DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 13 Januari 2019, 11:46 WIB

Jeda

Untuk Tahun-Tahun yang Telah Berlalu

Mumu Aloha - detikNews
Untuk Tahun-Tahun yang Telah Berlalu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Aku menjual buku seperti obat," kata Monsieur Perdu, 50 tahun, pria eksentrik yang menjual buku di atas kapal yang tertambat di Sungai Seine, Paris.

"Ada buku yang cocok untuk sejuta orang, ada juga yang hanya untuk seratus orang. Bahkan ada obat -maaf, buku- yang ditulis hanya untuk satu orang," lanjut dia.

Itulah penjelasan yang dia berikan kepada Max Jordan, 21 tahun, novelis yang tengah menanjak namanya setelah debut novelnya Night laris di pasaran dan mendapat banyak pujian. Namun, Perdu menolak menjual buku itu ketika seorang perempuan pengunjung toko bukunya yang unik itu hendak membelinya.

Sang novelis yang diam-diam menyaksikan adegan itu, tentu saja tersinggung. Apakah karyanya seburuk itu?

"Pengunjung tadi tidak butuh Night saat ini, dia takkan sanggup membacanya. Efek sampingnya terlalu parah," kata Perdu kalem, dengan gaya seorang dokter mendiagnosis penyakit pasien.

Max Jordan pun terheran-heran, sama seperti perempuan yang hendak membeli novelnya, ketika Perdu kemudian menegaskan, "Tidak, aku tidak mau menjual buku itu pada Anda," sambil dengan lembut diambilnya Night dari tangan perempuan itu.

Ketika Perdu menambahkan dengan bilang bahwa buku itu tak cocok untuknya, perempuan itu menyahut dengan sengit, "Aku datang ke kapal buku Anda untuk mencari buku. Bukan suami!"

Tapi, apa jawab Perdu?

"Dengan segala hormat, apa yang Anda baca lebih penting dalam jangka panjang daripada pria yang Anda nikahi."

Ketika perempuan itu makin bingung dan marah, Perdu terus meracau, "Buku menepis kebodohan, juga harapan kosong. Dan, pria-pria arogan. Buku menelanjangi Anda dengan cinta, kekuatan, dan pengetahuan. Itu cinta dari dalam."

Perdu kemudian menyodorkan buku lain, The Elegance of the Hedgehog karya novelis Prancis Muriel Barbery sambil berkata, "Tolong dibaca lambat-lambat agar Anda bisa beristirahat sesekali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri Anda sendiri. Untuk tahun-tahun yang telah berlalu. Tapi, Anda akan merasa lega setelahnya."

"Anda benar-benar sinting!" jerit perempuan itu.

***

Perdu tinggal di apartemen di Rue Montagnard 27. Suatu hari, datanglah penghuni baru bernama Catherine, seorang perempuan yang telah diperlakukan oleh suaminya dengan semena-mena, ditinggalkan, hingga tak punya apa-apa lagi selain "ilusi yang hancur". Dia perlu banyak barang, dan pengurus apartemen menyarankan agar Perdu menyumbang sesuatu kepadanya.

Tentu saja ia akan memberinya buku. Tapi, perempuan itu juga butuh meja. Dari sinilah, masa lalu Perdu kembali.

Meja yang sudah lama tak dipakainya itu, yang kemudian diberikannya kepada Catherine, ternyata menyimpan surat cinta lamanya dari perempuan yang dulu pernah hadir dalam hidupnya. Kala itu, Perdu merasa tak akan sanggup membaca surat itu hingga dimasukkannya ke laci begitu saja. Kini, berpuluh tahun kemudian, Catherine menemukannya, dan itu menjadi pintu masuk bagi kedekatan Perdu dengan perempuan itu, sekaligus mengantarkannya pada saat ketika mau tak mau ia harus membaca surat itu.

Isinya sungguh mengejutkan, dan membuat Perdu menyesal. Namun, segalanya sudah terlambat. Sang penjual buku, yang dengan penuh percaya diri menyebut toko di atas kapalnya sebagai "apotek kesusastraan" itu, yang dengan buku-bukunya telah mengobati perasaan banyak orang, kini harus menyembuhkan perasaannya sendiri.

***

Tentu saja Perdu tak sesinting yang diduga oleh perempuan yang mengunjungi tokonya tadi. Seperti tampak pada novel berjudul The Little Paris Bookshop (2013) karya Nina George, dia sesungguhnya seorang lelaki "tua" yang simpatik. Atau, barangkali di situlah kelebihan novel karya penulis Jerman itu, dan novel-novel bagus lainnya: membuat sosok yang aneh -sinting- menjadi manusia yang simpatik.

Di era ketika keterhubungan digital demikian memuja "rekomendasi", kehadiran seorang seperti Perdu sungguh penting, dan biasanya memang dicari. Orang-orang di timeline media sosial Anda selalu bertanya, bacaan apa yang bagus, serial apa yang perlu ditonton, film apa yang harus dipilih di antara sekian judul yang tengah diputar di bioskop, atau bahkan sekadar makanan apa yang perlu dicicipi ketika berkunjung ke suatu kota.

Orang begitu butuh rekomendasi orang lain, dan orang-orang tertentu seolah memang dianugerahi kemampuan sebagai sosok yang dipercaya, dan oleh karenanya diminta, rekomendasinya. Buku yang disebut dan dipuji oleh Mark Zuckerberg, atau Bill Gates, atau Oprah Winfrey, otomatis akan naik pamor hingga menjulang ke langit. Kita tak butuh lagi resensi.

Sebuah buku yang di-mention teman kita, atau sekadar difoto di sisi segelas kopi dalam tatanan yang estetis lalu diunggah ke Instagram oleh following kita, serta-merta akan langsung menggoda kita untuk membelinya. Pilihan terlalu banyak, dan sekadar mengetahui apa yang sedang dibaca orang lain memang membantu. Kita butuh bacaan bagus, film bagus, obat bagi hati dan jiwa, dan arti "bagus" adalah apa yang direkomendasikan oleh orang lain lewat berbagai cara.

Minimal, orang yang merekomendasikan sebuah buku, atau film, sudah membaca atau menonton karya tersebut. Terlepas dari penilaiannya, atau seleranya sama atau tidak dengan kita, kita hanya butuh sesuatu yang disarankan orang lain. Dalam bahasa Nina George, kita adalah para pasien dari sang "apoteker sastra". Orang lain adalah Perdu bagi kita --sang pemberi saran, masukan, rujukan, usulan, petunjuk, resep-- untuk "obat" yang kita butuhkan.

Dalam kehidupan, kita adalah orang-orang yang menderita. Kita kesepian, merasa bosan dengan pekerjaan, takut menatap masa depan...perasaan-perasaan yang tak diakui sebagai penyakit, dan tak pernah didiagnosis oleh dokter. Semua perasaan dan emosi kecil yang tak membuat ahli terapi mana pun tertarik, karena tampak terlalu sepele dan abstrak.

Perasaan gamang dan ngelangut yang menghinggapi kita setiap meninggalkan sebuah tahun, dan memasuki awal tahun yang baru. Seperti hari-hari ini.

Atau, ketika kita menyadari bahwa pada umur yang sudah "sekian" ini, kita tak kunjung benar-benar mengetahui minat kita, bakat kita, passion kita, belum menghasilkan karya apa-apa, belum mengetahui di mana kita harus menempatkan diri.

Atau, perasaan agak sedih ketika persahabatan tak berjalan sesuai harapan, ketika kisah cinta kita gagal, ketika usaha kita tak sesuai impian, rencana-rencana kita berantakan, janji-janji kita tak terpenuhi, penantian kita sia-sia, pencarian kita akan makna hidup ini tak menemukan kejelasan.

Atau, perasaan gundah pada pagi hari yang tak jelas sumbernya, kemrungsung, merasa seperti dikejar waktu, dikejar target-target dan tujuan-tujuan.

Atau, nostalgia masa kecil kita yang selalu memanggil-manggil, menghantui, dan melemparkan kita dalam perasaan asing, ingin kembali, ingin mengulangi.

Buku yang tepat, yang direkomendasikan oleh orang lain yang juga tepat --teman kita, atau mereka yang bahkan tidak kita kenal atau tak pernah kita jumpai-- akan "meredakan penderitaan yang tak dapat dijelaskan namun nyata" itu. Sebuah "obat untuk penyakit rohani yang tak dapat dijabarkan".

Dan, untuk memanggil kembali hari-hari bahagia dari tahun-tahun yang telah berlalu.

Sebab, hari ini, dan esok, hanyalah tinggal penderitaan.

Temukan apoteker-apoteker sastra di sekitarmu, di linimasamu. Mintalah rekomendasi. Datanglah ke toko buku, pergilah ke perpustakaan. Bacalah, bacalah --minum obatmu!

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed