DetikNews
2017/02/16 16:15:45 WIB

Kolom

Pilkada DKI Putaran Kedua akan Lebih Panas

Stanislaus Riyanta - detikNews
Halaman 2 dari 2
Pilkada DKI Putaran Kedua akan Lebih Panas Foto: (dokumentasi pribadi)

Potensi Konflik dan Pencegahan

Potensi konflik pada pilkada DKI putaran kedua tetap tinggi. Polarisasi kedua kubu yang diduga akan menyerempet isu SARA menjadi hal sensitif yang bisa menjadi trigger sebuah konflik. Masing-masing kubu tentu akan berjuang untuk menambah pendukung, berbagai isu akan dimainkan, berbagai cara akan dilakukan. Jika berlebihan, maka hal ini akan memicu konflik horisontal yang merugikan bagi masyarakat dan negara Indonesia.

Untuk mencegah terjadinya konflik yang diakibatkan dinamika politik yang terpolarisasi dan dibumbui dengan isu SARA, maka pemerintah perlu kerja keras bersama masyarakat untuk melakukan pencegahan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa Pilkada adalah pesta demokrasi yang penuh kegembiraan, bukan perang untuk menjatuhkan kubu lawan dengan segala cara. Pilkada adalah memilih kepada daerah, maka pertarungan antar kubu sebaiknya dilakukan dengan mengampanyekan program-program terbaik yang akan menjadi andalan masing-masing pasangan calon jika terpilih, bukan dengan menggunakan isu SARA yang rawan menjadi pemicu konflik.

Elit partai harus menunjukkan teladannya kepada masyarakat. Proses politik tidak harus dijalani dengan ketegangan, namun bisa dijalani dengan kegembiraan dan sikap ksatria. Jika elit partai mampu memberikan teladan maka diharapkan masyarakat akan lebih tenang dan harmonis dalam mengikuti pesta demokrasi ini.

Aparat Polri yang dibantu TNI dan perangkat intelijen perlu bekerja lebih keras dan memperpanjang waktu siaganya setelah putaran pertama ini. Deteksi dini dan cegah dini terhadap ancaman harus dilakukan dengan cepat dan tepat.

Langkah yang diambil Polri untuk tegas terhadap masalah-masalah hukum pada pilkada DKI putaran pertama perlu dilakukan agar tidak membesar serta menjadi efek jera. Dengan tindakan tegas dari penegak hukum maka pihak yang akan melakukan gangguan pada Pilkada DKI putaran kedua akan berpikir ulang. Jika tidak ada tindakan tegas dari Polri terhadap pengganggu Pilkada, maka hal tersebut akan berulang kembali.

Harapan

Pilkada DKI 2017 pada putaran pertama berjalan dengan lancar, di luar kejadian-kejadian kecil yang tentu tidak boleh mengurangi apresiasi kepada masyarakat dan aparat keamanan yang telah menjaga Pilkada DKI ini berjalan baik. Pemerintah melalui TNI dan Polri telah bekerja secara profesional dan mampu menciptakan situasi yang baik dan kondusif.

KPU dan Bawaslu juga sudah menyelenggarakan dan mengawasi pelaksanaan Pilkada DKI dengan baik. Agus-Sylvi yang berada pada urutan terakhir pada hari Rabu (15/2/2007) malam, setelah mengetahui hasil dari hitung cepat, telah menghubungi pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi lewat telepon untuk mengucapkan selamat. Ini adalah bukti kedewasaan berpolitik yang diharapkan oleh masyarakat, siap menang dan siap kalah.

Pilkada DKI adalah salah satu mekanisme demokrasi untuk memilih pemimpin Jakarta lima tahun ke depan. Masih ada proses putaran kedua yang harus di jalan, walaupun diperkirakan lebih panas, namun diharapkan hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan pilihan warga Jakarta.

Semoga Pilkada DKI putaran kedua berjalan dengan lancar dan elegan, tanpa melemahkan kebhinekaan dan persatuan bangsa yang telah lama terjalin. Pilkada seharusnya hanya menghasilkan dua hal, yang menang menjadi pemimpin kepala daerah, yang belum menang menjadi negarawan. Apapun hasil akhir pilkada nanti semoga menggambarkan adigium "Vox populi, vox Dei", suara rakyat adalah suara Tuhan.

*) Stanislaus Riyanta, pengamat intelijen alumnus FMIPA Universitas Sanata Dharma Yogtakarta dan Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia
*) Artikel ini adalah opini pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed