DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 Maret 2019, 15:40 WIB

Kolom

Nasi, Kentang, dan Orang Lain

Fransiskus Gregorius Nyaming - detikNews
Nasi, Kentang, dan Orang Lain Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Sebagai seorang asing yang tinggal di luar negeri, salah satu dokumen yang harus dimiliki ialah asuransi kesehatan. Suatu kali saya pergi ke kantor asuransi untuk membelinya. Saya dilayani oleh seorang ibu yang sudah cukup berumur, yang dengan ramah melayani saya. Sambil mengisi data-data yang diperlukan, kami pun terlibat dalam percakapan meski beberapa pertanyaan yang dia ajukan tidak bisa saya tangkap karena dalam bahasa Polandia. Pembicaraan kami pun sampai pada soal makanan.

Si ibu itu dengan riang mengatakan bahwa kentang merupakan salah satu makanan kesukaannya. Saya pun mengiyakannya sambil mengatakan bahwa saya juga suka makan kentang meskipun tidak setiap hari. Namun, ketika saya mengatakan bahwa makanan kesukaan dan utama saya ialah nasi, si ibu langsung menunjukkan reaksi yang sedikit kurang simpatik. Saya pun hanya tersenyum karena menyadari kentang dan roti adalah makanan utama mereka, bukan nasi.

Sedikit pun saya tidak merasa tersinggung. Setiap suku bangsa memiliki keunikannya masing-masing. Lidah kita memang sama bentuknya, tapi soal makanan lidah kita juga tergantung pada suku atau lingkungan tempat kita hidup dan dibesarkan. Saya berasal dari Kalimantan Barat. Ada salah satu makanan khas di bumi Kalimantan, yakni tempoyak (makanan yang terbuat dari durian yang sudah matang, yang mengeluarkan aroma yang cukup menyengat). Saya menyukai makanan ini. Apalagi kalau masak ikan asam pedas lalu dicampur dengan tempoyak, maka akan menimbulkan aroma dan rasa tersendiri, yang tentu saja bagi sebagian orang akan menggugah selera makan.

Saya mengatakan bagi sebagian orang, karena tentu saja tidak semua orang menyukai makanan ini. Sekalipun bagi saya tempoyak itu sangat nikmat, saya tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Kembali ke percakapan saya dengan ibu di atas. Bagi saya, percakapan tersebut bukan hanya soal makanan semata. Bukan hanya sebatas soal nasi dan kentang. Lebih dari itu, persoalan ini menyangkut pola pikir dan pola sikap terhadap orang lain. Untuk hendak mengatakan sebuah cara pandang yang menjadikan budaya, pola pikir, agama kelompok atau golongan sendiri sebagai tolak ukur dalam memandang orang lain.

Saya membayangkan seandainya semua orang punya cara berpikir seperti si ibu tersebut (meski di mata saya ibu tersebut tidak bermaksud merendahkan) betapa dunia kita akan selalu berada dalam ketegangan. Kita akan selalu bersitegang memperdebatkan pola pikir atau pola sikap mana yang paling benar. Sebagai hasil, kalau salah satu pihak sudah menganggap diri sebagai yang paling benar, lalu memandang rendah pihak lain, maka konflik pun sering tak dapat dihindarkan. Gesekan ini akan selalu membawa korban karena pihak yang merasa diri paling benar akan memandang pihak lain yang berbeda dengannya sebagai musuh atau lawan. Karena itu, sah-sah saja untuk dimusnahkan.

Pelajaran dari Thailand

Negeri Gajah Putih Thailand juga diwarnai keragaman suku, bahasa, dan agama. Namun, ada satu peristiwa menarik yang terjadi di negeri ini yang telah menyita perhatian dunia. Pada Juni 2018 bertepatan dengan keriuhan Piala Dunia di Rusia, peristiwa tersebut terjadi di sebuah gua yang bernama Tham Luang, Provinsi Chiang Rai. Di dalam gua tersebut terjebak sekelompok remaja klub sepakbola bersama pelatih mereka.

Kabar tersebut seketika saja menggerakkan hati banyak orang untuk turut membantu mereka keluar dari gua tersebut. Bahkan seorang dokter asal Australia yang memiliki keahlian cave-diving, Dr. Richard Harris, membatalkan liburannya di Thailand ketika mendengar kabar ada 13 orang terjebak dalam gua Tham Luang. Ia datang menawarkan diri untuk membantu. Akhirnya, berkat bantuan dan kerja sama berbagai pihak, setelah selama 17 hari terjebak di dalam gua, ketiga belas remaja tersebut dapat dikeluarkan dengan selamat.

Apa yang menggugah nurani ialah kekompakan dan kerja sama yang tinggi di antara para warga. Mereka menunjukkan semangat solidaritas yang tinggi demi keselamatan para remaja tersebut, yang tentu saja mereka pandang sebagai anak sendiri. Seorang ibu mendapat kiriman foto dari temannya seragam tim penyelamat yang sangat kotor dan tidak dicuci selama berhari-hari. Ia pun dengan suka rela mengumpulkan seragam-seragam tersebut, membawa pulang dan mencucinya. Bersama rekan-rekan yang lain, ia hampir bekerja semalaman mengingat seragam itu harus dikembalikan esok paginya untuk digunakan tim penyelamat.

Salah seorang relawan mengatakan bahwa ia tidak bisa terjun secara langsung ke dalam gua untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Mencuci seragam tim penyelamat merupakan satu-satunya cara yang dapat ia lakukan dengan keyakinan bahwa misi penyelamatan itu akan berhasil. Ada lagi seorang bapak, yang salah satu dari anak-anak yang terjebak di dalam gua merupakan rekan klub sepedanya, dengan suka rela menyediakan layanan antar-jemput dengan sepeda motornya bagi mereka yang menuju maupun pulang dari gua. Penampakan yang juga sangat menyentuh hati ialah kehadiran para relawan Muslim.

Mengetahui bahwa ada beberapa tim penyelamat yang beragama Muslim, beberapa ibu dengan suka rela menyiapkan masakan khusus (masakan halal) bagi mereka. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk berbagi kebaikan. Hal itu ditunjukkan oleh ibu-ibu tersebut yang juga menyiapkan masakan untuk tim penyelamat yang non-Muslim. Begitulah, perbedaan suku dan agama bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk solider dengan sesama yang mengalami penderitaan.

Rumah Keberagaman

Mari kita mengarahkan pandangan ke negeri kita tercinta, Indonesia. Bangsa Indonesia adalah rumah bagi keragaman. Keragaman suku, bahasa, budaya, agama ibarat sebuah panggung megah di mana mata kita menjadi begitu berseri-seri ketika memandangnya. Semua itu adalah anugerah dari Tuhan yang patut kita rawat dan syukuri. Salah satu bait dalam lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, akan selalu menjadi pengingat bagi kita untuk bangga dan cinta akan negeri yang indah ini: Walaupun banyak negeri kujalani/ Yang masyhur permai dikata orang/ Tetapi kampung dan rumahku/ Di sanalah kurasa senang/ Tanahku tak kulupakan/ Engkau kubanggakan.

Sebagai orang yang tinggal di negeri asing, kerinduan akan tanah air semakin mendalam ketika mendengar lagu yang indah ini. Rasa bangga akan tanah air tercinta pun kian menguat ketika orang asing mengenal Indonesia dengan segala ciri khasnya. Suatu kali di kampus diadakan sebuah pertemuan khusus dalam rangka mengenang mendiang Paus Yohanes Paulus II sebagai pelindung kampus. Salah satu tamu yang diundang ialah Kardinal Stanislaw Dziwisz, mantan sekretaris pribadi Paus Yohanes Paulus II hampir selama 40 tahun. Kebetulan saya ada menyimpan sebuah buku yang ditulis oleh beliau.

Setelah selesai pertemuan, saya pun berusaha menjumpai beliau agar berkenan membubuhkan tanda tangannya pada buku tersebut. Tanda tangan beliau pun tersemat dengan indah. Namun, hal yang membuat saya kaget sekaligus bangga ialah saat dia tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, sambil tersenyum beliau hanya mengucapkan satu kata, "Pancasila". Sebuah kebanggaan tersendiri ketika sesuatu yang menjadi identitas bangsa sendiri dikenal oleh orang asing.

Rasa bangga tersebut, sayangnya, muncul beriringan dengan rasa sedih karena teringat akan maraknya konflik yang terjadi di tanah air akibat belum bisa menerima perbedaan satu sama lain. Bila orang asing saja tahu menghargai identitas bangsa kita, mengapa kita sesama anak bangsa begitu sulit untuk hidup sebagai saudara? Perbedaan merupakan realitas yang tak dapat kita sangkal. Karena itu, perbedaan sekali lagi patut kita syukuri, kita banggakan dan kita pelihara.

Pertanyaan yang lebih penting kemudian ialah bukan tentang mengapa kita berbeda, melainkan tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut.Pertanyaan 'bagaimana' menyiratkan sebuah panggilan kepada semua pihak untuk terlibat secara penuh dalam merawat perbedaan. Konflik terjadi karena masing-masing pihak mengklaim kebenaran sebagai milik pribadi atau golongannya sendiri. Kalaupun mereka mengakui adanya kebenaran di pihak lain, pengakuan tersebut hanya sebatas sebagai sebuah pengakuan tanpa ada niat memahami dan berdialog dengan mereka yang berbeda.

Bahaya dari sikap demikian ialah kebenaran bisa berubah menjadi ideologi. Paul F. Knitter dalam bukunya Pengantar Teologi Agama-Agama menulis, "Kebenaran menjadi ideologi kalau kelompok atau masyarakat atau agama mengejar, memperkokoh dan memberitakan sesuatu sebagai yang benar bukan hanya karena mereka yakini demikian, tetapi karena --sadar atau tidak-- kebenaran itu memperkokoh kekuasaan mereka atas yang lain." Ideologi, menurutnya, seperti napas yang bau. Kita memerlukan seseorang untuk mengatakannya kepada kita.

Agar kebenaran yang kita yakini tidak menjadi alat untuk menguasai dan menindas orang lain, maka pentinglah bagi kita untuk mau membuka diri. Dengan kata lain, kita mau memahami kebenaran yang terdapat dalam diri orang lain. Paul F. Knitter juga menegaskan bahwa untuk memahami kebenaran, kita harus berkomunikasi dengan sesama; itu berarti berbicara dengan dan mendengarkan mereka yang sama sekali berbeda dengan kita.

Karena itu, dalam konteks bangsa kita yang plural ini tak ada jalan lain selain belajar memahami orang lain, berbicara dengan mereka serta mendengarkan pergulatan mereka dalam menjalani hidup. Segala hal baik yang kita dengar dari orang lain tidak hanya akan menambah wawasan kita, tapi juga sedikit banyak dapat mempertebal keimanan kita. Bila semua pihak sudah mampu sampai pada taraf ini, maka sekat-sekat yang ada tidak lagi akan menjadi penghalang dalam menciptakan kebaikan bersama (bonum commune) serta dalam berbela rasa dengan sesama meskipun berbeda.

Fransiskus Gregorius Nyaming mahasiswa Universitas Katolik Yohanes Paulus II, Lublin


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed