DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 20 April 2019, 11:30 WIB

Pustaka

Kekalahan Manusia dalam Lubang Pertanyaan Nihil

Wawan Kurniawan - detikNews
Kekalahan Manusia dalam Lubang Pertanyaan Nihil Foto: Penerbit Baca
Jakarta -

Judul Buku: The Hole; Penulis: Pyun Hye-Young; Penerjemah: Dwita Rizki; Penerbit: Baca, 2018; Tebal: 241 Halaman

Salah satu kekuatan dari sebuah cerita yang baik adalah kemampuannya untuk membawa pembaca ikut tergerak dengan alur serta gagasan yang digunakan pengarang. Pada saat itu juga, pembaca akan digerakkan dengan harapan mendapatkan berbagai jawaban dari kemungkinan yang sebelumnya dilemparkan oleh pengarang. Pyun Hye-Young sebagai salah seorang penulis asal Korea Selatan mencoba memberikan kita ruang untuk melihat kekuatan ceritanya melalui tokoh utamanya yang bernama Oh Gi.

Hal menarik dari novel Pyun Hye-Young ini juga terlihat dari usahanya untuk memperlihatkan sisi kelam manusia atas takdir yang menimpanya. Kita akan memasuki labirin pikiran dari tokoh utama yang dihadirkan pengarang. Sosok Oh Gi menjadi kekuatan dari cerita yang dituliskan oleh Pyun Hye-Young dalam The Hole. Dengan menempatkan tokoh utama terlunta di atas ranjang dengan kemampuan yang serba terbatas, cerita ini kemudian hidup dengan berbagai ketegangan.

Setelah Oh Gi dipindahkan ke rumah dan mertuanya menjadi satu-satunya orang yang mengurusinya, situasi kemudian terasa mencekam. Setelah ditinggal mati istrinya dalam sebuah kecelakaan, Oh-Gi mesti menjalani kehidupan yang getir dengan beberapa pertanyaan yang tersisa di kepala. Namun semua itu nihil.

Latar belakang keluarga Oh-Gi seakan menambah suram cerita hidup dan proses yang dilalui tokoh utama. Ibunya meninggal saat Oh-Gi masih berusia 10 tahun. Setelah dianggap sinting dan mati bunuh diri dengan obat-obatan yang overdosis. Ayahnya sendiri meninggal tiga tahun sebelum Oh-Gi menikah. Puncak kemalangan dari Oh-Gi ada pada kenyataan bahwa dia harus menerima kematian istrinya setelah kecelakaan parah menimpa mereka berdua. Kecelakaan itu memberikan efek besar pada kondisi Oh Gi baik fisik maupun psikis.

Ada juga orang-orang yang seakan takut kepada Oh-Gi. Pasangan kekasih akan mendadak berpegangan tangan, dan orang yang sedang berbincang akan berhenti bicara, menunggu ranjang pasien Oh-Gi lewat. Sepertinya mereka yakin dapat melindungi diri sendiri dengan aman dari kecelakaan atau malapetaka dengan menghindari Oh Gi. Mungkin mereka punya alasan lain, mungkin hanya karena wajah buruk rupa Oh Gi.

Kita pun akan dibawa memasuki dunia yang penuh dengan kewaspadaan setelah Oh Gi pindah ke rumah dan hubungan bersama mertuanya pun dimulai. Keberadaan mertua Oh Gi tidak langsung membawa kondisinya menjadi terasa lebih baik. Yang terjadi malah sebaliknya. Betapa Oh Gi dibuat khawatir dengan sikap mertuanya yang sulit ditebak. Mertua Oh Gi bahkan terlihat tampak seperti bayangan istrinya sendiri.

Terlebih lagi pakaian istrinya dikenakan oleh mertuanya, membuat kesan itu terasa semakin nyata bagi Oh Gi. Belum lagi kemampuan untuk berkomunikasi yang kurang membuatnya sulit menyampaikan sesuatu. Walhasil, percakapan serta pemaknaan dari mertua Oh Gi sendiri seringkali keliru dan tak sesuai dengan yang diharapkan.

Di titik ini juga, novel ini menyimpan kekuatan untuk membangun imaji yang sunyi dalam tokoh utamanya. Imaji itu digerakkan dengan berbagai rasa cemas yang terbersit dalam batin Oh Gi. Ada banyak hal yang Oh Gi coba raih dan sampaikan, namun semua itu dibatasi oleh keadaannya yang begitu terpuruk. Tergambar juga sebentuk usaha untuk berjuang melawan kondisinya, tetapi usaha tersebut begitu dekat dengan rasa putus asa dan kekalahan yang nyata.

Bahkan ketika dokter atau teman kerja Oh-Gi datang sebentuk usaha yang dilakukannya tak mampu membuahkan hasil. Ada sebentuk muslihat tersendiri dari mertua Oh-Gi yang juga memperkuat kesan dari imaji yang dibangun atas kekalahan Oh-Gi.

Ada masa ketika mertua Oh Gi memperlakukannya sewenang-wenang tanpa peduli dengan keinginannya. Misalnya saat mertua Oh Gi mengambil wadah air seni di bawah tempat tidur kemudian membuka celana Oh Gi meskipun di saat yang bersamaan ada teman-teman Oh Gi yang berkunjung. Meskipun sempat protes dengan gerakan tangan, Oh Gi tetap tak bisa berbuat apa-apa selain menerima keterpurukannya. Setelah itu Oh Gi memejamkan mata dengan pelan, tampak seolah pasrah dengan keadaan.

Pada masa penyembuhan itu, Oh Gi sempat merasa lebih tenang saat seorang dokter bersiap merawat dan membantunya. Namun selang waktu beberapa hari dari jadwal periksa Oh Gi, tak ada kabar pasti tentang kedatangan dokter itu. Hingga mertuanya harus melaporkan sesuatu yang membuat Oh Gi tersentak kaget. "Aku tidak memberitahumu karena takut kamu kecewa. Dokter tertimpa kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas. Astaga. Aku kaget karena tidak menyangka kalau dokter juga bisa tertimpa musibah seperti itu."

Oh Gi sendiri menyimpan kecurigaan pada mertuanya. Sesuatu yang sekaligus membuatnya resah dan ketakutan. Selain merawat Oh Gi, mertuanya juga melakukan aktivitas di kebun kesayangan istrinya. Sama sekali Oh Gi tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah dan kehidupannya. Mertuanya hadir seakan membentuk kisah yang penuh dengan tanda tanya. Saat seperti itulah Oh Gi merasakan ketakutan dengan sikap mertuanya yang ganjil. Hingga mertua Oh Gi menggali sebuah lubang, lubang yang kemudian menjadi sesuatu yang meresahkan Oh Gi.

Ketidaktahuan Oh Gi juga menjadi ketidaktahuan pembaca. Sontak kita akan digiring secara tidak sengaja untuk terus membaca dan melahap rentetan peristiwa yang disajikan. Sulit untuk ditepis, bahwa novel ini sekaligus mengajarkan kita untuk tetap waspada dengan orang lain. Seperti salah satu pesan yang disampaikan John Steinbeck dalam novelnya Of Mice and Man bahwa barangkali saja di dunia yang aneh ini, kita saling menakuti satu sama lain.

Mertua Oh Gi secara tidak langsung memperlihatkan sebentuk ketidaksenangannya atas kematian Oh Gi. Di sisi lain, rasa itu tertutupi dengan kepedulian yang ganjil dan dirasakan Oh Gi saat terbaring di tempat tidur. Berbagai usaha yang dilakukan Oh Gi yang terjebak dalam situasi dan hubungan aneh bersama mertuanya, sekaligus mengingatkan kita pada Mitos Sisifus. Barangkali Oh Gi adalah gambaran lain dari Sisifus, atau seperti yang disampaikan Chairil Anwar, "Hidup hanyalah menunda kekalahan."

Wawan Kurniawan bergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan aktif meneliti di Ikatan Psikologi Sosial (IPS)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed