DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 19 November 2012, 21:03 WIB

Opini

Api Muhammadiyah

- detikNews
Api Muhammadiyah
Jakarta - Walau hujan deras dan angin bertiup kencang, perhelatan milad satu abad berdirinya Muhammadiyah kemarin (18\/11) di Gelora Bung Karno tak menyurutkan semangat warga Muhammadiyah datang memenuhi stadion. Merekalah arus bawah Muhammadiyah yang berbondong-bondong datang, menjadi basis dan ruh gerakan hingga Muhammadiyah masih ada dan tumbuh-berkembang sampai sekarang.

Satu abad Muhammadiyah telah menggerakkan sejarah cukup besar di Republik Indonesia. Tak ada yang dapat menyangkal kebesaran organisasi keagamaan Muhammadiyah dari segala penjuru bidang yang digelutinya. Tokoh-tokoh bangsa pun cukup banyak lahir dari “rahim’ Muhammadiyah. Namun pertanyaannya, bagaimana arus bawah dalam “tubuh” Muhammadiyah?

Persoalannya, di tengah ruang informasi politik, sosial, dan budaya menjalar cepat, kekaburan informasi tentang persoalan bangsa, di mana Muhammadiyah menjadi bagian penting di dalamnya, perlu diperhatikan secara seksama oleh arus atas maupun arus bawah Muhammadiyah.

Informasi baik dan buruk dengan mudah masuk begitu cepat. Hampir setiap hari hadir bermacam bentuk informasi yang lucu, aneh, sedih, dan geli. Segenap warga Muhammadiyah mesti pandai memilah informasi apa yang perlu dikritisi dan ditanggapi. Sehingga Api Muhammadiyah, yakni arus bawah, tidak gamang dalam melangkah.

Arus bawah Muhammadiyah memiliki imajinasi tentang Muhammadiyah ke depan, memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Mereka, arus bawah Muhammadiyah, memiliki harapan yang cukup tinggi di pundak arus atas kepemimpinan kolektif organisasi keagamaan Muhammadiyah.

Tak ayal, perhatian terhadap ruang publik, mau tak mau mesti lebih maju. Sebab, di sanalah arus bawah Muhammadiyah menikmatinya dan benar-benar merasakan Muhammadiyah ada dalam sanubari mereka, mencerahkan bangsa.

Api Politik<\/strong>

Hari ini, demokrasi kita disuguhi informasi lisan dan laku politisi dan pejabat yang kacau, tidak konsisten antara kata dan laku. Buya Syafii Maarif (2010) pernah berkata, demokrasi yang sudah mulai menguat dalam kehidupan politik tanah air seharusnya dijaga oleh semua elemen sosial, dan terdapat etika politik di dalamnya. Kultur demokrasi yang minus etika dapat melahirkan kekonyolan demokrasi. Sebab, jika demokrasi dibangun tanpa etika politik, akan menjadi demokrasi yang kacau.

Di sinilah peran penting lainnya yang perlu dilakukan Muhammadiyah, mengembangkan kultur politik yang berjalin berkelindan dengan etika publik. Etika politik yang baik arahnya adalah untuk memajukan kepentingan umum, memajukan nilai-nilai moral yang beradab dalam masyarakat.

Ketakberadaban politik yang merusak etika publik, membuat masa depan politik negeri ini menjadi tertatih menuju demokrasi yang berkeadaban. Satjipto Rahardjo (2009) pernah berpesan perlunya moralitas tinggi dipunyai oleh politisi berjiwa negarawan yang akan membuat dirinya tetap terhormat, yaitu kritik yang jujur, rasional, tanpa sentimen dan tanpa sikap emosional kepada lawan politik.

Salah satu pertanyaan penting berkaitan dengan perkembangan politik dewasa ini ialah. apakah Muhammadiyah dapal dijadikan sebagai identitas kolektif dalam rangka gerakan demokrasi yang berkeadaban dan berkemajuan?

Hanya waktu dapat menjawabnya. Namun, memang sulit dielak adanya arus politik Muhammadiyah yang berserak di berbagai partai politik. Mereka memiliki semangat gerakan perubahan untuk mencerahkan bangsa.

Sinergi arus bawah, arus atas, dan arus politik warga Muhammadiyah perlu didorong sehingga kelak menjadi “api Muhammadiyah” dan “api bangsa” yang menggelora. Kelak mereka dapat menjadi ikon yang membanggakan untuk pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi dan polilik rakyat yang sangat dibutuhkan. Sehingga “Api Muhammadiyah” itu tak kunjung padam walau hujan deras dan angin kencang menghadang. Wallahualam.

*) David Krisna Alka, <\/strong>Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity dan Aktivis Menara 62<\/em>




(asy/asy)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed