detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 25 Januari 2019, 11:40 WIB

Kolom

Suporter dalam Relasi Kuasa PSSI

Jon Solik - detikNews
Suporter dalam Relasi Kuasa PSSI Demo suporter di Kongres PSSI 2019 (Foto: Randy Prasatya/detikSport)
Jakarta - Banyak pihak harus disadarkan bahwasanya masih belum banyak perubahan yang terjadi di tubuh PSSI mengenai isu-isu yang berkembang saat ini. Bermula dari kasus match fixing hingga kemudian membuat Kapolri tergerak untuk membuat Satgas Anti Mafia Bola guna menyelesaikan masalah yang sangat berlarut-larut ini, dan langsung melakukan gebrakan dengan ditangkapnya beberapa pelaku mulai dari anggota komisi wasit, anggota komdis, hingga anggota exco PSSI.

Belum selesai terheran-herannya kita dengan begitu banyak dan rumitnya masalah mafia bola yang menggerogoti PSSI, publik kemudian dibuat terperangah dengan keputusan mundurnya Edy Rahmayadi selaku Ketua dalam kongres tahunan PSSI yang dilakukan di Bali. Banyak yang terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh Edy, mengingat dalam banyak pernyataannya sebelumnya ia mengatakan bahwa ia memegang amanah tersebut sampai dengan tahun 2020. Jika kemudian ia mundur akhirnya menimbulkan spekulasi terbaru di masyarakat, ada skenario apa lagi dengan organisasi ini?

Fakta baru cukup mengejutkan menarik untuk disimak. Ternyata sebelum dilaksanakan kongres PSSI di Bali 19-20 Januari 2019 lalu beberapa perwakilan anggota PSSI dari daerah diketahui melakukan pertemuan di Hotel Royal Kuningan, Jakarta. Dalam sebuah rekaman pembicaraan yang diperdengarkan dalam sebuah acara talkshow di televisi diketahui ada agenda mengenai bagaimana sebaiknya proses mundurnya ketua umum melalui tiga opsi yang rencananya akan diagendakan dalam kongres.

Respons PSSI

Sebenarnya akar masalah yang berkembang sampai saat ini (dari masalah yang terjadi dulu sampai dengan sekarang) berasal dari internal organisasi PSSI itu sendiri. Banyaknya kasus yang terjadi dan menjadi masalah klasik seolah-olah berkembang karena tidak adanya penyelesaian yang berarti dari dalam PSSI sendiri. Kasus meninggalnya suporter, "gol hantu" yang mewarnai kekalahan sebuah tim yang bertanding, hingga terdengarnya isu miring tentang diuntungkannya tim tertentu dalam sebuah liga masih mewarnai jalannya kondisi persepakbolaan Indonesia.

PSSI kurang terbuka mengenai apa yang telah dilakukannya untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Selalu penjelasan yang keluar adalah tetap berpegang teguh pada statuta FIFA tanpa memberikan alternatif solusi bagaimana baiknya pemecahan atas permasalahan tersebut dapat diselesaikan. Hal ini membuat publik makin kehilangan harapan atas profesionalitas yang ditunjukkan organisasi ini untuk perbaikan ke depannya.

Desakan dari pihak intern PSSI sendiri seperti CEO Persijap Esti Puji Lestari, Manajer Persibara Lasmi Indaryani, hingga Manajer Madura FC Januar Herwanto yang terang-terangan membuka apa yang terjadi selama ini malah belum begitu didengarkan sarannya. Pun begitu dengan Bambang Suryo yang menjabat Manajer Persekam Metro FC secara terang-terangan ingin membongkar dugaan praktik pengaturan skor di sepakbola Tanah Air nasibnya tidak lebih baik, sekarang ini dia dijatuhi sanksi larangan terlibat aktivitas sepakbola Tanah air seumur hidup. Itu berarti dia terkena hukuman ini kedua kalinya atas kasus yang sama yaitu pengaturan skor.

Peran Suporter

Seperti diketahui, terdapat 14 elemen yang ikut hadir dalam kongres tahunan PSSI, walaupun hanya di luar hotel. Mereka sengaja ikut menyuarakan aksi mereka tentang perlunya perbaikan dalam tubuh PSSI. Walaupun dengan jumlah yang sedikit, namun bukan berarti suporter harus dianaktirikan oleh PSSI. Justru suporter seharusnya menjadi suara yang paling didengar mengingat mereka adalah "masyarakat utama" dalam dunia sepakbola. Karena hanya dengan ramainya suporter yang mengisi stadion sepakbola menjadi industri yang bisa bangun dan berkembang sehingga akhirnya dilirik oleh orang-orang di luar kepentingan olahraga untuk memasuki dunia ini.

Yang perlu diapresiasi dari suporter ini adalah mereka datang dengan jumlah sedikit mengingat tidak ingin mengurangi reputasi Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia di dunia internasional. "Kalau semua suporter mengetahui ada yang datang dalam kongres ini bisa dibayangkan berapa orang yang ingin datang ke sini," ujar Andie Pecie, pentolan "bonek", seperti yang dikatakannya dalam acara TV tersebut.

Suporter sebagai stakeholder terbesar dalam dunia sepakbola seharusnya mendapatkan porsi tertinggi dalam relasi kekuasaan yang terjadi selama ini. Bukan pengurus PSSI, bukan pengurus klub, namun suporter sepakbola sebagai masyarakat luaslah pemegang suara terbanyak ini. Sepak bola menjadi olahraga mayoritas di republik ini dikarenakan dukungan luas suporter. Bukan alat untuk menjadi penarik animo politik, bukan alat untuk menjadi pendulang instan suara populer. Namun, seharusnya sepakbola menjadi menarik melalui peragaan yang ditampilkan di atas lapangan, melalui prestasi bukan melalui intrik yang terjadi dalam organisasi.

Tak heran dalam hal ini legenda bulutangkis Indonesia Taufik Hidayat sempat bersuara pada tahun 2014 lalu mengenai besarnya animo pada sepakbola dibanding bulutangkis. Siapa yang membuat sepakbola ini menjadi besar? Tidak lain tidak bukan ya suporternya sendiri.

Jadi dalam hal ini suporter perlu bersatu, tidak lagi dalam pengkotakan rival antardaerah (yang seharusnya terjadi di atas lapangan saja), menyuarakan bahwa perubahan di tubuh PSSI kali ini mutlak harus terjadi secara menyeluruh. Tidak bisa lagi kita melihat Ketua PSSI bergantian mundur dari jabatannya, tetapi orang-orang yang berada di tubuh PSSI sendiri hanya itu-itu saja. Akar masalah yang selama ini ada masih menancap pada tubuh organisasi ini bahkan terjadi selama puluhan tahun.

Kalau perlu suporter menyuarakan supaya masalah ini dapat diangkat ke dalam debat Pilpres 2019, misalnya. Dapat dimasukkan pada tema debat ketiga mengenai masalah sosial. Tema ini sangat menarik dan bukan tidak mungkin olahraga populer ini dapat sangat mempengaruhi perolehan suara ke depan juga bukan?

Jon Solik penikmat sepakbola, bermukim di Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com