DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 September 2018, 11:19 WIB

Kolom

Buku adalah Senjata

Jonathan Alfrendi - detikNews
Buku adalah Senjata Anak-anak di Pulau Sabu (Foto: ist.)
Jakarta -

Sekitar 115 mil dari Pelabuhan Tenau Kupang terdapat sebuah wilayah mungil bernama Kabupaten Sabu Raijua. Sabu Raijua terdiri atas dua pulau yaitu Sabu dan Raijua. Sampai saat ini kedua pulau tersebut masih termasuk zona daerah tertinggal.

Pulau Sabu diisi oleh suku Sabu. Berdasarkan sejarah mereka berasal dari keturunan orang India yang dulu bermigrasi ke pulau ini. Ketika saya tiba di Sabu, wilayah ini masih sepi penduduk. Permukiman dan penduduk pulau ini memang tampak lebih asing dan tertinggal dibandingkan Pulau Sumba yang hanya berjarak 60 mil.

Sekalipun kabupaten ini selalu berada di peringkat atas perihal hasil Ujian Nasional se-NTT, namun tingkat kemampuan membaca dan buta huruf di sana masih rendah. Berbagai LSM maupun gerakan kerelawanan kerap mendatangi Pulau Sabu guna memberikan bacaan gratis dengan harapan buku-buku tersebut akan membantu anak-anak di sana dapat membangun kemampuan baca tulis.

Anak-anak itu pun makin banyak yang bersemangat belajar karena mereka tahu, sekali mereka bisa membaca, mereka akan termotivasi untuk membaca lagi, dan akan mendesak orangtua mereka agar bisa dibelikan buku. Di tangan anak-anak itu, buku menjadi senjata untuk membebaskan dari belenggu budaya lisan.

Beberapa belas mil dari Sabu terdapat sebuah pulau bernama Raijua. Walau secara historis memiliki kemiripan, dalam banyak hal Raijua jauh lebih tertinggal dari Sabu. Namun, secara ukuran Pulau Raijua lebih mungil serta lebih sepi dibanding Pulau Sabu. Menariknya, saat ke Raijua, saya bertemu dengan seorang petani rumput laut bernama Ama Logenes. Ia berinisiatif membuat taman baca di desanya sejak 2012.

Ama Logenes yang hanya lulusan SMA itu bisa bercerita panjang lebar betapa pentingnya buku dalam hidup. Buku telah ikut mengubah pola pikir dan membantu hidupnya, dan dia juga ingin kehidupan warga terutama anak-anak di Raijua menjadi lebih baik. Untuk mewujudkan impian itu ia menggunakan posyandu sebagai taman baca. Ia juga menggunakan media sosial seperti Facebook untuk menjaring orang-orang yang mau mendermakan buku ke taman baca miliknya.

Kebijakan pengiriman buku gratis setiap tanggal 17 semakin membuatnya bersemangat untuk membangun budaya literasi di Raijua. Sebab, bagi Logenes buku-buku itu adalah senjata untuk menerangi sekaligus memperbaiki kehidupan warganya.

Buat orang-orang seperti Logenes maupun relawan pustaka bergerak, buku menjadi sumber kekuatan bangsa untuk membangkitkan keberaksaraan. Banyak daerah di negeri ini yang belum tertembus oleh jalan, dan oleh sebab itu para relawan harus menumbuhkan kaki sendiri dan terus bergerak. Mereka harus terus melakukan inisiatif keliterasian tanpa menunggu dorongan pemerintah agar bisa bergerak mencapai pembaca yang sulit dijangkau.

***

Zaman digital yang kini meluas merambah semua lini kehidupan ternyata masih alpa dalam menuntun orang untuk berpikir secara mendalam. Sementara, di sisi lain industri perbukuan dan media cetak tengah goyah akibat terjangan zaman, dan dipaksa bertahan di tengah semakin mahalnya bea kertas. Beberapa yang menonjol adalah masih rendahnya minat baca buku orang Indonesia. Bila industri perbukuan runtuh, maka ancaman lahirnya generasi yang kekurangan kedalaman berpikir menjadi nyata.

Lalu, pertanyaan penting lainnya, di manakah peran buku dalam era serba elektronik seperti sekarang?

Menurut Walter J Ong, kehadiran media elektronik dan digital telah mengembalikan sifat kelisanan pada bahasa dan menghadirkan kembali kelisanan pada orang yang telah kenal aksara. Sehingga, kita tidak aneh melihat orang-orang gampang tersulut karena bertutur lewat gawai. Orang-orang menjadi kini lebih menyukai membaca judul berita bombastis ketimbang mendalami konten berita secara lengkap.

Dalam budaya lisan, yang terpenting adalah menyampaikan kemurnian suatu informasi, berita pengetahuan kepada pendengar oleh pencerita tanpa diuji, tanpa diverifikasi lagi. Pencerita berbicara, maka pendengar menerima dan merespons secara timbal balik. Informasi atau pengetahuan yang didapat acapkali bias makna, gampang dipelintir dan mudah terlupakan.

Sedangkan, dalam budaya aksara cetak, teks bisa dibaca ulang. Orang bisa membaca teks kapan saja, memiliki sumber rujukan yang bisa diverifikasi, serta bisa mengujinya kembali pada konteks dan waktu yang berbeda. Namun, kelemahan media cetak tidak bisa fleksibel. Selain itu, media cetak memiliki jarak antara pembaca dengan si penulis. Pembaca tidak bisa mempertanyakan lebih lanjut kepada penulis tentang informasi yang kurang dimengerti.

Dalam zaman digital, buku tak lagi satu-satunya wahana penyebar ilmu. Ponsel kini menjadi alat komunikasi yang terbilang memiliki kemampuan komplet. Melalui gawai kita bisa mendengar suara, membaca berita secara cepat, berhitung, menonton sebuah video atau film jarak jauh, dan bisa menyimpan puluhan buku elektronik. Melalui gawai kita bisa melihat keseharian penulis, sekaligus bertanya langsung kepadanya melalui akun media sosial. Tidak ada lagi sekat, tak ada lagi tembok pemisah. Buku tak lagi satu-satunya media penyebar informasi.

Walau demikian, buku tetaplah merupakan salah satu sumber keberaksaraan. Tulisan-tulisan tertuang dalam kertas sesungguhnya bisa melatih keseimbangan indera tubuh. Tetapi, media digital membuka ruang yang lebih lebar untuk mengasah keliterasian banyak orang. Sebab itu, dikotomi antara buku dengan media digital sudah saatnya diberhentikan. Sudah saatnya penulis buku ikut menghidupkan ruang media digital lewat tulisan-tulisan mereka yang bisa mencerahkan jagat maya yang kini banyak terserak berita yang kurang berbobot. Para akademisi yang terbiasa menulis di jurnal-jurnal kampus sudah saatnya beralih menghiasi jagat maya.

Selama ini para dosen maupun profesor di negeri ini cenderung alergi menuangkan gagasannya di media digital. Mereka lebih senang menulis di jurnal universitas. Sampai saat ini saya juga kurang mengetahui berapa banyak pembaca jurnal-jurnal kampus, dari kalangan mana saja pembacanya, dan disebar ke mana saja jurnal-jurnal itu. Tentu jumlah pembaca jurnal jauh lebih sedikit ketimbang pembaca warganet.

Di sisi lain, kita perlu mendukung relawan-relawan pustaka yang bergerak ke pelosok negeri untuk memberikan buku-buku kepada warga, terutama anak-anak desa. Di banyak daerah di Indonesia media digital belum terlalu digandrungi oleh warga. Sementara, budaya lisan masih lestari. Buku sangat dibutuhkan oleh mereka sebagai otoritas penyebar aksara. Karena, dengan membaca buku bisa mengubah kegelapan pikiran.

Tulisan ini sekaligus ingin mengajak pembaca untuk mendukung mereka lewat donasi maupun menyumbangkan buku kepada relawan pustaka bergerak maupun ke taman baca yang kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Persoalan aksara memang tidak semendesak isu energi dan ekonomi. Namun, jangan biarkan anak-anak tumbuh dalam buta aksara. Mari tebar virus literasi. Selamat merayakan Hari Aksara Internasional!

Jonathan Alfrendi wartawan; pengajar muda dari Yayasan Indonesia Mengajar, penempatan di Kabupaten Sabu Raijua


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed