DetikNews
Jumat 27 Februari 2015, 10:30 WIB

Kolom Refly Harun

Keajaiban Dunia itu Bernama Thawaf

- detikNews
Keajaiban Dunia itu Bernama Thawaf Refly Harun (Foto - detikcom)
Jakarta - Bacaan talbiyah yang selalu didendangkan penziarah Illahi dalam prosesi haji dan umroh tersebut saya cermati pertama kali dalam film the Message yang dibintangi Anthony Quinn (1976), film yang menggambarkan sejarah Nabi Muhammad. Kumandang talbiyah tersebut terjadi ketika pasukan muslimin memasuki kota Mekah. Beruntung akhirnya saya pun dapat mengalunkannya setelah berihram dari Madinah sebelum memasuki kota suci Mekah pada awal tahun ini.

Mekah dan Madinah, dua kota suci bagi umat Islam, terpikirkah kita semua untuk datang ke sana? Banyak yang merindukannya, tetapi tidak sedikit yang tak membayangkan ingin menziarahi dua kota suci tersebut. Saya, terus terang, termasuk yang hampir tidak pernah membayangkan sebelumnya. Padahal, sudah lima benua saya kunjungi (Asia, Australia, Amerika, Afrika, dan Eropa) – alhamdulillah belum ada yang dengan menggunakan uang negara. Hingga sang istri, dengan tanpa izin dan omong-omong lagi, mendaftarkan saya untuk berhaji.

Saya menyerah, tetapi hingga kini saya belum beruntung untuk menapak tanah suci dalam prosesi haji. Mendaftar pada tahun 2012 dengan embel-embel “ONH plus”, hingga sekarang masih gelap kapan giliran menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Saya tidak protes dan tidak pula menuntut untuk buru-buru memenuhi panggilan berhaji. Tidak pula berupaya untuk ber-KKN dengan orang-orang penting di negeri ini agar giliran dipercepat.

Prinsip saya, mau beribadah kok KKN. Saya pernah mengkritik seorang anggota DPR yang memanfaatkan jabatannya untuk naik haji, gratis pula. “Abang sudah menzalimi orang yang antre naik haji. Tidak bayar pula,” sindir saya kepada sang anggota DPR, yang kebetulan satu daerah dengan saya. Ia bersumpah-sumpah bahwa baru naik haji kali itu saja, tidak berkali-kali seperti yang saya tuduhkan.

Tapi saya yakin banyak pejabat publik memanfaatkan jabatan untuk menembus birokrasi perhajian agar bisa berangkat cepat. Saya membayangkan apa doa mereka diterima bila cara berangkatnya dengan menggusur orang lain yang antre bertahun-tahun, terutama mereka yang menggunakan ongkos naik haji reguler. Jawabannya hanya Allah yang tahu, walaupun perasaan tetap ingin protes. Ibadah yang baik harusnya tidak dimulai dari perilaku ber-KKN, yang dalam banyak hal masih permisif di negeri ini.
Umroh Dulu

Istri, dengan sponsor ibu di Palembang, tak kalah akal. Ia mendaftarkan saya dan dirinya untuk ikut umroh awal tahun ini, dengan travel yang sama. Umroh tidak perlu antre. Kapan pun mendaftar, bulan itu pula dapat berangkat.

Kata orang Minang, yang penting ado pitinyo. Uangnya memang tidak sedikit, bisa lebih dari Rp 30 juta per orang. Luar biasa. Meski terhitung mahal untuk rata-rata orang kebanyakan, jemaah umroh tak pernah putus sepanjang tahun. Saya membayangkan, dari kacamata duniawi, begitu dahsyatnya bisnis umroh dan haji ini.

Terbang antara 8-9 jam ke Madinah tidak membuat saya merasa lama dan penat. Saya begitu cepat tertidur di pesawat. Niat awalnya ingin menulis sesuatu di atas pesawat, tetapi dasar sedikit sial, keyboard ipad tidak bekerja. Saya tidak
biasa menulis hanya dengan sekadar touch screen. Untungnya saya tertidur dan baru bangun ketika waktu Indonesia barat saya menunjukkan pukul 08.30 atau pukul 04.30 waktu Madinah. Dua jam lebih sedikit lagi kami akan mendarat.

Mendarat di Madinah sekitar pukul 07.00 waktu setempat, melakukan prosedur imigrasi seperti di tempat-tempat lainnya di dunia, rombongan akhirnya tiba di Hotel Dyar International menjelang pukul 21.00 waktu setempat. Ketakjuban saya sebagai pemula umroh dimulai.

Keajaiban Raudhah

Di masjid Nabawi ada tempat bernama Raudhah yang berarti taman surga, yaitu ruang yang dahulunya antara mimbar dan kamar Rasulullah (kini makam Rasulullah). Jutaan manusia yang berziarah ke Madinah pasti punya tujuan yang sama: menjejak Raudhah. Shaf depan masjid Nabawi yang berukuran 22 x 15 meter ini, konon, adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Apa pun doa yang dipanjatkan, insya Allah, dikabulkan.

Tidak beda dengan jutaan umat manusia yang lain, saya pun ingin menjejak Raudhah. Subuh pertama di masjid Nabawi saya kurang beruntung. Datang ke masjid pukul 04.00 untuk waktuh Subuh yang baru pukul 06.00 waktu setempat tidak berarti apa-apa. Raudhah sudah fully occupied oleh pencari Ilahi. Saya hanya kebagian shaf sedikit depan.

Pagi harinya, dengan dipimpin Ustad Ali Hasan Albahar, doktor lulusan Jordania yang menjadi ketua rombongan, kesempatan itu pun datang. Setelah antre dan berdesak-desakan, Raudhah pun terjejak. Saya terus mepet ke area dinding makam Rasulullah. Di situ saya salat dua rakaat. Baru saja selesai salat, langsung dicolek askar Arab supaya segera berlalu untuk memberikan pencari Tuhan lainnya.

Doa pun mana bisa khusuk. Tapi mudah-mudahan itu pun bisa dikabulkan di tempat yang mustajab itu. Saya sendiri lupa doa apa yang saya ucapkan karena saking banyaknya. Satu yang tidak pernah saya lupa setiap berdoa: minta ampun atas dosa-dosa
yang dilakukan. Selalu begitu, tetapi selalu pula dosa diperbuat. “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.” Fenomena itu telah dituliskan dalam lirik lagu Berita kepada Kawan yang didendangkan Ebiet G Ade.

Pada Subuh kedua di masjid Nabawi, saya menjejak Raudhah lebih lama, berjam-jam. Pukul 02.00 saya ke masjid. Setelah merangsek, sekitar pukul 02.15 saya sudah di wilayah Raudhah. Belum bisa apa-apa, selain berdiri saja. Slot untuk duduk, terlebih salat, belum didapat awalnya, tetapi beberapa menit kemudian kesempatan datang juga. Puluhan rakaat saya habiskan untuk salat sunah di Raudhah, dengan kondisi yang berimpit dengan penziarah lain. Tempat favorit saya tetap: dekat makam Rasulullah.

Selama duduk, salat, dan berdoa di sana, ada pula rasa khawatir bakal diusir askar Arab atau elite-elite Nabawi yang menunjukkan penampilan aristokrat khas Arab: jubah putih, syal kotak-kotak kecil berwarna merah putih, peci, serta cambang dan janggut tercukur rapi. Untunglah hingga selesai prosesi Subuh sekitar pukul 6.30 saya tetap di taman surga. Ada keajaiban dunia di sana. Manusia tidak pernah berhenti ingin menjamah dan menjejaknya. Raudhah tidak pernah tidur. Selalu ada tamu Allah yang datang.


Rumah Allah

Efisode selanjutnya di Masjidil Haram di kota suci Mekah. Saya melihat istri saya berkaca-kaca ketika melihat Baitullah untuk pertama kalinya secara langsung. Pengalaman bagi laki-laki sendiri sudah dimulai ketika berpakaian ihram: dua lembar kain putih tanpa jahitan. Teknik mengenakan ihram pun harus tepat. Bahaya bila melorot karena tidak diperkenankan memakai apa-apa lagi selain dua lembar kain putih, yang menutupi bagian bawah dan atas tubuh. Salah seorang jemaah,

Pak Hasyim, sempat melorot ihramnya ketika salat Ashar di Shafa, yang sempat membuat senyum jemaah. Untung melorotnya tidak fatal.Ihram sudah dikenakan di Mekah. Jarak antara Mekah dan Madinah sekitar 490 km yang akan memakan waktu 6-7 jam bila ditempuh dengan bus. Masih dipimpin Ustad Ali, kami mampir dulu di masjid Bir Ali untuk miqat, yaitu tempat untuk melafalkan niat umroh. Masjid Bir Ali terletak kurang lebih 9 km dari Madinah.

Perjalanan Madinah-Mekah dengan bus AC terbilang nyaman karena jalan yang lebar, datar, dan relatif lurus, tanpa kelokan. Hanya sekali saja kami mampir untuk buang air atau memperbarui wudhu. Sekitar pukul 22.00 waktu setempat kami tiba di hotel, yang terletak di pelataran Masjidil Haram. Kami langsung ke restauran untuk makan malam, sementara koper-koper langsung diletakkan di depan pintu kamar masing-masing.

Selesai makan malam, kami langsung menuju kamar masing-masing untuk menjamak salat Maghrib dan Isya, lalu berkumpul di lobi hotel untuk memulai perjalanan umroh di Kabah. Semuanya tetap dengan berpakaian ihram. Masuk ke Baitullah, saya melihat mata istri saya berkaca-kaca. Entah apa yang ia pikirkan. Prosesi umroh berjalan lancar, mulai dari thawaf, yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuk kali, dan Sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, juga sebanyak tujuh kali.

Sebagian kami, termasuk saya, menunaikan ibadah umroh sebanyak dua kali. Satu kali umroh dilakukan dengan miqat di masjid Ja’ronah, yang berjarak sekitar 24 km dari Masjidil Haram. Umroh kedua ini saya niatkan untuk kakak yang telah berpulang pada 29 Januari 2013. Semoga Allah menerima arwahnya.

Keajaiban Dunia

Cerita tentang haji dan umroh adalah cerita klasik jutaan manusia yang menjadi tamu Allah. Masing-masing pasti membawa cerita dan kesan tersendiri. Bagi saya, hal yang paling mengesankan dan membuat takjub adalah fenomena thawaf, yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali baik waktu haji maupun umroh.

Seperti halnya Raudhah, Kabah tidak pernah tidur karena tamu Allah datang selama 24 jam dari seluruh penjuru dunia. Thawaf pantas masuk dalam keajaiban dunia. Lebih ajaib dari apa pun yang saat ini ditahbiskan sebagai tujuh keajaiban dunia. Tembok China, misalnya, memang ajaib dilihat dari besarnya bangunan, terlebih dikaitkan dengan kesulitan membangun dalam masa itu. Namun, keajaiban tersebut bersifat statis.

Thawaf adalah suatu kegiatan yang melibatkan jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia. Gerakan mengelilingi Kabah tersebut tidak pernah berhenti. Hanya salat wajib lima waktu yang menghentikan gerakan thawaf, tetapi penziarah-
penziarah rumah Allah akan bergerak kembali begitu salat wajib selesai.

Sependek pengetahuan saya, tidak ada suatu kegiatan yang melibatkan umat dari seluruh penjuru dunia, dengan ras berbeda, tanpa dikomando, dengan kesadaran sendiri. Saya merasa ada sesuatu yang salah ketika thawaf tidak masuk dalam keajaiban dunia. Fenomena thawaf inilah yang menggerakkan saya untuk menulis pengalaman menjadi tamu Allah untuk pertama kali, yang selama ini tak sempat saya pikirkan.

Menurut Ustad Ali, lokasi Kabah satu jurusan dengan Baitul Makmur, tempat para malaikat berthawaf di langit. Menurutnya, thawaf tidak akan berhenti hingga akhir zaman. Andaipun umat manusia sudah musnah dan tidak ada lagi yang berthawaf, Allah akan memerintahkan para malaikat-Nya untuk berthawaf. Hal-hal seperti ini memang soal keyakinan. Hanya keyakinan yang bisa mencerna dan menerimanya.

Namun, fenomena thawaf itu sendiri kasat mata, bisa dilihat. Keajaiban yang sungguh sangat ajaib ini sayangnya tidak dilirik sebagai pemuka dari the seven wonders of the world. Bagi saya, sungguh, thawaf adalah keajaiban. Keajaiban dunia tersebut bernama thawaf.

Saya berdoa diberi umur, kesehatan, dan kelapangan rezeki untuk kembali pada keajaiban tersebut. Labbaik Allah humma labbaik...


*Refly Harun, hamba Allah, tinggal di Jakarta


  • Keajaiban Dunia itu Bernama Thawaf
    Refly Harun (Foto - detikcom)
  • Keajaiban Dunia itu Bernama Thawaf
    Refly Harun (Foto - detikcom)

(erd/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed