DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 15 Mei 2018, 11:40 WIB

Kolom

Anak dalam Pusaran Terorisme

Badrul Munir - detikNews
Anak dalam Pusaran Terorisme Foto: Zaenal Effendi/detikcom
Jakarta -
Yang mengagetkan dan membuat miris dari aksi pengeboman teroris di Surabaya adalah mengikutsertakan wanita dan anak di bawah umur untuk melancarkan aksinya. Anak-anak yang masih suci dan lugu "dimanfaatkan" oleh orangtuanya untuk ikut aksi brutal dan sadis ini. Sebuah fenomena yang perlu kita waspadai, bahwa ajaran kekerasan dan radikalisme telah diwariskan dan reproduksi secara dini oleh orangtuanya.

Reproduksi Radikalisme

Dalam ilmu tumbuh kembang otak, neuron terbentuk sejak dalam kandungan sampai maksimal 2 tahun umurnya. Pembentukan otak manusia manusia sangat berkembang pesat sejak kelahiran sampai menjelang remaja. Hal ini dikarenakan terjadi proses pembentukan hubungan antarsel neuron satu dengan ribuan sel neuron lain yang disebut sinaptogenisis. Maka, apapun yang masuk ke otak mereka akan membentuk sifat dan corak sinaps (sel-sel persimpangan), yang akhirnya membentuk fungsi dan anatomi sinaps tersebut (plastisitas).

Sinaps tersebut akan sangat mempengaruhi kerja neuron. Hal ini dikarenakan ada komunikasi yang terus-menerus di antara beberapa neuron yang diperantarai oleh ribuan neurotransmiter dan pertukaran ion di celah sinaps sepanjang stimulus tersebut masih ada. Dan, stimulus itu masuk ke otak melalui panca indera anak yang didapat dari lingkungan sekitarnya. Di sinilah pentingnya memberi stimulus yang baik ke dalam anak kita sejak dini.

Dalam neurosains fungsi pemahaman masuk ranah kognisi, dan ini dilakukan oleh kerja otak di lobus frontalis, parietalis, dan sistem limbik, serta hipokampus. Apapun yang dilihat, didengar, dibaca, dan dirasakan oleh panca indera anak akan sampai ke daerah ini, dan akan membentuk sinaps secara permanen bila paparan itu terus-menerus terjadi alam jangka panjang.

Apabila sejak dini anak sudah terpapar hal yang tidak baik seperti kekerasan atau radikalisme, maka dalam otaknya akan terbentuk memori, dan pemahaman kekerasan dan radikalisme yang tersimpan dalam memori permanen di hipokampus dan lobus frontalis maka kelak dia akan tumbuh dalam karakter yang mudah menumpahkan memori kekerasan di otaknya.

Memori kekerasan dan radikalisme permanen ini bila sudah terbentuk akan sulit dihilangkan walaupun mendapatkan upaya pemahaman yang benar tentang kekerasan (deradikalisasi). Apalagi bila memori ini ditambah dengan keyakinan yang bersifat transendental dengan pemahaman yang salah terhadap ajaran Tuhan sambil berimajinasi tentang kebahagiaan di alam baka setelah misi radikalisasi dilaksanakan.

Deradikalisasi Usia Dini


Maka, upaya deradikalisme harus menyasar anak usia dini. Di sinilah peran keluarga dan sekolah untuk menanamkan nilai kebenaran universal bersama sejak dini tanpa harus menggadaikan keyakinan pokok dasar keagamaan. Membiasakan saling berbaur satu sama lain antarpemeluk agama, menjalin kerja sama dalam urusan sosial, dan kemanusiaan serta menghindari bentuk eksklusif di masyarakat perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi paparan positif yang ikut masuk ke otak mereka.

Deradikalisasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah mungkin perlu ditambah dengan upaya pendekatan ke lembaga pendidikan usia dini. Di sinilah peran dinas terkait untuk merumuskan suatu kebijakan dan kurikulum yang bisa diterapkan untuk meminimalisasi, bahkan menghilangkan potensi paparan radikal di pendidikan dini. Karena bila sejak dini anak sudah dipaparkan seperti ini maka dia akan menjadi ingatan permanen dalam otaknya, sehingga kelak saat dewasa dia sudah punya pemahaman kuat tentang kebenaran, dan tidak mudah menyesatkan orang lain yang kebetulan berbeda pandangan dalam beberapa hal.

Dalam upaya deradikalisasi kita juga berharap pemerintah dan DPR memberi payung hukum yang kuat dalam penanganan teroris dengan mengesahkan UU Antiterorisme. Berlama-lama dengan ketiadaan payung hukum akan memberi waktu kepada generasi teroris untuk konsolidasi dan menyiapkan diri, termasuk memberi kesempatan kepada mereka menjejali anak mereka dan generasi muda lainnya yang otaknya polos dengan ajaran kekerasan dan radikalisme yang mereka pahami.

Tentunya tetap diperlukan pengawasan dari pihak berwenang terhadap upaya pencegahan teroris ini agar tidak jatuh ke dalam kesalahan, yakni pelanggaran HAM yang merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai. Dan, lebih penting pemerintah juga harus menyelesaikan akar masalah terorisme ini. Menurut beberapa ahli akar utama terorisme adalah kemiskinan, rasa ketidakadilan, kesenjangan ekonomi dan sosial, serta distorsi pemahaman agama; semua harus diselesaikan secara transparan dan berkelanjutan.

Bersatu Melawan

Hal lain kita berharap agar kejadian pengeboman sadis menjadi alat kita untuk saling bekerja sama sesama anak bangsa dalam melawan teroris. Jangan sampai duka ini menjadi alat untuk menyerang lawan politiknya dengan tujuan perebutan kekuasaan di tahun politik ini. Terlalu hina bila itu dilakukan oleh siapapun karena pengeboman dan teror ini mengancam keutuhan dan keberlanjutan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Beberapa informasi di media sosial mengarah ada upaya pembelokan pengeboman ini untuk kepentingan perebutan kekuasaan. Sudah layaknya hal itu dihentikan sekarang juga karena akan kontra-produktif terhadap upaya penyelesaian masalah ini.

Kita berharap pengeboman teroris di Surabaya ini merupakan kejadian terakhir dari aksi kekerasan di negeri ini, karena sungguh sangat miris melihat korban yang tidak bersalah harus meregang nyawa akibat tindakan bar-bar seperti ini. Sebuah kebiadaban yang hanya bisa dilakukan dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai hati nurani, lebih-lebih melibatkan anak-anak yang dicuci otaknya dan kelak mereka akan menjadi generasi perusak bagi lingkungannya.

Badrul Munir dokter spesialis saraf dan dosen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed