DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 22 Mei 2018, 08:13 WIB

Kolom

Detik-detik yang Tak Terlupakan (21 Mei 1998, 09.00 WIB)

Ishadi SK - detikNews
Detik-detik yang Tak Terlupakan (21 Mei 1998, 09.00 WIB) Foto: Ishadi SK
Jakarta - Bagi saya 21 Mei 1998 memberi kesan yang luar biasa. Kala itu saya dalam posisi sebagai Dirjen Radio TV dan Film (RTF) di Departemen Penerangan.

Malam harinya, Rabu, 20 Mei 1998 pukul 21.00 WIB, sahabat saya Dr Salim Said menelepon. Dia menanyakan apakah saya bisa mengatur agar Panglima TNI Jenderal Wiranto bisa memberikan statement tentang posisi ABRI setelah presiden baru dilantik besok pagi.

Mengapa Salim Said mengatakan seperti itu? Karena dia sebagai mantan wartawan senior Tempo, sekaligus mempunyai hubungan dekat dengan pimpinan TNI-ABRI. Dia mengikuti beberapa kali rapat mulai 12 Mei 1998 ketika awal kerusuhan, hingga tiga mahasiswa Trisaksi tertembak mati.

Segera setelah peristiwa tertembaknya mahasiswa Trisakti, seluruh komponen mahasiswa dari berbagai universitas dan masyarakat luas bergerak menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.

Bagaikan ada yang memberi komando, ribuan orang melakukan penjarahan di pusat-pusat usaha, pertokoan golongan Cina. Bahkan, seakan tidak terkendali, gerakan ini meluas tidak hanya di pusat usaha Glodok, namun juga di berbagai tempat di daerah Slipi, Jatinegara, Pasar Senen, dan pusat-pusat bisnis lainnya. Tidak hanya penjarahan, tapi juga terjadi pembunuhan dan perkosaan yang makin lama makin meluas.

Saya diangkat sebagai Dirjen RTF pada 14 Mei 1998, beberapa hari setelah kerusuhan di pusat-pusat perdagangan meluas tanpa bisa dikendalikan. Ketika situasi tidak bisa dikendalikan, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Presiden RI, jabatan yang telah dipegangnya selama hampir 32 tahun lewat proses konstitusional. Karena Gedung DPR RI diduduki mahasiswa, presiden memutuskan untuk mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998 pagi. Keputusan ini diambil setelah presiden berkonsultasi dengan pimpinan DPR RI, Mahkamah Agung (MA), Panglima TNI, dan Mensesneg Saadilah Mursyid.

Presiden tidak bisa berkomunikasi dengan jajaran kabinet karena Ginandjar Kartasasmita, Menteri Perekonomian pada masa itu beserta 13 anggota kabinet pembangunan serentak menyatakan mengundurkan diri lewat surat kepada Presiden Soeharto.

Pada kesempatan itulah Salim Said menelepon saya, 20 Mei 1998. Ia bertanya, "Apakah ada kemungkinan Panglima TNI mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pernyataan sikap TNI-ABRI? Agar ada kejelasan dan arah." Langkah yang harus dilakukan oleh jajaran TNI-ABRI setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Di benak saya terpikirkan, ini adalah hal yang harus dilakukan. Insting jurnalistik saya ketika selama berhari-hari terjadi chaos yang sangat mengerikan, hanya pernyataan Panglima ABRI secepat mungkin yang bisa menenangkan suasana. Karena secara jujur harus diakui pada detik-detik Presiden Soeharto mundur, saya bayangkan satuan-satuan TNI tidaklah kompak benar. Situasi yang menurut saya bisa dipahami. Khususnya kalau dipicu oleh ketidakjelasan situasi.

Dengan keyakinan itu, pada pagi hari pada 21 Mei 1998, dari Departemen Penerangan RI, Jalan Merdeka Barat jam 08.00 WIB, saya menuju Istana Merdeka lewat Jalan Merdeka Selatan, terus menyusur ke Merdeka Timur.

Di depan Gedung Pertamina, mobil saya dihentikan oleh Paspampres. Ketika saya membuka kaca untuk memberikan penjelasan, seorang perwira Kopassus berteriak dari jauh, "Hei kasih jalan! Itu Pak Ishadi, Dirjen Radio, TV, dan Film. Kasih dia jalan ke Istana."

Saya tiba di Istana pukul 09.20 WIB pagi. Saya berkoordinasi dengan protokol Istana tentang rencana untuk memberikan kesempatan Panglima TNI menyampaikan pernyataan sikap TNI-ABRI.

Pihak Istana tidak berani mengambil keputusan. Bahkan Panglima TNI pun telah diberi petunjuk oleh Wakil Presiden Habibie untuk tidak membuat pernyataan apa-apa sampai dia dilantik sebagai presiden, (saya tidak mengetahui hal ini sampai saya membaca buku Salim Said Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian, 2013).

Segera setelah Habibie dilantik sebagai Presiden ke-3 RI, suasana menjadi hening karena Pak Harto langsung meninggalkan tempat upacara, dan Presiden Habibie yang baru dilantik ikut mengantar Pak Harto.

Sebelum puluhan wartawan dari dalam dan luar negeri bubar, saya segera mengambil mikropon yang tadinya digunakan oleh Presiden Soeharto, saya pindahkan ke depan sekaligus tidak langsung menunjukkan bahwa ini bukan bagian dari upacara resmi pergantian Presiden Republik Indonesia.

Saya dengan suara keras mengatakan, "Jangan pergi dulu karena Panglima ABRI-TNI Jenderal Wiranto akan menyampaikan kesan khusus kepada jajaran TNI-ABRI dan masyarakat Indonesia." RRI dan TVRI yang berada dalam wewenang saya langsung bertindak untuk melanjutkan siaran langsung, demikian juga media lainnya meskipun pernyataan Jenderal Wiranto sangat singkat, "TNI-ABRI mendorong proses pengalihan kekuasaan secara konstitusional dan akan melindungi mantan Presiden ke-2 RI Soeharto dan keluarganya sampai petunjuk Presiden ke-3 berikutnya."

Kurang dari 5 menit, pidato Panglima TNI-ABRI Jenderal Wiranto selesai. Dengan begitu selesai juga kekhawatiran saya atas kemungkinan terjadi gejolak lebih keras lagi. Beberapa hari kemudian, Salim Said ditelepon oleh Panglima TNI Jenderal Wiranto, "Terima kasih Bung Salim Said gagasannya. Tapi saya digebukin dari kiri dan kanan".

Salim menjawab, "Lebih baik digebuki sekarang daripada anak buah Anda kocar-kacir. Kalau tidak ada arahan yang jelas bagaimana jajaran TNI-ABRI harus bersikap terhadap pergantian Presiden RI?"

Presiden Habibie sendiri baru memberikan pernyataan petang harinya setelah pengangkatan sumpah pagi harinya. Pukul 19.30 WIB, Presiden BJ Habibie menyampaikan pidato kepresidenan pertamanya selama 20 menit disiarkan lewat jaringan TVRI dan RRI serta di-relay oleh stasiun radio dan TV swasta.

Sementara itu, segera setelah acara di Istana Merdeka berakhir, saya menuju ke kediaman Pak Harto di Cendana. Saya terkejut semua keluarga anak dan cucu-cucunya menangis tersedu-sedu. Ketika saya bertanya kepada Pak Saadilah Mursyid (Mensesneg saat itu), dia mengatakan keluarga bersedih bukan karena harus berhenti sebagai Presiden, tapi lebih kepada 'merasa dikhianati' oleh 14 menteri kabinetnya sendiri.

Saya mendapat salinan pertama dari daftar nama menteri yang mengundurkan diri waktu itu. Dengan berbagai perasaan, saya segera meninggalkan Cendana untuk kembali ke Kantor Departemen Penerangan di Jalan Merdeka Barat.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

Sumber: MR. Crack dari Parepare oleh A Makmur Makka (2018) dan Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian (2013)
(yas/dnu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed