DetikNews
Jumat 24 Mei 2013, 20:56 WIB

Opini

e-KTP, Kelemahan dan Harapan: Berkaca pada Swedia

- detikNews
e-KTP, Kelemahan dan Harapan: Berkaca pada Swedia
Stockholm - Terlepas dari polemik untuk sisi teknologinya, isu apakah e-KTP dapat difoto copy atau tidak atau sangkaan korupsi dananya, ada hal lain tak kalah penting yang melekat pada e-KTP tersebut yakni Nomor Induk Kependudukan (NIK). Tentang NIK ini jarang dibahas dan nampaknya belum banyak diketahui oleh masyarakat.

Meskipun ada suara skeptis mengenai dana proyek ini, pengadaan sistem single identity number<\/em> (SIN) ini memang sebuah terobasan baru yang jika dapat diimplementasikan dengan benar maka dipastikan akan menguntungkan rakyat.

NIK <\/strong>

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, NIK adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia dan berlaku seumur hidup dan selamanya.

NIK ini ditentukan dan dikelola oleh Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil dari Kementerian Dalam Negeri.

NIK terdiri dari 16 digit di mana 6 digit pertama adalah informasi mengenai tempat di mana NIK diterbitkan (2 digit kode provinsi, 2 digit kode kota\/kabupaten, dan 2 digit kode kecamatan).

Enam digit selanjutnya merupakan tanggal lahir dalam format tanggal bulan tahun (untuk wanita tanggal ditambah 40). Sedangkan 4 digit terakhir merupakan nomor urut yang dimulai dari 0001.

NIK diharapkan akan tercantum setiap Dokumen Kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan KTP, paspor, SIM, nomor pokok wajib pajak, polis asuransi, dan penerbitan dokumen identitas lainnya (1)<\/a>.

Salah satu prinsip dari single identity number<\/em> yang ideal adalah harus unik dan khas dan tidak tergantung pada atribut dari pemilik yang berubah. Yang menjadi permasalahan dalam NIK saat ini adalah 6 digit awal yang merupakan kode lokasi dimana NIK diterbitkan. Hal ini menjadi rancu antara tempat lahir atau tempat diterbitkannya NIK.

Di website Kemendagri diberikan contoh sebagai berikut, “Sebagai contoh, misalkan seorang perempuan lahir di Kota Bandung tanggal 17 Agustus 1990 maka NIK-nya adalah: 10 50 24 570890 0001. Apabila ada orang lain (perempuan) dengan domisili dan tanggal lahir yang sama mendaftar, maka NIK-nya adalah 1050 24 570890 0002.”

Dari contoh ini kita dapat menyimpulkan bahwa 6 digit kode awal adalah kode tempat lahir. Jika merujuk kepada penjelasan sebelumnya di website tersebut, 6 digit awal tergantung di mana orang tersebut berdomisili pada saat NIK diterbitkan. Pada contoh tadi perempuan tersebut belum tentu akan tetap tinggal di tempat kelahirannya.

Jika 6 digit awal tersebut adalah kode untuk domisili, bagaimana kalau orang tersebut pindah kota atau provinsi, misal dari Jakarta Pusat kode 01 60 ke kabupaten Jayapura di Papua kode 25 01, 6 digit kode awal menjadi tidak relevan lagi dan memungkinkan untuk membuat kebingungan dalam administrasi. Padahal Pemerintah sudah menyatakan NIK tidak berubah meski domisili berpindah
(2)<\/a>.

Janto Marzuki yang berpengalaman puluhan tahun menjadi database designer<\/em> perusahaan raksasa Ericsson dan kini telah menetap di Swedia mengungkapkan bahwa konstruksi dari NIK dengan segala kelemahan di atas jika dilihat dari sudut database design menjadikan NIK tidak efektif.

e-KTP Seumur Hidup, Bisakah?<\/strong>

Departmen Dalam Negeri mengusulkan bahwa e-KTP belaku seumur hidup. Untuk menilai apakah e-KTP dapat digunakan seumur hidup, mari kita lihat keterangan yang tertera di dalamnya: nama, tempat tanggal lahir, alamat, status pernikahan, agama, pekerjaan.

Keempat data terakhir adalah data yang dapat berubah-rubah terutama alamat serta pekerjaan. Jika e-KTP berlaku seumur hidup, seseorang akan dapat berstatus mahasiswa abadi.

Terlepas dari kendala dan kekurangan di atas, jika sistem NIK ini telah berjalan akan banyak sekali keuntungannya dari sistem administrasi yang lebih efisien hingga peningkatan kesehatan masyarakat jika NIK diintegrasikan dengan berbagai database kesehatan.

Tidak semua negara maju mengaplikasikan sistem single identity number<\/em> ini. Jika ingin melihat bagaimana sistem ini, kita perlu menengok negara-negara Skandinavia yang lebih dari 60 tahun lalu telah mengaplikasikan sistem ini yang lebih dikenal dengan istilah Personal Identity Number<\/em> (PIN).

PIN di Swedia<\/strong>

PIN di Swedia laksana nomor keramat karena di semua sistem administrasi pasti digunakan. Bahkan untuk menyewa DVD, buku atau berlangganan telepon diperlukan nomor ini. PIN atau personnummer<\/em> (dalam bahasa Swedia) mulai diperkenalkan pada 1947 kemudian pada 1967 disempurnakan.

PIN ini terdiri dari 10 angka (lebih mudah diingat dibandingkan NIK) yang terdiri dari tiga bagian, tanggal lahir (4 digit, tahun, bulan, tanggal), nomor urut lahir (3 digit) dan 1 digit untuk pengecekan.

Contoh seorang laki-laki yang lahir pada 23 Agustus 1964 memiliki PIN: 640823-3234. Angka 323 adalah nomor urut lahir (untuk laki laki digit terakhir ganjil dalam contoh ini 3) dan digit terakhir adalah checking digit untuk mengetes kebenaran PIN tersebut. Setiap orang yang lahir di Swedia dan pendatang yang akan tinggal lebih dari satu tahun akan mendapatkan PIN
(3)<\/a>.

PIN Swedia pada awalnya dikelola oleh Pemda, namun mulai tahun 1991 dikelola oleh Skatteverket <\/em>(kantor pajak nasional). PIN ini digunakan luas sebagai kode identitas tidak hanya dalam catatan kependudukan, tapi juga untuk sistem perpajakan, perbankan, asuransi, kesehatan, SIM, paspor dan pendidikan.

Setiap orang yang memiliki PIN maka akan ditanggung oleh asuransi nasional serta mendapatkan pendidikan gratis.

PIN ini menjadi key number (nomor kunci) yang menghubungkan antara berbagai data nasional. Di bidang kesehatan, PIN menghubungkan berbagai catatan\/database (register data) antara lain catatan pasien, kanker, kecelakaan, kematian, pemberian resep obat, dan masih banyak lagi. Dengan adanya sistem ini, kita dengan mudah dapat mengikuti pasien serta catatan medis mereka.

Data yang ada dalam sistem ini laksana harta karun bagi para peneliti di seluruh dunia, karena tanpa perlu membuat percobaan atau kajian lapangan lagi, sesungguhnya Swedia ibarat laboratarium besar yang dapat langsung dianalisa datanya.

Sebagai contoh, jika ada seorang terdiagnosa terkena kanker paru paru, kita bisa melacak medical recordnya, untuk mengetahui perkiraan penyebabnya, baik itu gaya hidup, lokasi tempat tinggal (dengan menautkannya pada catatan kependudukan), pekerjaan (data kementerian pekerjaan), dan sebagainya.

Bahkan kita bisa merunutnya dengan riwayat dari orangtua atau saudaranya yang mungkin dapat menjelaskan penyakit tersebut diturunkan. Masih banyak lagi tentunya keuntungan dari PIN ini.

Di bidang perbankan, setiap kita membuka rekening, kita diharuskan memiliki PIN, sehingga dengan mudah kita bisa mengetahui jika ada seorang oknum parlemen atau pemerintah memiliki rekening gendut.

Hal ini akan mengurangi tindak kejahatan perbankan. Tapi untuk penerapan di Indonesia mungkin perlu ada desakan dari masyarakat dalam implementasinya. Bagaimana kalau ada data yang berubah?

Kartu identitas ID Card di Swedia, hanya berisikan data-data yang jarang\/ tidak berubah seperti nama, tempat dan tanggal lahir serta tanggal berlaku. Alamat tidak disertakan karena atribut yang satu ini paling mungkin berubah.

Lalu bagaimana kalau data-data lain diperlukan, seperti jumlah anggota keluarga (Kartu Keluarga), domisili dan perkejaan? Informasi tersebut dengan mudah dapat kita peroleh dengan langsung mendatangi kantor pajak atau online dalam bentuk printout yang dikenal dengan istilah Personbevis <\/em>(Surat Keterangan Diri).

Personbevis <\/em>berisi keterangan lengkap kita atau pun sekeluarga, seperti Kartu Keluarga. Personbevis <\/em>berlaku hanya 3 bulan karena informasi di dalamnya bisa berubah-rubah (seperti alamat).

Tapi jangan takut, kita bisa memintanya lagi. Dengan system seperti ini ID card dapat berlaku lebih lama, sedangkan untuk data yang berubah-rubah kita bisa menggunakan Personbevis<\/em>.

Negara-negara Skandinavia Lainnya<\/strong>

Negara-negara tetangga Swedia juga memiliki sistem sangat mirip dan diterapkan di waktu yang hampir bersamaan (tahun 1960an), sehingga menjadi rujukan internasional oleh PBB
(4)<\/a>.

Sistemnya hampir sama di mana 6 digit awal adalah kode tanggal lahir dan 4 digit (Denmark) atau 5 digit (Finland, Norwegia) terakhir adalah kode lainnya (nomor urut dan kode kontrol).

Dengan berlimpahnya data dari berbagai macam database kesehatan yang terkoneksi dengan PIN tersebut, negara Skandinavia mampu meningkatkan kualitas kesehatan serta kesejahteraan penduduknya.

Sebuah penelitian di Denmark menunjukkan bahwa pasien kanker akan memiliki peluang hidup lebih lama jika kemoterapi diterapkan semenjak diagnose kanker dibandingkan jika kemoterapi diberikan setelah pesien tersebut berada pada stage kanker tertentu.

Study lainnya di bidang psikologi masih di Denmark, mengungkapkan bahwa faktor lingkungan seperti infeksi virus sebelum kelahiran serta musim pada saat kelahiran memengaruhi perkembangan penyakit Schizophrenia dan Bipolar Disorder
(5)<\/a>.

Berdasarkan data register kembar (Twin Register<\/em>) Swedia, bayi dengan berat rendah saat lahir lebih rentan terhadap penyakit asma, sedangkan bayi dengan berat lebih besar berada pada risiko eksim pada masa anak-anak
(6)<\/a>.

Masih banyak lagi hasil temuan yang semuanya menggunakan database yang terkoneksi dengan PIN ini.

Semoga dengan adanya NIK ini Indonesia ke depan mampu meningkatkan dan meratakan kesejahteraan rakyatnya. Masih panjang perjalanan penyempurnaan system e-KTP ini. Kita masyarakat diharapkan mampu memantau implementasi program yang sangat bermanfaat ini.

Terimakasih kepada Janto Marzuki atas diskusi-diskusinya mengenai e-KTP ini.

Keterangan Penulis:<\/strong>
Penulis adalah warga negara Indonesia tinggal di Stockholm, Swedia. Penulis dapat dihubungi di hafidztio@yahoo.com.<\/em>




(es/es)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed