DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 11 Oktober 2018, 20:46 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Akhir Perlawanan Jamal Kashoggi?

Zuhairi Misrawi - detikNews
Akhir Perlawanan Jamal Kashoggi? Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Jamal Kashoggi. Sosok ini diperbincangkan di jagad raya dalam seminggu terakhir. Ia dikabarkan hilang sejak 2 Oktober lalu di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Hari itu ia sedang mengurus persyaratan administrasi pernikahannya dengan tunangannya, Hatice Cengiz, perempuan asal Turki.

Hatice Cengiz sangat terpukul hatinya. Ia menumpahkan kesedihan dan isi hatinya di The Washington Post. Cengiz menuturkan bahwa saat itu ia mendampingi kekasihnya ke kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul. Ini kali kedua ia mendatangi kantor tersebut. Sebelumnya pada 28 September, Kashoggi sudah sudah mendatangi kantor konsulat. Saat itu ia diterima dengan ramah oleh para staf konsulat dan dijanjikan akan dibantu seluruh keperluan administrasi perihal pernikahannya dengan perempuan asal Turki itu.

Karena itu, saat berkunjung kedua kalinya ke kantor konsulat, Khashoggi --dan kekasihnya-- tidak mempunyai firasat buruk apapun. Ia berpandangan bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan bagi dirinya karena kantor itu berada di bawah kekuasaan Turki. Staf konsulat tidak akan menahan dirinya, apalagi akan melakukan hal yang terburuk baginya.

Namun, di luar dugaan, sejak saat itu Kashoggi menghilang tanpa ada jejak kabar yang jelas tentang keberadaan. "Setelah 3 jam menunggu Kashoggi memasuki konsulat, saya dilanda takut dan cemas. Teman-teman saya mengabarkan bahwa Kashoggi telah keluar dari kantor konsulat. Tapi, saya yang menunggunya di luar gedung memastikan bahwa Kashoggi belum pernah keluar dari gedung," tulis Cengiz di The Washington Post.

Penuturan Cengiz ini sejalan dengan keterangan pihak Turki yang hingga saat ini belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari pihak konsulat Arab Saudi di Istanbul. Muhammad bin Salman menegaskan, Kashoggi sudah keluar kantor konsulat, tapi sampai detik ini belum ada bukti yang mendukung pernyataan putera mahkota tersebut.

Berbeda dengan penjelasan Muhammad bin Salman, pihak Turki justru menyimpulkan bahwa Kashoggi sudah tewas di dalam lingkungan konsulat, tubuhnya dipotong-potong, lalu dibawa keluar konsulat. Kesimpulan tersebut berdasarkan informasi masuknya 15 orang dari Arab Saudi dengan menumpang 2 jet pribadi. Mereka diduga mendapatkan tugas khusus untuk menghabisi nyawa Kashoggi.

Pihak Turki menantang Arab Saudi untuk membuktikan pernyataan Muhammad bin Salman bahwa Kashoggi sudah keluar dari kantor konsulat. Tapi, sampai detik ini belum ada video yang membenarkan pernyataan Muhammad bin Salman tersebut.

Saat ini Arab Saudi sedang mempertaruhkan reputasi baiknya yang dalam beberapa bulan terakhir sangat gencar mencitrakan diri sebagai harapan baru bagi moderasi Islam dan kesetaraan perempuan. Terobosan Muhammad bin Salman tersebut mendapatkan respons positif dari seluruh penjuru dunia. Pertanyaannya, kenapa dugaan Jamal Kashoggi tewas di dalam kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul menguat?

Jamal Kashoggi dalam setahun terakhir menjadi sosok yang sangat kritis terhadap kebijakan Muhammad bin Salman. Sebenarnya ia sangat dekat dengan lingkaran para pangeran dan kerajaan Arab Saudi. Ia pernah menjadi pimpinan Harian al-Wathan. Tapi, sejak Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota, ia tampil sebagai sosok yang kritis.

Kashoggi dikenal kritis terhadap kebijakan Muhammad bin Salman dalam melancarkan serangan terhadap Yaman. Kebijakan tersebut telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat luar biasa, karena banyak korban yang berjatuhan. Puncaknya, Kashoggi sangat menantang sikap Muhammad bin Salman yang menangkap pihak-pihak yang menyampaikan kritik terhadap dirinya.

Ada ribuan orang yang sudah ditangkap dan dipenjara oleh Muhammad bin Salman. Kashoggi termasuk salah satu target. Ia beruntung selamat dari penangkapan, karena berhasil eksodus ke Amerika Serikat dan menetap di sana. Pengalamannya sebagai jurnalis dan kolomnis telah mengantarkannya sebagai kolomnis di salah satu koran ternama di Amerika Serikat, The Washington Post.

Di Harian tersebut, Kashoggi menulis pandangan-pandangan kritisnya terhadap Muhammad bin Salman. Dalam salah satu kolomnya, Kashoggi menyebut kepemimpinan Muhammad bin Salman mirip Putin di Rusia. Muhammad bin Salman hanya mencintrakan dirinya sebagai pemimpin yang moderat ke dunia internasional, tapi ke dalam sangat otoriter, bahkan cenderung melakukan penangkapan yang dapat dikatagorikan sebagai pelanggaran HAM.

Sikap kritis yang ditunjukkan oleh Kashoggi terhadap Muhammad bin Salman ini dianggap sebagai pemicu kabar "hilang", bahkan "tewasnya" Kashoggi dalam seminggu terakhir. Muhammad bin Salman diduga sebagai aktor utama di balik kejadian ini.

Mungkin saja Muhammad bin Salman mempunyai rencana besar untuk membungkam, bahkan mengakhiri perlawanan Kashoggi terhadap dirinya dengan cara membunuhnya. Tapi, sepertinya langkah tersebut akan menjadi bumerang bagi Muhammad bin Salman. Pasalnya, di era yang sangat terbuka seperti sekarang ini, dunia sangat memberikan perhatian terhadap kasus yang menimpa Kashoggi.

Turki berjanji akan melakukan investigasi yang bersifat komprehensif untuk membuka seluas-luasnya tentang kondisi Kashoggi. Di sisi lain, kongres Amerika Serikat dari Partai Republik dan Partai Demokrat sudah mengancam Arab Saudi, jika Kashoggi benar-benar dibunuh di kantor konsulat, maka akan menjadi mimpi buruk bagi hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Trump pun terdesak agar mengambil langkah serius mengungkap misteri hilangnya Kashoggi.

Karena itu, perlawanan Kashoggi terhadap Muhammad bin Salman tidak akan pernah berakhir. Jika tidak hati-hati, kasus hilangnya Kashoggi ini akan menjadi episode akhir dari Muhammad bin Salman yang selama ini diharapkan dapat menjadi era baru Arab Saudi. Kebijakan Muhammad bin Salman yang sangat sadis, brutal, dan otoriter terhadap para pengkritiknya pelan-pelan dapat diketahui dunia internasional.

Apa yang dilakukan Muhammad bin Salman sama sekali tidak mencerminkan karakter moderasi Islam. Alih-alih disebut sebagai simbol moderasi Islam, Muhammad bin Salman dapat dianggap sebagai sosok yang mencampakkan moderasi Islam, bahkan dianggap menista hak asasi manusia yang menjamin kebebasan berpendapat dan berkumpul. Perlawanan Kashoggi bukan mereda, tapi justru berkobar. Ia menjadi tumbal bagi tumbuhnya suara-suara kebenaran di Arab Saudi.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed