maka anarchos/anarchein berarti tanpa pemerintahan. Tanpa pemerintahan inilah yang kemudian menjadi inti terkait paham anarkisme, tanpa pemerintahan yang berwujud negara sebagai otoritas tertinggi. Secara harfiah berarti tanpa peraturan, tanpa pemimpin, tanpa tuan.

Anarkisme muncul sebagai salah satu gerakan sosialis jauh sebelum paham marxisme berkembang di Eropa pada abad ke-18 (Ben Anderson, Di bawah Tiga bendera). Tokoh kunci pemikir anarkisme antara lain Piere Joseph Proudhon yang pikirannya pernah berkembang di revolusi sosialis tanpa partai, Komune Paris (1871). Selain itu, Mikhail Bakunin pernah tampil di Internasionale I dan menjadi lawan debat yang cukup sengit bagi Karl Marx. Di forum tersebut, Bakunin dan Marx berselisih paham terkait masa transisi setelah kapitalisme apakah perlu diktator proletariat atau tidak. Perselisihan tersebut tidak menemui titik terang antara kedua kubu dan pada 1872 kubu anarkis bersama Bakunin didepak dari Internasionale I. Lalu beberapa tahun kemudian aliansi gerakan sosialis ini membubarkan diri.

Tak banyak sejarawan menyadari keberadaan anarkisme di Indonesia. Satu di antara yang menyadari anasir anarkisme itu adalah Soe Hok Gie. Gie membaca kecenderungan nihilisme dalam Sarekat Islam di Semarang yang notabene bertendensi marxisme. (Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, hlm. 40)

Nihilisme dalam beberapa hal berbeda dengan anarkisme. Namun, orientasi politiknya dengan anarkisme punya irisan yang sama untuk menghancurkan otoritas, termasuk otoritas pimpinan organisasi dan pemerintah kolonial yang menindas.

Minimnya literatur yang menjelaskan keberadaan anarkisme di Indonesia membuat ideologi politik satu ini sering disalahartikan dan bahkan dianggap tidak pernah ada dalam sejarah pergerakan nasional. Banyak yang menganggap anarkisme baru masuk ketika komunitas punk hadir pada kisaran tahun 1980-an. Buku Perang yang Tidak akan Kita Menangkan yang ditulis oleh Bima Satria Putra ini memberi gambaran penting terkait anarkisme dalam babakan sejarah Indonesia.

Anarkisme muncul bersama gelombang besar saat komunisme dan nasionalisme menjadi imajinasi pemberontakan melawan pemerintah kolonial. Max Havellar menjadi buku pertama yang menjelaskan kecenderungan "anarkistik" di Hindia Belanda. Buku yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker pada 1860 tersebut mengkritik keras pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Buku tersebut menjadi pemantik bagi gerakan sosialis dan anarkis di berbagai negara. Bahkan, menurut Peter Kropotkin di esai Anarchism dalam The Encyclopedia Britanica, buku tersebut bisa disejajarkan dengan karya Nietzsche, Emerson, W. Lloyd Garrison, Thoreau, Alexander Herzen, dan Edward Carpenter. Tak berlebihan jika Max Havellar menjadi inspirasi gerakan sosialis dan anarkis di berbagai tempat. Seperti si patriotik Filipina, Jose Rizal, yang juga mengagumi buku monumental tersebut dan menjadi ilham bagi perjuangan rakyat di Filipina (Ben, Di Bawah Tiga Bendera, hlm. 71).

Selain Filipina, buku tersebut tersebar ke beberapa negara Eropa Barat. Dan di Belanda, buku tersebut berhasil mempengaruhi para liberal progresif Belanda untuk mendesak reformasi politik yang lebih baik di tanah jajahan, termasuk di Hindia Belanda. Hasilnya, 40 tahun kemudian lahirlah paket kebijakan politik Trias Van Deventer: edukasi, irigasi, dan emigrasi yang disahkan oleh Ratu Wilhemia pada 1901 (Bima, hlm. 37-38).

Walaupun Max Havellar tersebut memberi inspirasi bagi kaum anarkis (Frank van der Goes, Multatuli over Socialisme, 1896), Dekker bukan seorang anarkis. Ia merupakan seorang humanis radikal yang bergerak atas nama kemanusiaan.

Pada 1918, Darsono mengurus koran Sinar Djawa dan mengangkat Semaun—yang saat itu menjadi ketua Sarekat Islam (SI) di Semarang—menjadi anggota redaksi. Di koran tersebut, Darsono memakai nama samaran Onosrad menulis perihal nihilis Rusia. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa "begitulah perang tandingnya pemuda-pemuda (nihilis) yang gagah berani melawan pemerintah yang berlaku sewenang-wenang, tidak takut di bunuh, tetap hati karena suci, sampai mati." (Onosrad, Nihilis Rusia dalam Sinar Djawa, 2 April 1918).

Dokumentasi tersebut menunjukkan ada hubungan yang amat lentur dalam tubuh SI. Perbedaan ideologi politik tidak menjadi persoalan. Sebab, bagi mereka musuh yang paling nyata adalah penjajah di tanah Hindia Belanda. Oleh karena itu, bagi Bima, gerakan kiri di Indonesia tidak bisa dilihat secara tunggal. Dalam sejarah Indonesia, ide-ide anarkis hidup dan mewarnai organisasi-organisasi yang bertendensi marxisme dan sosial-demokrat. (Bima, hlm. 89)

Anggota PKI yang seringkali memakai nama samaran pula salah satunya Herujuwono, Ketua Seksi PKI di Pekalongan. Herujuwono bersama Alimin memegang kendali koran Api yang diterbitkan partai yang kini terlarang tersebut. Koran Api seringkali mengutip Bakunin dalam editorialnya sepanjang tahun 1926. Hal inilah yang kemudian menjadi tegangan yang tidak bisa dihindarkan dalam tubuh PKI.

Tulisan lain yang ditulis oleh Sukarno juga memberikan penjelasan yang cukup ringkas apa itu anarkisme. "Anarchisme ialah salah satu paham atau aliran dari socialisme, oleh karenanya anarchisme itu adalah lawannya kapitalisme ... anarkis itu mufakat sekali dengan persoonlikje vrijheid, ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan," ungkap Sukarno (Fikiran Ra'jat, No. 2, 8 Juli 1932)

Gerakan anarkis sama-sama hancur ketika Tragedi 1965 memusnahkan semua gerakan kiri di Indonesia. Gerakan ini baru muncul kembali ketika pada 1980-an bersama ramainya komunitas punk dan beberapa gerakan otonom di berbagai daerah. Bahkan, gerakan anarkis bernama Front Anti-Fasis (FAF) pernah bergabung bersama Partai Rakyat Demokatik (PRD) pada 1999. Kelompok ini secara terbuka mendaku diri sebagai anarko-punk yang terdiri dari komunitas punk, anak jalanan, pemuda, dan preman. Selain itu, pada Desember 1999 muncul Jaringan Anti Fasis Nusantara (JAFNus) yang diinisiasi oleh FAF. FAF kemudian membubarkan diri setelah kongres kedua yang gagal di Yogyakarta pada tahun 2000. Serta, seperti kasus-kasus sebelumnya, ada perbedaan prinsipil yang membuat kelompok ini harus berpisah dengan PRD (Bima, hlm. 218).

Anarkisme menemukan momen kemunculannya pada 2007 dengan membentuk Jaringan Anti-Otoritarian (JAO). Jaringan ini terdiri dari berbagai afinitas, kelompok, dan komunitas anarkis di berbagai daerah di Indonesia. Dalam sejarah Indonesia pasca-Reformasi, bendera hitam pertama kali berkibar pada May Day 2008. Saat itu, JAO melakukan aksi long march di Jakarta dari STIE Perbanas ke Wisma Bakrie.

Selain itu, pada 9 Desember 2009, puluhan anarkis-insurgen memancing kerusuhan pada Hari Anti Korupsi se-Dunia.

Sampai saat ini, gerakan anarkisme dengan beragam varian tersebar di berbagai wilayah Indonesia ketika May Day 2019. Selama ada kekuasaan modal dan menindas rakyat, semangat kaum anarkis akan terus menyala dan merayakan May Day secara sukarela.

Oleh karena itu, tidak tepat bila gerakan anarkis di Indonesia sebagai gerakan yang baru muncul seperti kata Pak Polisi Tito Karnavian beberapa waktu lalu.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed