DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 12 Oktober 2018, 17:10 WIB

Kolom Kalis

Pohon Pala di Jatinom dan Mimpi Literasi Santri

Kalis Mardiasih - detikNews
Pohon Pala di Jatinom dan Mimpi Literasi Santri Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pohon pala nan tinggi dan gagah tegak di halaman Pesantren Maftahul Uluum Jatinom, Blitar. Pesantren Maftahul Uluum adalah lembaga pendidikan Islam paling tua di Blitar. KH Imam Bukhori adalah seorang juru catat rapat sekaligus partisan Sarekat Islam (SI) yang militan. Kala itu, SI lebih dianggap merah daripada hijau. SI susah diajak berunding dengan kolonial, tak seperti kelompok agama, seperti Nahdlatul Ulama (NU), misalnya yang lebih militan. Meskipun begitu, tak ada yang bisa berlari dari pesona ulama zaman dahulu. Konon, KH Hasyim Asyari sempat mengiriminya surat dan ia berjanji bahwa keturunannya kelak yang akan berkiprah di NU.

Pohon pala di halaman pesantren adalah buah tangan dari Banda Neira, selepas ia diasingkan bersama kedua putranya KH Sofwan dan KH Fairunnama. Kelak, putra-putri KH Imam Bukhori betul-betul berkiprah di NU. Ia mendirikan pesantren pada 1275 H atau 1858 M. KH Sofwan, putranya, bersama KH Ridwan dan KH Muhsin mendirikan Partai Nahdlatul Ulama di Kota Blitar.

Dongeng masa lalu tak berhenti di sana. Pada geger 1965, Blitar adalah satu kota basis Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Timur. Masjid pesantren menjadi saksi kemanusiaan simpatisan PKI. Dalam kondisi terdesak, banyak pasukan PKI yang minta belajar mengaji, salat, bahkan mohon izin untuk dituntun membaca Al Fatihah dan syahadat sebelum terbunuh. Seorang anggota PKI adalah manusia biasa, tak seseram beragam tuduhan banyak dokumen sejarah yang diliputi syahwat politik.

Sudut pandang Multatuli dalam Max Havelaar yang jujur menggambarkan penindasan sistem tanam paksa di daerah Lebak, Banten adalah keajaiban kemanusiaan. Lebih banyak yang tak jujur dalam mengisahkan sebuah zaman, sejak anggapan menjadi koloni Belanda selama 350 tahun, dalang pembantaian massal pada 1965 dan lebih-lebih negara dalam rentang Orde Soeharto.

Jika sejarah ditulis oleh orang-orang biasa, orang kita sendiri, kawula alit yang tak punya kepentingan, mungkin bangsa ini tidak terlalu lama jadi korban hoax cerita dari lorong gelap masa lalu. Pohon pala yang menyanyi lirih lewat gesekan daun-daun ternyata adalah dokumen narasi dengan usia seabad lebih. Mesjid berbentuk panggung ternyata film jernih yang mendialogkan beragam kelompok dan cikal bakal sebuah identitas.

"Tugas kalian semua untuk menjadi saksi dari cerita ruangan-ruangan lain."

Para santri manggut-manggut. Tatapan mereka keburu berbinar ketika mendengar kesuksesan seorang mantan santri Gontor yang menulis novel trilogi Negeri Lima Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Novel itu telah diterjemahkan secara internasional dan telah pula difilmkan. Ada Kiai D Zawawi Imron dengan lirih alif-nya, Usman Arrumy yang senantiasa kasmaran dalam syair, hingga Raedu Basha yang bermanakib bersama Hadrah Kiai.

Tradisi literasi yang berindah-indah itu hanya mungkin dilahirkan oleh khazanah Islam santri. Keterbukaan pada bahasa, seni, musik, puisi, mengasah rasa santri jauh lebih baik dari golongan beragama dengan tembok iman yang ketakutan pada segala hal lantas mengharamkan semua daya cipta di sekitarnya.

Santri buru-buru mengingat kiprah Kiai Havidz, kiprah Gus Fahmi sang juragan gas melon, atau cerita sepasang sandal yang muram di sudut kamar asrama. Sebagian besar santri jarang percaya diri dengan serangkaian jadwal padat dan tata nilai yang mereka jalani. Di era yang semakin melaju ke arah entah, banyak santri yang merasa terkungkung di ruangan, merasa ketinggalan, merasa kurang gaul, sehingga tidak merasa penting untuk mendokumentasikan keseharian yang mereka rasai dan alami.

Padahal, literasi sesungguhnya sederhana saja. Di toko buku, seringkali kita menemukan buku-buku tebal yang ditulis oleh orang Belanda. Seri-seri buku "tempo doeloe", seperti Jawa Tempo Doeloe, Pekerdja di Jawa Tempo Doeloe, Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe seringkali hanya berupa gambar hitam putih dan sedikit keterangan pendek soal foto.

Konon, para penulis Belanda gemar mendokumentasikan apa saja. Soal jajanan pasar di Indonesia, bagaimana rasanya, bagaimana bentuknya, terbuat dari apa, awet berapa lama. Soal kebiasaan orang Indonesia, bangun pukul berapa, berapa lama rentang aktivitas domestik hingga pergi meladang di pagi hari, hingga topik obrolan sore hari di muka rumah. Dari laporan libraries.leiden.edu, koleksi Perpustakaan Leiden menyimpan 5,2 juta buku, 44.000 jurnal elektronik, dan lebih dari sejuta buku elektronik. Surga literatur itu juga menyimpan 60 ribu manuskrip kuno, 500 ribu surat, 100 ribu peta, 12 ribu gambar, dan 300 ribu foto.

Sayangnya, gelaran Islamic Book Fair yang per tahun diadakan besar-besaran di Jakarta, misalnya, tak cukup mendokumentasikan Islam Indonesia dari sudut pandang kesantrian. Sebagian besar stan diisi oleh kitab-kitab dari Arab Saudi dan Timur Tengah. Bersyukur, masih ada lini Penerbit Mizan Wacana, misalnya, yang sangat berdedikasi dan konsisten menerbitkan wacana Islam progresif, baik dari Timur maupun Barat.

Penerbit pesantren sangat sedikit tampak, jika boleh dibilang tak ada. Meski sesungguhnya, geliat literasi pesantren mulai tampak. Penerbit Pesantren Tebuireng Jombang banyak mendokumentasikan biografi dan kiprah para pendirinya. Kerja-kerja penerjemahan literatur ulama Nusantara yang banyak ditulis dalam bahasa Arab, Jawa Pegon, Sunda, serta Melayu harus dimasifkan. Tak terhingga ulama Nusantara yang kaya harta karun literasi dapat terbaca hanya jika ditulis sesuai bahasa zamannya. Kerja berat ini dapat berhasil dengan kesadaran melacak masa lalu dan masa kini, agar kontestasi keislaman tak melulu bising di wilayah adu simbol dan adu massa, namun aksesibilitas wacana keislaman untuk semua.

Para ulama penting dikenalkan sebagai karya agar tak melulu dianggap sebagai mitos dalam berbagai kisah Islamisasi wilayah Nusantara. Kebudayaan kokoh karena budaya keberaksaraan. Kebudayaan jadi rapuh ketika identitas keberaksaraan direduksi jadi desas-desus.

Dokumen literasi yang tak terselamatkan menghasilkan generasi yang gagal mengenali wajah orangtuanya sendiri.

Peringatan Hari Santri yang kini berwujud festival, semoga adalah memfestivali makna dan karya tradisi literasi kesantrian dan kepesantrenan Nusantara.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed