DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 11 September 2018, 10:56 WIB

Kolom

Erick-Sandiaga dan Sportivitas Pemilu

Sudrajat - detikNews
Erick-Sandiaga dan Sportivitas Pemilu Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Ketika seorang teman menggodaErickThohir layak masuk kabinet karena sukses menggelarAsianGames, dia langsungmenampiknya. "Ngapain, gue udah jadi presiden, kok." Sejak 2013 dia memang menjabat sebagai Presiden InterMilan, salah satu klub terpandang di Italia.

Erick menegaskan passion hidupnya adalah bisnis dan olahraga, bukan politik. Kalau pun dia kemudian bersedia memimpin Inasgoc sama sekali bukan karena pamrih ingin menjadi menteri. Tapi, karena dirinya punya kewajiban moral untuk aktif memberikan yang terbaik bagi negeri ini. "Enggaklah, gue nggak ada passion di jabatan publik, politik," ujarnya menegaskan.

Ketika namanya digadang-gadang untuk menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, dia menepisnya. Lelaki kelahiran 30 Mei 1970 itu menyatakan dirinya sama sekali belum diajak bicara soal isu tersebut. Dia ingin fokus agar hajatan internasional tersebut berakhir dengan penuh kesan nan gemilang. Seperti ingin mengelak dari tawaran menjadi Ketua TKN, Erick mengungkapkan usai Asian Games dia bersama keluarga akan berlibur dan menunaikan umrah.

Hingga Kamis (6/9) malam, Sandiaga Uno masih optimistis sohibnya itu tak akan menjadi ketua tim kampanye nasional Jokowi-Maruf. Ketika isu tersebut kian menguat menjelang Jumat (7/9) sore, ada yang menilai keputusan menjadikan Erick sebagai ketua tim kampanye Jokowi-Maruf Amin sebagai langkah kejam. Sebab, Erick seolah dipaksa untuk head to head dengan Sandiaga. Pertemanan keduanya sudah menjadi rahasia umum, bukan cuma bersifat bisnis tapi lebih dari personal, melibatkan istri dan anak-anak mereka.

Kalau Erick semula ogah bersentuhan dengan dunia politik, itu sangat bisa dipahami dan diterima. Kalau pun kemudian dia akhirnya bersedia, boleh jadi juga bukan karena terpaksa. Ini sebuah tantangan baru. Atau, sangat mungkin ada terselip misi mulia.

Saya berprasangka, pemilihan Erick bukan cuma karena rekam jejaknya yang sukses di ranah bisnis, sangat cinta olahraga, dan bisa menggaet kalangan milenial. Lebih dari itu adalah untuk membawa semangat sportivitas dalam pemilu presiden dan legislatif. Caranya, ya dengan melakukan kampanye yang sehat dan bermartabat.

Bagaimana hal itu bisa terwujud? Tentu dengan memanfaatkan persahabatan yang erat antara Erick dan Sandiaga. Sebagai sahabat, keduanya niscaya tak akan saling menihilkan. Tak akan gegabah mengumbar kekurangan atau kelemahan satu sama lain. Keduanya akan saling melindungi dan mengingatkan dengan caranya masing-masing.

Saya membayangkan, dengan posisi dan kuasa yang ada baik Erick maupun Sandi akan mendorong masing-masing kubu untuk bertutur dan bersikap kesatria. Data dan fakta menjadi landasan argumentasi dalam setiap debat, bukan semata berpijak pada sentimen SARA. Apalagi terus mengumbar fitnah dan hoaks.

Sejauh ini, Sandiaga sudah melakukannya. Dia misalnya, memuji penampilan Presiden di pembukaan Asian Games ketika sejumlah tokoh dan relawan di timnya justru lebih banyak mempersoalkan penggunaan stuntman oleh Jokowi.

Begitu juga untuk hal yang lebih substansial seperti pelemahan rupiah terhadap dolar. Sandiaga meminta agar para politisi menahan diri untuk tidak asal bicara. Dia bahkan memprakarsai penukaran dolar. Langkah semacam ini semestinya dimaknai sebagai simbolik, sehingga harus diapresiasi secara proporsional. Bukan justru dinyinyiri sebagai pencitraan semata.

Cuma memang di isu lain, sepertinya Sandiaga tak mendapatkan informasi yang memadai dari timnya. Misalnya, soal kebijakan Kementerian Agama untuk menata penggunaan pengeras suara di masjid-masjid. Dalam kasus ini dia masih offside atau kurang cermat karena menyandingkannya dengan bising suara knalpot di jalanan. Begitu juga soal tempe setipis kartu ATM dan pengakuan seorang ibu bahwa uang Rp 100 ribu cuma cukup untuk belanja bawang dan cabai.

Tapi, dalam pekan-pekan ke depan, saya percaya Sandiaga akan terus membenahi diri dan timnya. Begitu juga Erick. Besok-lusa bila sudah mulai benar-benar aktif bekerja akan terus mengingatkan tim kampanye maupun para relawan pada umumnya untuk tidak mudah terpancing merespons hal-hal tak substansial. Gunakan pilihan kata dan kalimat yang santun setiap kali berdebat di depan media, juga di media sosial.

Jika kelak ini terwujud, niscaya Erick dan Sandi akan dikenang tak cuma sebagai pengusaha yang pandai mendulang laba. Lebih dari itu adalah orang muda berjiwa sportif dan mampu membawa nilai-nilai sportivitas dunia olahraga ke ranah politik. Menggeser politik SARA ke politik yang benar-benar beradab.

Bila dunia politik selama ini cuma mengenal adagium "tak ada teman dan lawan abadi, kecuali kepentingan itu sendiri," cuma Erick Thohir dan Sandiaga Uno yang memupus adagium tersebut. Bagi keduanya, friendship is forever. Saling menjaga martabat masing-masing, juga martabat negeri ini. Insya Allah!

Sudrajat wartawan detikcom; tulisan ini pandangan pribadi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed