DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Februari 2019, 15:00 WIB

Kolom

"Propaganda Rusia" atau Propaganda Baru?

Denny Indra Sukmawan - detikNews
Propaganda Rusia atau Propaganda Baru? Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -
Belum lama ini publik dihebohkan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal "propaganda Rusia". Ketika menghadiri Deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Surabaya (2/2/19), Jokowi menyebut tim sukses salah satu kandidat melakukan propaganda Rusia dengan menyebarkan kebohongan dan hoax. Presiden juga meminta para alumni yang tergolong kaum intelektual untuk meluruskan kebohongan dan hoax ini.

Propaganda merupakan teknik paling umum dalam "peperangan politik". Jika informasi diibaratkan sebagai pelurunya, maka media ibarat senjatanya. Sejarah mencatat kebohongan sebagai peluru propaganda yang paling tajam. Sebelum istilah "propaganda Rusia" muncul, kita mengenal "propaganda Nazi-Jerman" yang berbohong soal Yahudi, atau "propaganda Amerika Serikat" yang berbohong soal Irak dan Afghanistan. Seiring revolusi informasi dan teknologi, media sosial dan internet menjadi senjata yang paling mutakhir untuk menyebarkan peluru "kebohongan".

Dalam konteks pilpres kali ini, tidak heran ketika masing-masing kandidat berikut tim suksesnya saling beradu taktik dan strategi dalam propaganda, untuk merebut hati dan pikiran rakyat yang menjadi sasarannya. Jika "propaganda Rusia" ada dan memang dilakukan, maka sebenarnya tugas meluruskan bukan sekadar urusan alumni yang "intelektual" tadi, lebih jauh merupakan urusan pemerintah dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa.

Propaganda Baru

Dalam catatan saya, literatur yang menjadi rujukan umum soal "propaganda Rusia" adalah laporan RAND Corporation pada 2016 yang berjudul The Russian "Firehose of Falsehood" Propaganda Model. Dengan mengambil contoh kasus di Eropa Timur dan Amerika Serikat, secara garis besar dalam laporan ini dijelaskan tentang empat karakteristik "propaganda Rusia". Pertama, sumber dan salurannya yang bervariasi. Kedua, penyebarannya yang cepat, berkesinambungan, dan berkelanjutan. Ketiga, tidak objektif. Keempat, tidak konsisten. Dari penjelasan ini, saya menganggap istilah "propaganda baru" lebih tepat daripada "propaganda Rusia".

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan bahwa propaganda baru semacam itu bukan tidak ada kontra-propagandanya. Ibarat satu penyakit yang selalu ada obatnya, entah rekayasa atau alami. Masalahnya, obat rekayasa untuk penyakit ini masih dalam taraf coba-coba dan tidak efektif menyembuhkan. Negara-negara lain sudah mencoba dan gagal, kita malah mengikutinya. Mulai dengan melempar balik data dan fakta sebagai "pembenar" dari kebohongan yang telah disebarkan. Atau, dengan menahan, menyangkal, atau melemahkan "isi" dari propaganda tersebut. Termasuk, dengan menyerang orang-orang yang dianggap sebagai "pelaku" propaganda. Kalaupun ada obat alami, sudah harganya mahal, rasanya pun pahit, sehingga sulit diminum.

Obat Propaganda

Pada 1979, seorang filsuf Jerman yang bernama Martin Buber pernah berkata bahwa pertarungan saat ini (Perang Dingin) bukanlah soal kapitalisme dengan komunisme, atau Barat versus Timur, melainkan pendidikan melawan propaganda. Pendidikan adalah "obat" atau kontra-propaganda yang alamiah. Pendidikan yang dimaksud berbasis literasi dan diskusi.

Pada era seperti sekarang ini, literasi saja tidak ampuh sebagai "obat" propaganda. Oleh karena selama ini tujuan literasi terbatas kepada "melek" angka dan huruf. Tidak heran sebagian keluaran pendidikan berbasis literasi adalah masyarakat "penghafal" angka dan "pengutip" kata, yang menjadi sasaran utama propaganda baru.

Diskusi saja lebih memperparah kondisi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, setiap orang dapat menyebarkan informasi yang menjadi konsumsi jutaan lainnya. Tidak heran, diskusi tanpa literasi membuat forum dan kolom-kolom komentar di internet menjadi tempat penyebaran berita-berita palsu dan informasi hoax. Kombinasi antara "masyarakat komentator" dan media malah berperan membuat kebohongan menjadi makin benar adanya.

Revolusi teknologi informasi menuntut kehadiran semacam literasi baru. Masyarakat tidak hanya dituntut untuk mampu menerjemahkan maksud dari informasi yang tersedia, tapi juga mampu memilah mana informasi yang benar dan salah, dan mendeteksi misinformasi dan disinformasi di tengah 'lautan' informasi yang tersedia. Literasi semacam ini haruslah diiringi kemampuan berpikir kritis yang dibangun dari kebiasaan diskusi. Harapannya, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi "penghafal", "pengutip", dan "komentator", melainkan "pemikir".

Membangun pendidikan berbasis literasi dan diskusi membutuhkan waktu lama. Mungkin dekade, bahkan berabad-abad. Eropa saja membutuhkan waktu berabad-abad untuk sekadar meningkatkan tingkat literasinya dan menjadi negara-negara modern seperti sekarang ini. Bagaimana dengan Indonesia?

Denny Indra Sukmawan Direktur Lingkar Studi Strategis




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed