DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 Maret 2019, 13:10 WIB

Kolom

Ruang Baru (Anti) Demokrasi

Saiful Umam - detikNews
Ruang Baru (Anti) Demokrasi
Jakarta -

Perkembangan teknologi informasi dari tiga dekade yang lalu hingga hari ini telah memberikan optimisme baru dan telah memberikan berbagai kemudahan dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk kehidupan berdemokrasi. Teknologi informasi yang berkembang saat ini diharapkan menjadi kekuatan baru dalam menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik serta menjadi ruang publik (public space) yang ideal dalam kerangka demokratisasi.

Perkembangan teknologi informasi, khususnya dunia cyber-technology memberikan ruang baru bagi kehidupan demokrasi bangsa. Optimisme tercipta di masa sekarang, di mana masyarakat mampu mengakses dengan mudah dan juga mampu menciptakan komunikasi global yang di dalamnya dapat bertemu berbagai pihak untuk saling berkomunikasi satu dengan yang lain secara bebas, khususnya pihak pemerintah dan warga sipil.

Internet hadir mengoyak beragam tatanan kehidupan masyarakat, termasuk media baik secara jurnalistik maupun bisnis. Kita tiba-tiba dihadapkan pada pertumbuhan pengguna internet dan perkembangan konten yang demikian masif, bahkan konten bohong (hoax) seolah tak terbendung di era digital saat ini. Maraknya kasus-kasus penistaan serta ujaran kebencian dan fitnah yang berkembang semakin menambah cerita panjang tentang dampak negatif cyber technology bagi para pengguna media sosial dan ruang publik yang tanpa batas, hingga akhirnya mengarah pada pelanggaran UU ITE.

Cyber technology juga menambah deretan panjang masalah yang menyangkut dengan penyebaran ideologi, di mana banyak ditemukan laman-laman internet yang menyebarkan ideologi yang cenderung radikal. Dengan begitu euforia kebebasan berekspresi di dunia digital dihadapkan pada ketegangan antara hak asasi mengemukakan pendapat di satu pihak dan faktor keamanan serta kriminalisasi tuduhan pencemaran nama baik di pihak lain, atau problem lain yang menyangkut pelanggaran hukum berbasis internet atau melalui internet.

Industri media sontak juga dihadapkan pada masalah transformasi digital. Pertumbuhan pengguna internet berimplikasi pada penurunan pembaca media cetak dan bergesernya aras bisnis ke dunia maya. Tetapi, dengan adanya perkembangan cyber technology pemerintah dengan mudah dapat mengkomunikasikan serta mensosialisasikan berbagai wacana kebijakan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Dalam wacana kebijakan politik, muncul optimisme akan peran besar teknologi internet sebagai kekuatan baru yang mampu menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat sipil di dalamnya.

Internet dianggap sebagai ruang yang mampu menyalurkan komunikasi yang berjangkauan luas, yang diharapkan dapat menjadi ruang publik yang ideal --public cyberspace. Tetapi, saat ini public cyberspace sebagai "ruang" berlangsungnya komunikasi global menimbulkan berbagai kontroversi, khususnya menyangkut nilai-nilai etika, moral, dan politik praktis yang menimbulkan ruang anti-demokrasi.

Saat ini sedang berkembang, di mana public cyberspace digunakan sebagai ruang dan alat untuk menguatkan dan mengkampanyekan visi-misi politik, politik adu domba, serta ruang untuk mengkritisi pemerintahan. Salah satu yang sedang menjadi tren di dalamnya adalah menyebarkan hashtag-hashtag yang berlawanan seperti 2019GantiPresiden dan 2019TetapJokowi.

Cyberspace memang mampu menjadi ruang yang menjanjikan untuk menciptakan "kekuatan alternatif" yang sangat dahsyat karena ia dapat memberikan pengaruh pada masyarakat dalam skala nasional maupun global. Tetapi ada berbagai persoalan mendasar di balik kekuatan besar ini, khususnya persoalan yang menyangkut aturan main (rule) dan etika.

Cyberspace memang dapat menjadi "kekuatan komunikasi" yang luar biasa. Tetapi, kekuatan komunikasi untuk siapa? Dalam hal ini ada beberapa pandangan mengenai aspek politik cyberspace. Ada yang melihat cyberspace sebagai "ruang" yang tak lebih dari tempat institusi (seperti negara) memata-matai masyarakatnya. Ada yang melihat sebagai perpanjangan tangan dari kapitalisme lewat proses komodifikasi ruang publik. Ada yang melihat sebagai ruang pembebasan dari tirani negara. Ada yang melihat sebagai arena promosi, ruang adu domba, tempat untuk menjatuhkan lawan dan mengkampanyekan kawan. Ada yang melihat sebagai kekuatan baru civil society yang luar biasa.

Tetapi, terlepas dari pandangan politik di atas, yang sangat jelas cyberspace telah menjelajah ke dalam batas terjauh "ruang sosial", memasuki sudut-sudut terpencil dari "ruang jiwa", mengembara ke dalam sisi terdalam dari "ruang mental", sehingga dalam keadaan tertentu ia telah menyusutkan sebagian dari ruang publik. Sekaligus, mengubah gaya dan pola hidup manusia saat ini, dan yang paling baru adalah cyberspace telah menciptakan ruang anti-demokrasi baru dalam sistem pemerintahan demokrasi.

Perlu diingat, meskipun cyberspace dapat menjadi "ruang publik global" (global public sphere), kompleksitas yang muncul dari ruang tersebut berakibat pada munculnya berbagai problematika sosial, kultural, dan moral khususnya mengenai persoalan tapal-tapal batas bagi "kebebasan berekspresi" yang di dalamnya cenderung mengarah pada "kebebasan ekstrem" dan "anarki".

Menurut Howard Rheingold dalam bukunya Virtual Community: Finding Connection in a Computerized World, satu-satunya cara untuk menghindari "kebebasan mutlak" dan "anarki" dalam cyberspace adalah dengan mengembangkan norma-norma, yang dapat memberikan masyarakat ide yang jelas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalamnya. Tetapi, pertanyaan mendasarnya: dapatkah diciptakan "norma global" tersebut di dalam kompleksitas kepentingan, ideologi, budaya, dan kepercayaan dari berbagai lapisan masyarakat yang telah melewati batas-batas jangkauan budaya manusia itu sendiri?

Dalam hal ini, perlu kiranya kita untuk bersikap moderat dalam menanggapi perkembangan cyberspace. Mengambil sikap yang bijak untuk mengakomodasi berbagai paradoks dan kontradiksi yang terjadi di dalamnya. Marilah kita mengambil sisi-sisi yang baik dari teknologi sebagai sebuah penemuan yang berharga untuk perubahan zaman, tetapi menolak dan memfilter berbagai sisi gelap dari perkembangan teknologi tersebut baik dalam bentuk "ideologi", "visi", "politik adu domba" serta mungkin saja dalam bentuk "spiritualitas semu" di balik dunia cyberspace.

Saiful Umam mahasiswa Magister Kebijakan Publik, Universitas Airlangga, Surabaya


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed