DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 27 April 2018, 11:10 WIB

Kolom

Serangan Balik Mafia Bank Century dan BLBI?

Fuad Bawazier - detikNews
Serangan Balik Mafia Bank Century dan BLBI? Boediono di pusaran kasus Bank Century (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah)
Jakarta - Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Effendi Mukhtar yang dalam Praperadilan memutuskan memerintahkan KPK agar menetapkan Budiono dkk sebagai tersangka skandal pembobolan (bail-out) Bank Century Rp 6,7 Triliun hanya dalam bilangan hari langsung didemosi menjadi hakim Pengadilan Negeri Jambi alias turun kelas. Padahal putusan hakim ini seharusnya diacungi jempol, dan diapresiasi sebab mengakhiri kebuntuan pengusutan perkara Bank Century (BC).

Meskipun kejadiannya telah 10 tahun sejak bail-out 2008 hingga sekarang 2018, KPK selalu berdalih bahwa pengusutan skandal BC masih dalam penyelidikan alias belum ada tersangka baru. Publik sulit menerima alasan KPK ini sebab kasusnya sudah terang benderang dengan bukti-bukti yang sudah berkali-kali jadi bahasan umum di banyak tempat dan kesempatan dengan mengungkapkan berbagai macam pelanggaran dan ketidaklaziman proses bail-out BC.

Di lain pihak, KPK yang de facto "tidak mampu" alias de facto dinilai menghentikan perkara ini, dikhawatirkan publik bahwa lama-kelamaan kasus ini akan kedaluwarsa. Anehnya, KPK juga tidak mau mengalihkan perkara ini ke kepolisian atau kejaksaan (yang bila tidak terbukti bisa menerbitkan SP3), atau membentuk TGPF bila benar-benar kesulitan mencari bukti-bukti. Jadi logislah bila publik menduga bahwa KPK memang sengaja mendiamkan alias melindungi perkara ini agar tidak berlanjut.

Jika demikian tentu ada kekuatan hebat yang mampu menekan atau "menitipkan" perkara BC ini kepada KPK agar tidak berlanjut. Dalam situasi inilah MAKI (penggugat) menduga bahwa KPK diam-diam telah menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya dengan mendiamkan atau melindungi pelaku skandal BC, dengan cara tidak meningkatkan pengusutannya ke penyidikan. Karena itu MAKI mengajukan gugatan praperadilan, dan hakim cerdas Effendi Mukhtar yang menggunakan akal sehat dan hati nuraninya untuk membaca aspirasi atau tuntutan keadilan masyarakat telah membuat putusan yang merupakan terobosan untuk mengakhiri kemacetan perkara BC.

Dalam penafsiran kami putusan ini jelas untuk menghentikan alasan yang dinilai hanya akal-akalan KPK. Apalagi ada bocoran informasi dari dalam KPK sendiri bahwa perkara BC sebenarnya sudah lama selesai, tinggal keputusan pimpinan KPK sendiri maunya bagaimana?

Bagi saya yang tahu dan mengikuti langsung skandal atau perkara pembobolan perbankan sejak era BLBI (1997/1998) yakin betapa kuatnya mafia perbankan ini, baik secara finansal (dari dana perampokannya itu) maupun jaringan politiknya di banyak jajaran penguasa. Karena itu saya menduga kuat (dalam hati sebenarnya sudah amat yakin) bahwa mafia perbankan ini (BLBI dan Bank Century) marah besar dengan putusan hakim Effendi Mukhtar yang bukan saja mengusik kenyamanan atau strategi mereka tapi takut merembet ke BLBI.

Sekali lagi saya tidak menuduh karena saya bukan aparat hukum yang mampu mengumpulkan bukti-bukti, cuma haqqul yakin bahwa mafia perbankan ini marah dan hakim Effendi Mukhtar terkena imbas kemarahan mafia sekaligus sebagai peringatan bagi yang lain yang coba-coba mengusik BLBI dan Bank Century. Indikasi lain, mereka yang buron juga sulit tertangkap atau dibawa pulang ke Indonesia; dan, harta mereka yang sebenarnya kita semua tahu dan ada di depan mata, tidak disita (untuk menutup kerugian negara) karena sekali lagi saya yakin ada kekuatan besar yang melindunginya.

Tapi, kami yakin Allah Yang Maha Kuasa tidak tidur, dan karena itu cepat atau lambat kebusukan itu akan terungkap. Kini semua terpulang kepada independensi dan nyali KPK. Monggo melangkah maju dengan atau tanpa putusan hakim praperadilan. We love you, KPK!

Dr. Fuad Bawazier pengamat ekonomi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed