detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 09 Oktober 2017, 13:16 WIB

Kolom

Mengawal Pengembangan Pesawat R80

Sholikul Hadi - detikNews
Mengawal Pengembangan Pesawat R80 Foto: Dok. Regio Aviasi Industri
Jakarta - Setahun yang lalu saya mengikuti Kunjungan Industri (KI) di PT Dirgantara (DI), Bandung. Kami bersama teman-teman kuliah berniat menggali semua informasi yang dimiliki PT DI sebagai bahan ajar dan diskusi di kampus. Peserta KI kurang lebih 60 orang beserta dua dosen. "KI ini harapannya mampu memicu mahasiswa berkarya selayaknya Pak Habibie," itu ujar Bu Retno selaku dosen.

Kami bersama rombongan KI waktu itu berangkat dari Yogyakarta habis isya. Karena di Jawa Barat banjir maka kedatangan kami terlambat dari jadwal kunjungan yang dimulai pukul 09:00 WIB. Di perjalan kala itu menunjukkan pukul 10:00 WIB, semua peserta KI turun dari bus karena terjebak macet dari mulai waktu subuh. Dosen, panitia dan peserta KI saling beradu argumen soal melanjutkan perjalanan atau tidak. Padahal, pihak PT DI sudah menelepon terus terkait kapan kedatangan kami ke lokasi.

Singkat cerita semua peserta KI naik ke bus dan memutuskan melanjutkan perjalanan ke Bandung. Pihak panitia menegosiasi PT DI untuk menerima kami jam berapa pun datangnya, karena terjebak situasi banjir di sekitar Bandung. Kemurahan hati dari manajemen PT DI akhirnya siap menerima kami. Mendengar berita itu kami melanjutkan tidur di tengah kelaparan. Hotel penginapan yang di-booking dan catering yang sudah dipesan buat sarapan pagi dan makan siang hangus sudah.

Tepat pukul 14:30 WIB kami terbangun semua karena sudah sampai di PT DI. Mulailah tampak wajah ceria dari kawanan kami. Kami mulai baris untuk dilakukan pemeriksaan sebelum masuk PT DI. Alhasil, handphone kami semua diambil oleh pihak PT DI, untuk ditahan sementara selama KI.

KI dimulai dengan sambutan Direktur Pemasaran PT DI. Direktur Pemasaran memaparkan profil perusahaan dan menuturkan negara-negara yang sudah pernah membeli pesawat produksi PT DI. Direktur Pemasaran juga mengklarifikasi soal penahanan handphone, takutnya ada yang mencuri gambar untuk disebarkan ke medsos. PT DI trauma dengan peristiwa produksi pesawat N-250 Gatotkaca yang dibaca oleh pesaing bisnis.

Setelah itu, kami keliling di ruang produksi PT DI yang begitu luas. Di dalam kami awalnya hanya melihat-lihat proses produksi, karena tidak boleh mengganggu para pekerja. Tetapi kami mulai bertanya pada pemandu KI dari pihak PT DI. Saat itu kami bertanya, "Pak, kenapa pesawat buatan PT DI kok kepalanya Jerman?" Bapak itu menjawab, "PT DI belum bisa buat kepala bagus jadi pakai Jerman dulu, kalau bikin sayap PT DI handal, wong airbus dan boeing beli sayap di sini."

Dalam pikiran awam kami, kami tertawa mendengar penjelasan itu. Pikiran kami memandang lucu, "Masak ada ayam berkepala bebek," ini guyonan hati dan pikiran kami. Peristiwa inilah yang membuat suatu harapan mimpi saya Indonesia mampu memproduksi pesawat dengan tubuh utuh made in Indonesia.

Sampai akhirnya mendengar berita, "Pesawat R80 rancangan BJ Habibie akan segera diproduksi massal pada 2024 mendatang. Awalnya akan dikembangkan prototipnya oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) milik Habibie dan putra ketiganya Ilham Habibie." Ini mewakili jawaban pertanyaan saya setahun yang lalu.

Berita tersebut cukup menggembirakan bagi bangsa ini untuk menunjukkan kebolehannya di kancah internasional. Tetapi ada yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana PT RAI mengembangkan pesawat R80 ini. Pesawat R80 ini mau dibawa ke mana arah pemasarannya? Apakah tingkat lokal atau internasional? Apakah keunggulan R80 di pasaran? Inilah pertanyaan mendasar yang harus di jawab PT RAI dalam selama pengembangan R80.

Menurut informasi detikFinace, "Jadi kita produksi mulai produksi massal di 2024," kata Presiden Direktur RAI Agung Nugroho di Perpustakaan Habibie Ainun, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (28/9/2017). "Pengembangan butuh kira-kira 6 tahun, untuk terbang sampai dilanjutkan dengan pengujian dua tahun untuk entry service, artinya kita sudah bisa mulai jualan 2025," ujar Agung.

Informasi ini sangat menarik kita analisis bersama, bagaimana pesawat R80 ini akan sukses di pasaran. Berbicara kesuksesan bisnis pesawat tentunya bagaimana pihak PT RAI membuat pesawat R80 dengan fasilitas dan safety pesawat minimal setara bahkan mengungguli airbus dan boeing. Hal inilah menjadi kunci utama suksesnya pesawat R80.

Durasi pengembangan pesawat R80 ini sangat cukup yaitu 6 tahun. Selama 6 tahun ini PT RAI harus melakukan Sistematika Pengembangan Produk. Sistematika ini meliputi proses panjang yaitu perencanaan, pengembangan konsep, perancangan tingkatan sistem, perancangan rinci, pengujian, dan perbaikan sampai peluncuran R80. Inilah jalan panjang yang harus dilalui R80 sampai ke pasaran.

Perlu diambil hikmah dari kasus pesawat N-250 Gatotkaca untuk menjadi bahan pelajaran PT RAI menjaga kerahasiaan produksi pesawat R80. Kenapa harus begitu? Karena, dunia bisnis itu kejam dan saling kejar-mengejar bahkan saling menjatuhkan demi diterima di pasaran. Masukan saya, PT RAI dan PT DI harus menggawangi pesawat R80 goes in market dan succes in market pada 2024 sesuai perencanaan. Hal ini mengingat PT DI telah berpengalaman memproduksi pesawat militer yang konsumennya berbagai negara.

Tantangan pengembangan pesawat R80 di antaranya butuh trade-offs (pengorbanan), dinamika dengan pesaing, detail dalam proses, tekanan waktu pengembangan dengan target 6 tahun, dan ekonomi (terkait operasional pengembangan R80). Tantangan-tantangan inilah yang pada proses pengembangan pesawat karya anak bangsa ini akan dihadapi PT RAI.

Harapan bangsa ini adalah PT RAI sukses meluncurkan pesawat R80 pada 2024, dan terjun di pasaran pada 2025. Pengembangan pesawat ini mampu menginterpretasikan kebutuhan konsumen. Hal ini perlu menggunakan metode metric. Metric yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung nilai produk yang memuaskan kebutuhan konsumen jasa pesawat. Hubungan antara kebutuhan dan metric merupakan inti dari proses penetapan spesifikasi pasar. Tujuannya di sini yaitu menerjemahkan kebutuhan pelanggan menjadi sekumpulan nilai spesifikasi pesawat, dan peluncurannya di pasar pada waktu yang tepat serta terukur.

Sholikul Hadi Ketua PKM-Penelitian Fakultas Teknik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com