DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 19 April 2019, 14:03 WIB

Kolom

Pemilu 2019: Selamat, dan Kembali Bersatu

Gerry Mahendra - detikNews
Pemilu 2019: Selamat, dan Kembali Bersatu Pendukung salah satu kontestan bagi-bagi cokel pascapemilu (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Rabu, 17 April 2019 Indonesia mencatatkan sejarah baru di mana pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) presiden --pilpres-- berbarengan dengan pemilu legislatif --pileg. Bahkan, pemilu kali ini disebut-sebut sebagai pemilu terbesar yang pernah diselenggarakan di dunia jika merujuk pada kuantitas surat suara yang harus dicoblos dan juga berkaitan dengan jumlah pemilih terdaftar yang mencapai lebih dari 190 juta daftar pemilih tetap.

Tercatat lebih dari 245 ribu kandidat memperebutkan lebih dari 20 ribu kursi legislatif, dengan pemungutan digelar di sebanyak lebih dari 800 ribu tempat pemungutan suara (TPS) dan melibatkan 6 juta petugas TPS.

Pilpres dan Pileg 2019 secara umum sudah tunai dilaksanakan dengan relatif aman dan lancar. Lepas dari pukul 15.00 WIB, akhirnya apa yang dinanti oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dapat ditampilkan. Berbagai televisi nasional dan platform media sosial berlomba-lomba untuk menayangkan hasil hitung cepat Pilpres 2019. Berbagai lembaga survei politik mulai dari Indikator, Voxpol Centre, Litbang Kompas, Charta Politika, SMRC, dan lembaga survei lainnya kompak menyebutkan hasil pada rentang persentase 55% untuk Jokowi-Maruf Amin dan 45% untuk Prabowo-Sandi.

Saya, kita, dan masyarakat Indonesia sudah seharusnya untuk tetap menahan diri untuk menunggu hasil penghitungan resmi dari KPU. Namun setidaknya, kita perlu merenungkan kembali terkait apa yang sudah berlangsung selama masa kampanye dan terlebih kita harus mengucapkan selamat yang luar biasa kepada kedua pasangan calon presiden yang mampu bersama-sama menjaga situasi politik di Indonesia hingga saat pelaksanaan pilpres berlangsung. Semoga situasi kondusif ini akan tetap terjaga sampai proses penghitungan suara resmi oleh KPU selesai dan dinyatakan sah.

Meskipun di balik "adem ayem"-nya penyelenggaraan Pemilu 2019 tetap terdapat berbagai dugaan laporan kecurangan yang dilakukan oleh masing-masing pihak, namun hal ini jangan sampai dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan upaya dan tindakan memecah belah bangsa. Justru sebaliknya, jika memang terdapat dugaan kecurangan yang terjadi di berbagai wilayah, sudah selayaknya tim masing-masing pasangan calon menghimpun data, dokumentasi, dan laporan yang kemudian dapat diproses oleh pihak yang berwenang. Hal ini tentu jauh lebih baik dan elegan jika dibandingkan dengan melakukan upaya-upaya yang berorientasi pada disintegrasi bangsa.

Energi seluruh elemen bangsa Indonesia sudah banyak habis terkuras semenjak persiapan pemilu ini berlangsung. Saling hujat di media sosial, saling lapor kecurangan, saling klaim dukungan, hingga upaya saling menyebar informasi hoax hampir setiap saat menghiasi hari-hari masyarakat Indonesia melalui siaran televisi, media sosial, dan smartphone. Sudah saatnya kita kembali bersatu.

Pemilu 2019 telah usai. Kita serahkan hasil penghitungannya kepada lembaga yang memang ditugaskan untuk melaksanakan tugas tersebut. Di luar itu, kita tetap merupakan saudara sebangsa setanah air yang hubungan sosialnya tidak hanya sampai pada pilpres saja. Hubungan sosial masyarakat Indonesia harus tetap terjalin hari ini, minggu depan, tahun depan, hingga pada masa yang akan datang. Perbedaan pilihan dalam Pilpres 2019 jangan kemudian dijadikan alasan pembenaran untuk memusuhi sesama.

Pasca Pilpres 2019, ada harapan besar dikotomi label "cebong" yang disematkan pada pendukung pasangan 01 dan label "kampret" yang disematkan pada pendukung pasangan 02 dihapuskan. Bertahun-tahun label tersebut melekat dan menjadi sumber perpecahan yang selama ini terjadi di Indonesia. Tantangan Indonesia di masa depan semakin berat. Revolusi Industri 4.0, kecerdasan buatan, dan arus globalisasi yang semakin masif menuntut kesiapan seluruh elemen masyarakat yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Siapapun nanti yang ditetapkan oleh KPU sebagai pemenang dalam gelaran Pilpres 2019, ada amanah dan tanggung jawab besar dan berat yang disematkan pada pundak presiden dan wakil presiden agar mampu membawa Indonesia terbang tinggi menuju tujuan dan cita-cita UUD 1945. Hal tersebut akan lebih mudah dicapai apabila dikotomi-dikotomi yang selama ini melekat dalam kehidupan sehari-hari para pendukung fanatik dapat dihapuskan.

Hal-hal tersebut di atas bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan, dengan catatan bahwa kita semua mampu memutus rantai permusuhan dan perselisihan demi menjaga dan mewujudkan cita-cita mulia bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan berdaulat penuh.

Gerry Mahendra dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed