DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 05 Juli 2018, 11:48 WIB

Kolom

Pilpres Meksiko: Kekuatan Sepakbola dan Janji Bebas Korupsi

Bayu Diktiarsa - detikNews
Pilpres Meksiko: Kekuatan Sepakbola dan Janji Bebas Korupsi Andres Manuel Lopez Obrador (Foto: REUTERS/Goran Tomasevic)
Jakarta -

Felix Fernandez Christileb harap-harap cemas dengan kondisi Meksiko selama 9 bulan terakhir. Bagaimana tidak, sejak masa kampanye Pemilihan Presiden dan Senator, 133 politisi terbunuh tanpa sebab dan 543 insiden kekerasan terjadi kepada politisi, calon senator, dan gubernur di 32 negara bagian. Suasana mencekam di Meksiko terus menghantui mereka hingga Pemilihan Presiden yang berlangsung pada Minggu (1/7) lalu.

Namun, kekhawatiran mantan kiper timnas Meksiko tersebut tak terjadi sebab pemilihan presiden berlangsung bersamaan dengan momen Piala Dunia 2018. Banyak kalangan di Meksiko mensyukuri performa tim nasional mereka pada fase grup yang berdampak pada kondusifitas politik di Meksiko.

"Kami orang Meksiko tahu apa yang penting dan apa yang menarik. Politik menjadi kurang menarik dan sepak bola semakin penting," gurau mantan Felix Fernandez setelah mengetahui hasil hitung cepat.

Sepak bola memang menjadi pemersatu bagi 83 juta warga Meksiko. Kondisi negara yang tidak menentu selama masa kampanye dihiasi dengan tiga isu utama; kekerasan, narkoba, dan korupsi. Namun, semua mereda pada pertandingan pertama Meksiko melawan Jerman yang menyatukan seluruh warga Meksiko. Bahkan gempa artifisial sempat terjadi sebab lompatan besar seluruh warga Meksiko usai Hirving Lozano mencetak gol ke gawang Jerman pada laga penyisihan Grup E, Sabtu (16/6).

Rakyat Meksiko juga memiliki cerita menarik pada laga terakhir melawan Swedia. Rakyat Meksiko yang ada di Stadion Ekaterinburg Arena tertunduk lesu sebab Tim Nasional Meksiko tertinggal 0-3 dan membuat mereka terancam tak lolos ke babak 16 besar. Namun, sekali lagi takdir berpihak pada mereka karena Korea Selatan mampu mengkandaskan Jerman dengan skor 2-0. Sontak rakyat Meksiko yang sebelumnya berkumpul di alun-alun bergerak ke kawasan Kedutaan Korea Selatan di Mexico City.

"Staf Meksiko di kedutaan menangis dengan suka cita," ungkap Byoung-Jin Han, Konsul Jenderal Korea Selatan di Meksiko menanggapi mereka yang berkumpul di depan kantornya.

Lolosnya Meksiko ke babak berikutnya sebagai runner-up Grup F ternyata membuat jadwal babak 16 besar bagi Meksiko berlangsung pada Senin (2/7) atau satu hari setelah Pemilihan Presiden Meksiko.

Korupsi dan Amerika

Andres Manuel Lopez Obrador, seorang politisi sayap kiri memenangkan pemilihan Presiden Meksiko pada Minggu (1/7) dengan perolehan lebih dari 53% suara, unggul atas dua pesaingnya Ricardo Anaya dari Partai Aksi Nasional KonServatif dan Jose Antonio Meade dari Partai Revolusioner Institusional.

Semasa kampanye, Lopez Obrador sadar benar bahwa banyak rakyat Meksiko kecewa dan tak percaya pada politik sebab kondisi pemerintahan di Meksiko yang penuh korupsi. "Korupsi merupakan sumber masalah atas terjadinya tindakan kekerasan di Meksiko selama ini," ungkapnya.

Penampilan Meksiko di Piala Dunia 2018 turut menjadi pelecut semangat Lopez Obrador untuk mengalahkan Partai Revolusioner Institusional yang telah berkuasa selama satu abad penuh. Pesan kemenangan yang didapat oleh Meksiko setelah lolos ke babak 16 besar dimanfaatkan Obrador untuk menyampaikan bahwa rakyat harus turun tangan untuk mengubah sistem pemerintahan yang telah rusak.

"Ini adalah kemenangan Meksiko, ini adalah kemenangan kita," kata Obrador pada masa kampanye di salah satu negara bagian.

Selama kampanye, Lopez Obrador merupakan oposisi yang terus menentang presiden sebelumnya Enrique Pena Nieto yang sangat tidak populer karena kejahatan kekerasan dan korupsi di Meksiko. Maka tak heran, ia memenangkan pemilihan presiden di Meksiko dan berjanji untuk melakukan memberantas korupsi dan menanggulangi melonjaknya kejahatan kekerasan di Meksiko.

"Saya memiliki ambisi yang sah: saya ingin dicatat dalam sejarah sebagai presiden Meksiko yang baik," kata Lopez Obrador yang pernah mengalami kekalahan dalam dua pemilihan sebelumnya.

Kemenangan ini sekaligus menebus dua kekalahannya pada Pemilu 2006 dan 2012 yang lalu. Obrador yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Mexico City tidak pernah berhenti berjuang selama 13 tahun untuk merebut kursi kepresidenan. Ia juga berjanji menjual pesawat kepresidenan, tak menggunakan istana kepresidenan dan memangkas gajinya saat menjabat nanti.

Obrador memang terkenal sebagai politisi yang peduli pada nasib kaum buruh dan turut berkonfrontasi dengan Amerika Serikat. Maka tak heran ketika Donald Trump terpilih dan berkata bahwa akan memulangkan imigran Meksiko serta menuntut agar Meksiko ikut membiayai pembangunan tembok perbatasan Amerika -Meksiko, ia adalah penentang terbesar kebijakan Amerika Serikat tersebut.

Sinyal ketidaksukaan rakyat Meksiko terhadap Amerika Serikat tersalurkan pula lewat sepakbola. Patut diingat, keikutsertaan Meksiko di Piala Dunia kali ini tak lepas dari dua pertandingan penentu zona Amerika Tengah dan Utara pada September 2017. Meksiko berhasil lolos berkat kemenangan 1-0 atas Panama serta kekalahan seteru abadi, Amerika Serikat dari Kosta Rika.

Hasil dari pertandingan itu dimaknai suka cita oleh rakyat Meksiko sebab selain lolos, mereka unggul atas Amerika Serikat dalam hal sepakbola. Barangkali hal inilah yang membuat nama Obrador melambung tinggi sebab ketidaksukaan dengan Amerika Serikat bersamaan dengan Meksiko yang bersinar di Piala Dunia 2018.

Fans Meksiko bahkan menempatkan foto-foto kiper Ochoa untuk menyindir rencana Donald Trump. "Hei kami sudah punya dinding pembatas," tulis warganet Meksiko di media sosial.

Namun sayang, sehari setelah pemilihan presiden rakyat Meksiko harus menerima kenyataan bahwa Rafael Marquez dkk harus takluk 0-2 oleh Brazil yang merupakan favorit juara. Walaupun kalah, euforia dan pengaruh sepakbola di Meksiko sangat kental hingga mempengaruhi konstelasi politik di negara penggagas Mexican Wave tersebut.

Refleksi bagi Indonesia

Menilik hasil pemilihan presiden di Meksiko, tentu menjadi refleksi bagi Indonesia yang memiliki sejumlah kesamaan. Isu seputar korupsi yang masih merebak seperti pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kesukaan dengan sepakbola, dan sedang panas menjelang Pemilihan Presiden 2019. Namun, kita memiliki perbedaan; tim nasional Meksiko mampu tampil di kancah Piala Dunia, sementara di kita pengurus sepakbola maju di ranah pilkada.

Menangnya Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi melawan orang lama PSSI Sihar Sitorus dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara menjadi sinyalemen bahwa selama ini jabatan di federasi PSSI hanya menjadi kendaraan politik semata. Hal ini diperkuat dengan majunya mantan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid di Sulawesi Selatan. Namun, ia harus menderita kekalahan berbarengan dengan Munafri Ariffudin CEO PSM Makasar yang kalah melawan kotak kosong. Belum lagi beberapa calon kepala daerah yang memiliki hubungan dengan klub bola di Indonesia menandakan bahwa kemajuan sepakbola jauh dari harapan.

Berbeda dengan Meksiko yang dengan sepakbola mereka penuh inspirasi di atas kepentingan politik, di Indonesia kepentingan politik di atas kepentingan sepakbola. Barangkali inilah yang mengakibatkan kondisi sepakbola kita tak mampu berbicara banyak, jangankan di level dunia, di regional Asia Tenggara saja kita tak mampu. Belajar dari Meksiko, kita harus mengambil setidaknya dua inspirasi untuk tampil di Piala Dunia. Pertama, jauhkan kepentingan pribadi di atas kemajuan sepakbola Indonesia; kedua, jauhkan negeri dari Korupsi.

Bayu Diktiarsa peneliti di Malang Corruption Watch




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed