DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 09 November 2018, 15:09 WIB

Kolom

Wisata Berbasis Toleransi

Saiful Anwar - detikNews
Wisata Berbasis Toleransi Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Pendidikan toleransi untuk anak tidak cukup dipandang sebagai kewajiban, melainkan juga kebutuhan. Selain itu, urgensi pendidikan toleransi adalah bagian dari menu konsumsi utama dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat multikultural. Karenanya, nilai toleransi harus diajarkan kepada anak sedini mungkin.

Banyak pengamat dan pemerhati menyebut anak usia dini sebagai "The Golden Age". Pada usia ini, umur yang muda belia sangat efektif untuk menanamkan multidimensi pendidikan. Tercatat sejak usia empat tahun, seorang anak sudah membentuk 50% intelegensi, 30% lagi pada usia delapan tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan akhir dasawarsa kedua.

Upaya penanaman nilai toleransi kepada anak oleh orangtua akan membentuk karakter dan kepribadian anak. Hasil penanaman tersebut merupakan edukasi fundamental yang dapat mewarnai seluruh sifat dan gaya hidupnya sebelum dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dari teman, lingkungan, dan kondisi di mana anak berada. Semakin dewasa anak akan semakin komplek pula pengaruh yang muncul kemudian.

Maka, nilai kesadaran dan nilai-nilai kejujuran, saling menghormati, saling menghargai, setia kawan, saling memberi, dan menolong pada sesama tanpa pandang status dan warna bajunya sebagai manifestasi nilai-nilai pendidikan toleransi layak diperkokoh dan ditanamkan sejak anak usia dini. Sebab, pada usia dini anak-anak sudah menyadari perbedaan pada orang lain.

Mengenalkan Keberagaman

Orangtua adalah teladan bagi tumbuh kembang anak. Di era milenial sekarang ini, mengajarkan toleransi bisa melalui banyak hal. Salah satunya adalah melakukan wisata berbasis toleransi.

Menanamkan nilai toleransi kepada anak tidak harus mendikte (monoton). Pada usia dini, anak lebih cenderung menangkap pembelajaran dengan cara bermain. Wisata berbasis toleransi adalah upaya solutif yang tepat ditujukan untuk mengenalkan keberagamaan pada anak-anak. Program ini bisa dikemas dalam bentuk jalan-jalan damai (peace trip) dengan mengunjungi rumah ibadah agama-agama.

Pada perjalanan wisata ini bisa dijadikan orangtua sebagai momentum untuk mengajarkan anak-anak mengenali sekaligus mengalami indahnya perbedaan. Mengajarkan pada anak tentang arti kerukunan umat beragama merupakan suatu kewajiban, karena dalam kehidupan sehari-hari anak akan berinteraksi secara langsung dengan orang yang berbeda agama ataupun memiliki pendirian dan keyakinan yang berbeda.

Jika telah terpatri pada jiwa anak tentang keagamaan sekaligus memahamkan bahwa selain agama yang diyakini ada agama yang lain, maka anak tidak akan terpengaruh atau bimbang dalam menanggapi perbedaan. Anak-anak harus memahami bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan. Meski agama-agama memiliki perbedaan dalam beberapa hal, namun secara garis besar semua agama mengajarkan kebajikan, kebaikan, dan persatuan.

Sosok anak adalah masa depan bagi orangtua, agama, bangsa, dan negara. Karenanya mereka perlu dibekali dengan pengetahuan yang baik sedini mungkin. Mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan semesta alam. Harus disyukuri dan dijaga keberagamannya. Memberikan pencerahan bahwa perbedaan adalah warna yang indah.

Indonesia memiliki wahana wisata yang sarat dengan nilai-nilai toleransi. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa terdapat 239,497 masjid, gereja Kristen 60.170, gereja Katholik 11.021, vihara 2354, pura 24.837, dan 552 klenteng. Kekayaan dan keberadaan rumah ibadah umat beragama dapat dijadikan tempat tujuan rekreasi bagi orangtua untuk melakukan study tour toleransi.

Wisata toleransi bisa diawali dengan mengunjungi masjid sebagai rumah ibadah umat Islam. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal muncul masjid, siapapun boleh mengunjunginya. Di Indonesia bisa dijumpai masjid yang membuka pintunya bagi siapa saja. Baik sebagai tempat ibadah maupun tempat berwisata. Masjid Istiqlal, contohnya. Istiqlal berarti "kemerdekaan", dan kontruksinya merupakan bagian dari bukti perjuangan bangsa untuk kebebasan. Selain itu, rumah ibadah bagi ribuan muslim di Jakarta dan sekitarnya tersebut dirancang oleh arsitek Kristen. Dalam pembuatannya saja sudah dikenalkan perbedaan itu indah, apalagi ajarannya.

Selain itu, berkunjung ke gereja sebagai rumah ibadah umat Kristiani juga akan memberikan pelajaran tentang cinta. Ajaran hukum kasih, yakni kasih kepada Tuhan dan kasih sesama manusia. Maka tidak ayal tatkala kita masuk gereja pasti disambut petugas dengan ramah. Selain itu, keberadaan umat kristiani juga dikenal pemeluk yang baik di tengah masyarakat. Gereja Blenduk misalnya, yang dijadikan ikon wisata kota tua Semarang.

Vihara sebagai rumah ibadah umat Budha juga menarik untuk dikunjungi. Saya bisa rekomendasikan wisata toleransi di Vihara Watu Gong, Banyumanik, Semarang. Vihara Watu Gong dikenal sebagai tempat perwujudan kerukunan umat beragama. Ketika masuk, pengunjung akan disambut oleh kasir yang beragama Kristen dan dibantu penjagaannya oleh orang Islam. Hal ini bisa dijadikan pelajaran untuk anak bahwa perbedaan mampu menyempurnakan.

Masih banyak tempat-tempat wisata lainnya yang memiliki nilai toleransi. Dan, tentunya juga masih banyak cara yang bisa diterapkan dalam menanamkan nilai toleransi bagi anak. Jangan ada keluhan bahwa menanamkan toleransi sejak dini adalah hal yang sulit. Yakinlah bahwa menanamkan toleransi adalah hal mudah bagi orangtua yang konsisten dan sabar mendidik anak. Percayalah, anak yang pada tumbuh kembangnya tidak miliki jiwa toleransi jauh lebih sulit dan berdampak buruk di masa mendatang.

Saiful Anwar mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum UNNES & santri di School of Islamic Law Mohammad Nasih Insitute Semarang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed