DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 07 Maret 2019, 12:05 WIB

Kolom

Nyepi 4.0

Ardiansyah Bagus Suryanto - detikNews
Nyepi 4.0 Suasana Nyepi di Bali (Foto: Aditya Mardiastuti)
Jakarta - Landasan dari keterhubungan manusia adalah adanya harapan. Harapan tersebut bergerak ke segala arah dan tak teratur. Maka agar harapan tersebut tercapai dan tidak saling berseberangan, perlu aturan-aturan yang mengatur jalannya harapan. Tidak jarang adanya aturan-aturan tersebut membuat manusia menahan diri sejenak. Dalam sejarah perkembangan manusia, banyak tertulis manusia-manusia yang bersusah payah menahan diri dengan caranya masing-masing.

Sidharta Gautama menenangkan diri dengan nyepi di bawah pohon Bodhi. Maria mengasingkan diri nyepi dari keramaian manusia ke Baitul Maqdis, Nabi Muhammad SAW ber-uzlah, nyepi di Goa Hira' dan Ibnu Hajar al-Asqalani menahan diri dengan merenungkan tetesan air dalam kesepian. Beruntung siapa saja yang meluangkan waktu untuk nyepi seperti orang-orang terdahulu. Mengasingkan diri melakukan Catur Brata Penyepian: amati geni, amati lelanguan, amati pakaryan, dan amati lelungan.

Nyepi ibarat spasi di antara barisan kata dalam kalimat. Nyepi adalah puasa, menahan diri sejenak untuk meraih kepuasan. Nyepi adalah jalan keluar untuk melangkah lebih jauh memaknai kehidupan. Bukan sebuah kebetulan kata puasa berdekatan dengan kata puas, alam seakan memberikan isyarat bahwa dengan puasalah kepuasan itu dapat dirasakan. Orang-orang terdahulu berhasil memperoleh pencerahan setelah melakukan nyepi, menaklukkan dua kekuatan besar yang menguasai manusia.

Dua kekuatan besar itu menurut Al-Ghazali disimbolkan dengan anjing dan babi. Anjing sebagai simbol manusia yang gandrung akan kekuasaan, pengaruh atau agresi, sedangkan babi sebagai simbol perut yang seringkali rakus dan tak pernah puas dengan apa yang ada.

Dua kekuatan besar di era Revolusi Industri 4.0 ini menjelma menjadi cebong dan kampret. Cebong sebagai simbol manusia yang memposisikan pemilu sebagai upaya memperpanjang jalan tol, dan kampret sebagai simbol manusia yang memposisikan pemilu sebagai Perang Badar. Mungkinkah untuk tidak memilih golput tanpa menjadi cebong atau kampret? Realitanya, ketika seseorang bercerita tentang pemandangan indah sepanjang tol akan dianggap dalam barisan cebong, sedangkan ketika seseorang bercerita tentang anggaran penelitian dan pengembangan yang sangat memprihatinkan akan dianggap sebagai barisan kampret.

Amati Geni

Mengendalikan api kebencian yang bisa membakar persatuan dan kesatuan. Pemilu bukan tentang kalah atau menang, pemilu juga bukan siapa yang terbaik atau siapa lebih baik dari siapa melainkan tentang musyawarah mufakat. Digitalisasi teknologi bukan untuk siapa menyindir siapa, melainkan fokus pada kelebihan diri dengan menyimpan kekurangan yang lain. Jika tak bisa berkomentar dengan baik, maka lebih baik untuk nyepi dari keramaian informasi yang bertebaran di jagat dunia maya.

Amati Lelanguan

Mengendalikan diri dari perdebatan yang berujung konfrontasi. Nyepi dari lalu lintas penafsiran sepihak atau pen-tasrif-an tanpa pedoman. Berusaha untuk tidak membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa orang lain pembohong. Setiap manusia dalam proses pembelajaran yang tidak ada habisnya. Kekafiran diri sendiri seringkali tidak terasa, namun memaafkan orang lain dengan membiasakan diri bertutur dan senyum teratur membuat hidup terasa lebih indah.

Amati Pakaryan

Bersikap adil terhadap diri sendiri dan orang lain secara seimbang. Membangun moderasi sejak dalam pikiran sebagai modal awal untuk tidak berlebihan dalam mengumpat atau menyanjung, bekerja atau berlibur dan mencari atau menjadi. Mencari sebagai upaya mengeksplorasi kemampuan dan kemauan untuk berbuat yang terbaik, sementara menjadi sebagai upaya untuk berpikir, merenungi, merencanakan dan menjadikan setiap apa yang terjadi adalah yang terbaik. Sampai kapan manusia terus berlari untuk mencari, sudah waktunya untuk menjadi dan setelah itu akan dicari.

Amati Lelungan

Apa yang telah pergi tidak akan kembali. Pergi bukan sekadar perpindahan tanpa arti, melainkan menyucikan hati menjadi berarti. Tidak semua yang pergi ditandai dengan perpindahan yang berarti, maka berhenti untuk memaknai arti kata suci lebih terpatri. Diam tanpa henti dalam suatu detik yang terus berlari mengejar mentari esok hari.

Agama adalah jalan, bukan tujuan. Jalannya orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Memperoleh pencerahan dari Sang Maha Kuasa, sehingga menjadi manusia paripurna. Memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang taat dalam menjalankan dharma dan senantiasa mengingatkan jiwa-jiwa yang masih terpenjara dalam dunia. Tidak ada jalan selain kemanusiaan, saling tolong-menolong dan menebarkan kasih kepada sesama.

Setiap kehidupan pasti akan berakhir, tidak ada jalan lain selain kasih Tuhan. Mengandalkan kemampuan diri tanpa berharap kepada Sang Maha Kuasa adalah fondasi kesombongan. Nyepi sebagai jalan untuk merawat kemampuan diri dengan untaian mantra-mantra.

Selamat Hari Raya Nyepi!

Ardiansyah Bagus Suryanto editor Journal of Islamic Education UIN Sunan Ampel


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed