DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 Februari 2019, 16:10 WIB

Kolom Kalis

Politik Milenial Salah Sasaran

Kalis Mardiasih - detikNews
Politik Milenial Salah Sasaran Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Peristiwanya terjadi di Yogyakarta. Saya sedang bersama anak-anak usia awal 20-an dalam sebuah pelatihan design thinking. Begitulah, nasib anak muda di era digital. Kalau nggak "ngonten", nggak eksis. Pelatihan dimaksudkan agar konten media digital yang diproduksi berasal dari empati yang jelas dan tujuan yang tepat sasaran. Bahasa definisinya, sesuai kebutuhan anak muda. Walk on millenials' shoes. Ah ya, milenial. Kita akan membicarakan fakta sosial ini nanti.

Lalu, dimulailah diskusi itu. Bidang permasalahan yang mesti dibicarakan dalam kelompok kecil kami adalah politik. Meski baru 27 tahun, selisih angka 7 tahunan antara saya dengan rekan-rekan diskusi dalam kelompok ini ternyata tampak betul. Zaman dulu, ciri khas satu generasi mungkin dapat bertahan dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun. Di era digital ini, satu tahun saja mungkin sudah banyak berubah. Minimal, dari tren merek ponsel pintar yang dipakai. Lebih jauh lagi, aplikasi yang tersimpan pada tiap-tiap ponsel. Lebih rinci lagi, masing-masing hobi memiliki aplikasi favoritnya. Sebut saja para tukang piknik alias traveller, mulai dari aplikasi pemesan tiket hingga aplikasi pemesan hotel pun sudah beda-beda.

Aplikasi pemesan jasa taksi dan makanan pun tergantung selera. Semua tak butuh hitungan tahun, melainkan kini, bulan depan, atau esok hari jika ada sesuatu yang jadi tren akan segera jadi produk massa. Meski kekhasannya terkadang hanya sesaat saja. Tunggu, apakah hal ini benar atau jangan-jangan asumsi yang bersifat Jakartasentris seperti kebodohan kita yang sudah-sudah sebab begitu saja nalar kritis kita dibatasi dan dibentuk oleh media?

Saya bertanya kepada Khanza, apakah ia merasa terganggu dengan orangtua yang berdebat soal capres di Facebook. Jangankan terganggu, Khanza bahkan tidak membaca tulisan pengamat segala bidang di Facebook sama sekali. Ia bertahan pada akun Facebook-nya untuk mengecek grup gamer Ragnarok. Ia bermain Twitter untuk memantau fanbase band korea. Khanza tampak sangat berdaulat dengan akun pribadinya. Ia tipe milenial yang tak sungkan untuk meng-unfollow atau memblokir seseorang yang tak ia sukai di media sosial, sekali pun itu anggota keluarganya.

"Bagaimana kalau mereka meminta penjelasan dari tindakan blokirmu itu?"

"Ya aku bilang saja aku tidak suka dengan kontenmu. Atau sederhana saja, kontenmu di media sosial tak menarik buatku."

Jangan-jangan, literasi digital memang hanya diperlukan oleh generasi tua yang "gumunan" dengan segala banjir bandang informasi. Milenial yang menganggap gawai sebagai barang yang biasa-biasa saja, sesungguhnya sangat bisa mengontrol dirinya sendiri.

Maman, anak muda Yogyakarta asli, tiba-tiba menyampaikan uneg-unegnya. Menurutnya, banyak produk beriklan dan membangun identitas dengan sok asik untuk milenial, padahal ternyata justru bikin risih.

"Ada sebuah partai yang mengklaim diri milenial, tapi manggil brosis-brosis. Mana ada milenial di Mantrijeron manggil temannya pakai brosis."

Demi mendengar pengakuan Maman itu, saya sungguh terpingkal. Tren yang sedang dialami teman-teman Maman justru tren jemaah Cak Nun. Panggung kebudayaan Maiyah yang tampak lahirnya amat tradisionalis itu justru merupakan fakta sosial yang digemari teman sebaya Maman. Ada anggapan bahwa kaum Maiyah ini tetap bisa badung, mbeling, tapi "tahu adat". Jadi, relijiusitasnya tidak terlalu syariat. Cukup paham bagaimana cara membawa diri di mana pun diri berada. Empan papan.

Partai yang dirujuk oleh Maman tersebut pekan ini jadi perbincangan kembali karena menayangkan seri iklan receh yang langsung dibintangi oleh ketua umumnya, mulai dari tebak-tebakan nama buah hingga tips bernapas dengan baik dan benar. Sebagai partai baru yang akan bersaing dengan belasan partai senior lain, partai yang 70% kadernya berusia di bawah 35 tahun ini mengujicobakan berbagai strategi untuk menjadi top of mind, khususnya di media digital. Tapi, apakah hal receh itu memang top of mind generasi milenial atau justru meremehkan daya kognitif serta daya kreatif generasi ini?

Milenial, yang menurut Pew Research Center merupakan satu kelompok generasi yang lahir antara tahun 1981-1996 atau kelompok generasi yang kini berusia 22 hingga 37 tahun itu memang sering disalahpahami. Generasi sebelumnya memitoskan milenial bagaikan makhluk asing dari luar angkasa yang perlu dipelajari struktur biologis hingga aspek mental mereka. Orang dewasa membicarakan anak muda berdasarkan asumsi, bukan realitas keseharian anak-anak muda ini yang sebetulnya biasa-biasa saja.

Sebut saja, Dudung, akan menjawab "tidak" dengan tegas untuk strategi iklan receh partai milenial itu. Dudung berasal dari pinggiran kota Ngawi. Ia adalah satu-satunya pemuda dari desanya yang melanjutkan pendidikan tinggi ke Yogyakarta. Cita-cita Dudung juga tidak jadi Youtuber atau content creator. Ia ingin pulang membangun desa. Terdengar kolosal, tapi romantik. Kepulangannya kelak bukan sebagai sesuatu yang terlalu ideologis seperti wasiat Tan Malaka untuk mendampingi masyarakat agar jadi kaum "merdika". Ia ingin pulang sesederhana untuk membuktikan bahwa seorang pemuda yang jauh-jauh disekolahkan ke UGM harus jadi contoh untuk pemuda lainnya. Mesti berbeda.

Milenial di desa Dudung miskin. Mereka tidak memperbarui story di akun Instagram beberapa jam sekali karena tak mungkin selonggar itu meluangkan anggaran untuk kuota. Sebagian besar lainnya mungkin mendengar istilah Instagram, tapi tidak tertarik membuat akun pribadi. Pemuda kawan Dudung tidak menggunakan laptop sebab memang tidak punya. Teman perempuan seangkatan Dudung, tak berbeda seperti generasi sebelumnya, sudah menggendong anak selepas SMP dan sama sekali tidak terlibat dalam dunia ekonomi digital.

Jelas sudah, soal unicorn-unicorn itu, milenial di desa Dudung jelas sama sekali tak paham.

Khanza, Maman, dan Dudung adalah kebenaran milenial yang tak Jakartasentris. Anak muda ini bahkan amat paham bahwa festivalisasi hijrah dan segala macam piranti kebudayaan pop keagamaan akhir-akhir ini adalah gejala politik ekonomi yang memanfaatkan agama sebagai komoditas. Mereka sangat berdaulat dengan diri mereka sendiri.

Ternyata, milenial bukan melulu budaya linimasa seleb Instagram yang mempopulerkan hobi nge-gym dan makanan organik mahal.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed