DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 05 Desember 2018, 14:29 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

Gamers Indonesia Menyongsong SEA Games dan Asian Games 2022

Ishadi SK - detikNews
Gamers Indonesia Menyongsong SEA Games dan Asian Games 2022 Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kalau Anda melihat pengemudi Gojek istirahat di tempat teduh sambil memainkan jari-jari di layar HP-nya, atau menemukan sopir memainkan gadget-nya secara berkelompok, atau Anda sekilas memperhatikan di kafe dan tempat nongkrong beberapa anak milenial sibuk dengan HP sepulang sekolah, mereka itu semua sedang asik memainkan games. Gamers pada dasarnya adalah sebuah permainan seperti permainan sepak bola. Ada dua tim yang bertanding, masing-masing berjumlah 5 orang. Kelimanya mempunyai peran masing-masing. Posisi penyerang, posisi pengatur strategi, posisi pelindung, maupun posisi yang bisa cepat melihat taktik penyerangan lawan.

Setiap game berdurasi sepuluh sampai enam puluh menit. Targetnya adalah menghancurkan markas atau tower lawan. Berbeda dengan permainan sepak bola, dalam permainan ini lebih tepat seperti bermain perang-perangan, karena masing-masing tim bisa mengeluarkan jurus-jurus yang tak diduga oleh lawan. Terlebih lagi, dalam permainan ini dilengkapi semacam ranjau, peluru, lontaran api, halilintar yang dikenal sebagai AI --artificial intelligence, sehingga permainan menjadi sangat seru, setiap pihak yang bertanding harus waspada dalam hitungan detik. Siapa yang menang dalam pertandingan mendapat koin atau diberi kesempatan untuk membayar atau membeli GEM. Disebut juga sebagai kristal atau permata.

Permainan ini tidak menggunakan pulsa, melainkan memakai kuota internet atau WIFI. Mereka harus menggunakan tablet, laptop, PC untuk jenis pertandingan seperti DOTA 2, Paint BLANK, CSGO,FIFA. Sementara, mereka yang bermain di android jenis permainannya antara lain AOV (Arena of Valor), Mobile LEGEND, VAIN Glory, atau ONMIOJI, PUBG Mobile.

Di Asia umumnya yang paling disukai dan peminat terbanyak adalah Mobile LEGEND. Di Indonesia Mobile LEGEND setiap hari dimainkan tidak kurang oleh 12 juta pemain. Terbanyak kelompok milenial. Negara dengan gamers terbanyak di Asia adalah China, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Singapura, Filipina, dan Indonesia. Jepang memiliki sistem sendiri yang sudah diperkenalkan setelah Perang Dunia ke-2. Sejak lima tahun lalu gamers ini membentuk organisasi IESPA (Indonesian E-Sport Association). Di tingkat Asia organisasinya bernama AESF (Asia Electronic E-SPORT Federation), sedangkan tingkat dunia bernama IESF (International Esport Federation) seperti FIFA dalam sepak bola dunia.

Ketika Asian Games ke-18 di Indonesia berlangsung, IESPA sebagai organisasi sport electronic meminta kepada IOC agar E-Sport masuk dalam nomor olah raga yang dipertandingkan. Namun, pihak IOC menuntut agar IESPA membuat pertandingan exhibition terlebih dahulu sebelum bisa diakui sebagai cabang olah raga resmi seperti cabang olah raga lainnya yang sudah ada dan dipertandingkan. Terdapat 12 negara yang ikut dalam pertandingan exhibition tersebut. Dalam pertandingan exhibition, Indonesia berada pada posisi ke-3 dengan 1 medali emas, Korea Selatan di posisi ke-2 dengan 2 medali emas, dan China di posisi pertama dengan 3 medali emas.

Pada 2022 nanti, di Asian Games ke-19 di Hangzhou, China E-Sport pertama kali akan hadir secara resmi di kancah pertandingan. Sementara itu pada SEA Games 2020 di Manila, pihak IOC mengizinkan E-Sport dipertandingkan pertama kalinya di sana.

Nantinya untuk pertandingan di SEA Games Manila dan Asian Games Hangzhou, delegasi Indonesia akan dilatih dan dipersiapkan sama seperti cabang olah raga lainnya. IESPA akan melakukan seleksi, pelatihan, dan uji coba ke berbagai negara agar mendapat pemain-pemain terbaik untuk mendapatkan medali emas, perak, maupun perunggu.

E-Sport setelah exhibition Asian Games di Indonesia dinilai berhasil, membuat IESPA semakin popular dan sangat serius dibenahi. Diharapkan pada Kongres IESPA seluruh Indonesia akhir 2019 akan dipilih ketua baru yang diperkirakan akan dipegang oleh Angki Tri Jaka yang selama ini menjadi wakil ketua IESPA. Mengingat permainan ini memerlukan keterampilan dan kecerdasan yang tinggi, mereka yang kelak akan terpilih sebagai atlet pada SEA Games 2020, dan Asian Games 2022, harus direkrut dari kalangan mahasiswa kampus.

Sekarang ini ada 4 universitas yang mempunyai kurikulum dan pelatihan cabang olah raga E-Sport, yakni ITB (Institut Teknologi Bandung), ITS Surabaya, Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Multi Media Nusantara Jakarta, Universitas Binus Jakarta, dan Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta (MMTC). MMTC merupakan satu-satunya universitas yang mempunyai prodi progam studi games, desain, teknologi permainan yang dipimpin oleh Dr Hendri Kuswantoro.

Indonesia dengan jumlah golongan milenial 65 juta serta memiliki jaringan telekomunikasi yang jauh lebih berkembang, mempunyai kesempatan besar untuk menjadi juara di ajang SEA Games Manila dan Asian Games Hangzhou pada 2022. Sangat membanggakan.

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed