DetikNews
Senin 14 Apr 2014, 10:58 WIB

Presiden, Antara yang Diinginkan dan Dibutuhkan

Amril Jambak - detikNews
Presiden, Antara yang Diinginkan dan Dibutuhkan
Jakarta -

Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 usai sudah. Penghitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei menempatkan PDIP di posisi teratas. Seperti quick count CSIS & Cyrus, dimana PDIP memperoleh 19,20 persen suara, Partai Golkar 14,40 persen dan Partai Gerindra 11,90 persen suara. Meratanya perolehan suara untuk PDIP, Golkar, dan Gerindra diprediksi akan membuat koalisi makin sulit ditebak. Diprediksi akan ada tiga atau empat pasang dalam Pilpres 2014.

Ketua Departeman Hubungan Politik dan Internasional dari CSIS, Philips J Vermonte mengatakan selain PDIP, Golkar dan Gerindra yang memiliki suara tertinggi, ada juga Partai Demokrat, PKB, maupun Partai Nasdem masih mempunyai peluang besar untuk diajak berkoalisi. Ketiga partai ini memiliki suara yang tidak terpaut jauh dengan perolehan suara Golkar dan Gerindra.

"Mungkin ada 3-4 pasang karena suaranya merata," ujar Philips. Ini terjadi karena semua partai politik belum ada yang mencapai syarat 25 persen.

PDIP yang diprediksi akan menjuarai perolehan pileg diatas 25 persen, ternyata tidak tercapai. Padahal dengan pencapian angka 25 persen, dan mengajukan pencalonan capres-cawapres tersendiri, PDIP dipastikan mampu membentuk kabinet yang profesional tanpa harus berkoalisi. Namun jika PDIP Kalah, oposisi merupakan opsi lain yang dia ambil.

Sosok Prabowo yang menjadi figur dalam tubuh Gerindra pun akan cocok untuk dicalonkan menjadi presiden. Pasalnya loyalis Gerindra, mampu membedakan siapakah yang harus mereka pilih sebagai pemimpin bangsa.

Sedangkan partai Golkar yang konsisten selama perjalanan pemilu wajib untuk diperhitungkan, sekalipun Aburizal Bakrie, kalah dibandingkan Jokowi dan Prabowo. Tapi banyak rakyat telah memilih Golkar sebagai partai pilihan mereka.

Jika berkaca dari tiga besar parpol pemenang pileg hasil quick count tersebut. Tiga nama yang telah disampaikan Ketua Departeman Hubungan Politik dan Internasional dari CSIS, Philips J Vermonte, bisa jadi bertarung dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

Penulis mencatat, di dalam konteks seharian, ada dua bahasa yang perlu dicermati, yakni diinginkan dan dibutuhkan. Diinginkan belum tentu dibutuhkan. Secara lahiriah, keinginan bagaikan hawa nafsu yang hendak dilepaskan sesaat. Artinya diinginkan, memandang sesuatu tapi tidak memikirkan jangka panjang.

Sedangkan yang dibutuhkan, merupakan keharusan dan penting, karena berbagai pertimbangan dengan memandang ke depan. Lalu seperti apa pemimpin yang dibutuhkan ataupun yang diinginkan?

Kata-kata itulah yang terlontar dari seorang sopir taksi. “Kalau dibutuhkan itulah menjadi prioritas. Tapi yang diinginkan hanya melihat kondisi sekarang, tidak melihat ke depan. Artinya, yang diinginkan belum tentu dibutuhkan,” ungkap sopir tersebut, ketika berbincang dengan penulis, baru-baru ini.

Mengutip tulisan Prof Dr Baharuddin, M.Ag, Guru Besar STAIN Padangsidempuan. Dalam pandangan teori Psikologi Islam, suatu tingkah laku selalu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan atau pemenuhan keinginan.
 
Meskipun suatu tingkah laku atau tindakan yang sama dalam bentuk dan jenisnya tetapi karena berbeda dalam proses terjadinya, di mana ada yang didasarkan untuk memenuhi kebutuhan dan yang lainnya didasarkan keinginan, maka tindakan tersebut menjadi berbeda.

Tindakan yang didasarkan kebutuhan adalah tindakan dalam rangka memelihara dan mengembangkan potensi diri. Sementara tindakan atas dasar keinginan adalah tindakan yang berorientasi kepada memperoleh kenikmatan atau kelezatan dan menjauhi ketidaknyamanan. Sesuatu yang mendatangkan kenikmatan akan dilakukan dan sesuatu yang akan mendatangkan ketidaknyamanan pasti dijauhi.

Tindakan makan dan minum misalnya, dapat menjadi perbuatan yang didasarkan atas kebutuhan atau atas dasar keinginan. Makan dan minum yang dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan biologis untuk mempertahankan kehidupan merupakan contoh dari tindakan yang didasarkan oleh kebutuhan. Namun dalam waktu yang sama, makan dan minum bisa saja bukan dalam rangka memenuhi kebutuhan biologis untuk mempertahankan hidup, bisa juga untuk memenuhi keinginan hawa nafsu karena memang makan dan minuman yang tersedia sangat lezat.

Seseorang akan makan dengan sebanyak-banyaknya kerena memang makanannya lezat. Tetapi kalau makanannya kurang lezat, dia tidak akan memakannya. Jadi, perbuatan makan dilakukan karena kelezatan makanan tersebut.

Jadi, tingkah laku yang didasarkan oleh pemenuhan kebutuhan selalu berhubungan dengan potensi diri. Sementara tingkah laku yang didasarkan kepada keinginan selalu berhubungan dengan hasrat kepada yang menyenangkan atau menjauhi yang tidak menyenangkan.

Atau dengan kata lain, memuaskan dorongan untuk mendapat kenikmatan dan menghindar dari yang tidak menyenangkan. Demikianlah, suatu tingkah laku yang didasarkan kepada kebutuhan tetap akan dilakukan meskipun dalam waktu tertentu tidak menyenangkan, namun karena itu merupakan pengembangan potensi diri, maka dia tetap akan melakukannya.

Di sinilah terjadi dinamika tingkah laku, dalam realitas kehidupan selalu saja ada orang yang bertingkah laku berdasarkan kebutuhan dan ada pula orang lain yang bertingkah laku atas dasar keinginannya. Termasuk dalam hal pemilihan pemimpin, contohnya Pilkada Bupati atau Walikota dan Wakilnya, seseorang selalu menentukan pilihannya atas dasar kebutuhan atau keinginan.

Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu mengembangkan seluruh potensi, mulai dari potensi fisik-material maupun psikologis-immaterial sampai pada potensi sumber daya manusianya. Pemimpin yang demikian harus memiliki keutuhan kepribadian, wawasan keilmuan yang luas, kecerdasan multidimensional, keagungan akhlak, dan kematangan profesional. Pemimpin dengan ciri-ciri demikian tidak akan melakukan hal-hal rendahan demi kepentingan pemenangannya karena visi dan misinya adalah mengembangkan sumber daya.

Demikianlah, sehingga ia tidak laku bagi para pemilih yang mendasarkan pilihannya pada kepuasan fisik-biologis dan material. Ia jauh melampaui cara berpikir materialis, sehingga sangat sulit memenangkan pemilihan, sekalipun pada hakikatnya kita membutuhkan pemimpin yang seperti ini. Pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang dapat memuaskan keinginan pemilihnya, baik material maupun immaterial.

Pemimpin yang model ini selalu dipertimbangkan berdasarkan kelompok organisasi dan golongan, hubungan keluarga, hubungan pertemanan, keuntungan material, janji politik, suku, ras, bahkan agama. Calon pemimpin yang memiliki kedekatan teman, organisasi, suku, ras, dan lain sebagainya itu yang akan menjadi pilihan. Jadi, memilih pemimpin adalah atas dasar kepentingan-kepuasan-keinginan yang dibungkus dengan kedekatan-kedekatan tersebut.

Pemimpin yang diperkirakan akan memenangkan pertarungan selalu adalah pemimpin yang diinginkan, sekalipun tidak dibutuhkan. Karena memang realitas pemilih mayoritas memilih pemimpin yang diinginkan.

Pemimpin yang demikian menjanjikan sejumlah hal yang dapat memuaskan keinginan mereka, baik keinginan material maupun immaterial. Mereka tidak peduli apakah pemimpin itu akan mengembangkan potensi yang ada atau tidak, bagi mereka memuaskan keinginan adalah segala-galanya.

Orang akan puas dengan mendapatkan sesuatu, misalnya kaos, gambar, spanduk, ongkos, atau uang. Bukan kebutuhan untuk mengembangkan potensi daerah. Demikian juga, mereka rela menggadaikan suaranya, demi sedikit imbalan yang mereka terima. Mereka merasa berhutang budi, hanya karena selembar kaos, atau lainnya, padahal akibatnya mereka akan mengalami stagnasi dalam pengembangan potensi daerahnya.

Semoga kita semakin cerdas memilih pemimpin kita di masa akan datang. Berpikirlah sebelum memilih, jika tidak ingin menyesal.

*) Amril Jambak adalah wartawan di Pekanbaru, Riau, sekaligus peneliti di Forum Dialog Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia.


(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed