DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 25 September 2018, 16:34 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Mereka Membunuh Sambil Bernyanyi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Mereka Membunuh Sambil Bernyanyi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Adegan itu benar-benar di luar batas nalar. Ratusan orang bersorak-sorai bersama-sama dalam sebuah gerakan ritmis. Dan, persis dikelilingi oleh segenap peneriak yel-yel gembira itu, sesosok tubuh ambruk tak berdaya. Ia berkubang dalam genangan darahnya, menggeliat berusaha mempertahankan sisa-sisa napas terakhirnya.

Diselingi tangan-tangan yang teracung merekam dengan kamera telepon genggam, beberapa orang dari barisan gembira itu terus menghunjamkan pukulan dan tendangan. Dan, oh tidak. Dua anak kecil turut serta, menginjak-injak tubuh itu, lalu mengayunkan balok kayu sekuat tenaga.

Allah, Allah, ampuni kami ya Allah....

Mohon dimaafkan gambaran sangat vulgar yang saya tuliskan, wahai pembaca yang budiman. Mohon dimaafkan, benar-benar saya memohon untuk dimaafkan. Tapi, tanpa gambaran tertulis ini, siapa pun Anda yang tidak kuat menonton video itu tidak akan pernah tahu, bahwa ada di antara kita yang mampu melakukan pesta pora sekeji itu.

Pada detik-detik awal saya menontonnya, langsung terlintas di kepala saya video serupa dari kisah kelabu pembantaian di Cikeusik yang menimpa warga Ahmadiyah, tujuh tahun silam. Adegan visualnya mirip, mirip sekali, Saudara. Bagaimana tubuh-tubuh tanpa daya yang tengkurap itu terus dirajang beramai-ramai tanpa iba sedikit jua. Orang-orang kalap itu agaknya sedikit pun tak punya tujuan lain selain melenyapkan nyawa.

Namun, sebarbar apa pun para jagal di Ciekusik itu, saya masih menemukan secuil penjelasannya. Mereka orang-orang yang ingin hidup sendirian di muka bumi, tanpa kerelaan untuk berbagi. Mereka orang-orang yang gelap mata dalam memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini, tak sudi ada orang lain yang memiliki keyakinan yang menabrak keyakinan mereka. Dan, karena tabrakan iman itu terus terjadi, mereka pun mengeluarkan satu-satunya hal yang mereka miliki: amarah.

Di Cikeusik, api amarah itu memang ada. Amarah itu berkobar dari manusia-manusia yang enggan hidup bersama, dalam sebuah rumah besar bernama Indonesia. Mereka ingin mendefinisikan liyan sesuai standar dan selera subjektif mereka, lalu berharap negara berpihak kepada mereka. Sayangnya, tak mungkin negara menuruti salah satu golongan saja, tak mungkin menuruti kemauan sepihak mereka saja. Sementara itu, kata 'kompromi' pun tak ada dalam kamus mereka. Maka, frustrasi komunal pun tercipta. Mereka mengamuk.

Tapi, apa yang terjadi di Gelora Bandung Lautan Api hari Minggu lalu, Saudara? Amarah jugakah? Mengamuk karena ledakan amarah yang tak terbendung?

"Iya, itu amok, Mas. Amok, komoditas ekspor kita yang mewarnai khazanah linguistik Barat, tapi tidak menghasilkan devisa apa pun yang memperkuat nilai rupiah dan menggembungkan kas negara. Sejenis perilaku yang tak dikenal di Barat, tak bisa dicari padanan kata maupun padanan fenomenanya di dunia Barat. Makanya, kata itu diambil begitu saja ke kamus mereka. Amok, running amok. Behave uncontrollably and disruptively, kata kamus mereka. Amok, mengamuk macam orang kesurupan. Nah, kata dan kelakuan itu diambil dari kita! Dari kebudayaan kita! Kita ini memang pelaku amok, Mas. Jadi ya jangan heran-heran amat."

Amok? Betulkah? Tidak, Saudara. Tidak. Saya tidak melihat amarah pada wajah-wajah di parkiran Gelora Bandung Lautan Api itu. Tak ada nyala api murka di wajah mereka. Tak ada ledakan akibat sejenis frustrasi dan histeria massal yang muncul dari tatapan mata mereka. Tak ada yang seperti itu, Saudara.

Lihat, lihatlah. Mereka meneriakkan yel-yel bersama-sama. Mereka bernyanyi! Mereka bergembira! Mereka berpesta, wahai Saudara!

Tolong, tolong jelaskan, apa yang sesungguhnya sedang digelar telanjang di hadapan kita?

Tolong juga jelaskan, dari mana cerita-cerita yang selama ini menancap erat di benak kita, bahwa kita adalah bangsa beradab, adiluhung, berbudaya, yang menjunjung tinggi tata krama, yang ramah tamah dan membuat terkesan siapa pun tamu-tamu kita dari segenap sudut dunia?

Dari mana cerita-cerita itu, Saudara? Betulkah cerita-cerita itu nyata? Atau, jangan-jangan, ah, ia cuma dongeng belaka, rangkaian legenda yang sengaja dibikin untuk meninabobokkan kita, membuat kita merasa baik-baik saja, padahal sejatinya kita adalah kumpulan manusia setengah hewan yang bisa memangsa sesama sambil bernyanyi dan tertawa?

Tunggu, tunggu. Membunuh sambil bernyanyi dan tertawa. Sepertinya saya pernah mendengarnya.

Ah, ya, itu muncul dalam The Act of Killing, film dokumenternya Joshua Oppenheimer itu. Di situ muncul pengakuan tokoh-tokoh pembantai orang-orang komunis dan para tertuduh komunis pada masanya. Dengan bangga, sang tokoh menceritakan bagaimana ia mencekik korban-korbannya sambil bernyanyi dan berdansa cha-cha-cha. Oh....

Jangan keliru, saya bukan pengagum filmnya Joshua itu, Saudara. Si Josh alpa menggambarkan peta global pada sekitar kejadian-kejadian itu, dan di mana posisi kita yang dipermain-mainkan di tengah pertarungan kekuatan-kekuatan raksasa dunia. Josh hanya menggambarkan betapa buruknya kita sebagai manusia. Tapi, setidaknya dari satu-dua fragmen di filmnya kita jadi tahu, dalam segenap keterkejutan kita, bahwa memang negeri ini ditinggali oleh manusia-manusia yang bisa membantai sambil berdansa.

Itukah diri kita yang sesungguhnya?

Belum, saya belum akan menyerah di hadapan filmnya Joshua. Tanpa sedikit pun membenarkan tindakan mereka, kita harus ingat situasi psikologis pada 1965. Para algojo itu masuk pusaran narasi besar demonisasi, peng-iblis-an atas liyan. Bagi jagal-jagal yang larut dalam dongeng-dongeng bikinan Jakarta, sosok-sosok yang mereka bantai itu adalah iblis belaka. Bagi mereka, darah-darah yang mereka tumpahkan itu bukan darah manusia. Maka, mereka akan mengatakan bahwa mereka membasmi PKI, membunuh PKI. Bukan membunuh "orang PKI", bukan membunuh "anggota PKI". Anda tahu bedanya?

Nah, adakah demonisasi itu Bandung, hari Minggu lalu? Seberapakah permainan bola dan kumpulan pendukung tim bola membentuk imajinasi kita atas liyan, atas lawan, atas siapa pun yang berdiri berseberangan dengan klub pujaan?

Kita tahu, memang pernah terjadi perang dalam arti sesungguhnya, karena bola. Itulah La Guerra del Futbol, Perang Sepak Bola, antara Honduras dan El Salvador. Baku tembak dan baku bom antara dua negara di Amerika Tengah itu diletupkan oleh pertandingan sepak bola pada babak kualifikasi pra-Piala Dunia 1970. Lebih dari 3000 nyawa manusia tumpas karenanya.

Namun, jangan lupa. Sepak bola di situ hanyalah titik momentum letupan. Sebelumnya, sudah cukup panjang latar konflik sosial yang terjadi antara penduduk kedua negara. Bahwa Honduras menuding para pendatang El Salvador melakukan pendudukan paksa di tanah-tanah milik warga Honduras, bahwa sumber-sumber penghidupan mereka direbut, dan entah apa lagi. Dari situ, krisis ekonomi tercipta, frustrasi massal menggumpal, dan ajang sepak bola menjadi perayaan kemarahannya.

Tapi, di Bandung hari Minggu lalu, apakah juga sepanjang Honduras-El Salvador latar konflik sosial yang mampu menciptakan pembenaran atas tindakan-tindakan yang jauh melampaui batas-batas nalar dan batas-batas kemanusiaan? Saya tidak percaya.

Yang pasti, tidak tampak ledakan amarah yang berkobar-kobar tak terbendung di wajah mereka. Mereka menyiksa, membunuh, sambil meneriakkan yel-yel dan bersorak sorai bersama-sama.

Dan, ah, sesungguhnya mereka bukan "mereka", Saudara. Mereka adalah kita. Mereka lahir dari rahim kehidupan kita, bagian tak tersangkal dari diri kita yang nyata.

Pada titik ini, saya mulai percaya: cerita-cerita indah masa lalu, tentang betapa agungnya budi pekerti bangsa kita, memang cuma antologi mitos belaka.

Iqbal Aji Daryono esais


Simak Juga '#RIPHaringga, Ucapan Duka Cita Netizen untuk Haringga':

[Gambas:Video 20detik]


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed