DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 08 Januari 2011, 13:03 WIB

In Memoriam Sudwikatmono

Selamat Jalan Pak Dwi

- detikNews
Jakarta - Innalillahi Wainnailaihi Rojiun.

Tiada lagi sosok pria energik yang selalu tampil dandy, ceria, dan kalau berbicara penuh tenaga. Itulah Sudwikatmono. Termasuk sosok yang mendapat julukan \\\"anak gaul Indonesia\\\" karena demikian luas pergaulannya dengan pelbagai lapisan masyarakat.

Tokoh pengusaha Nasional ini melalui kelompok bisnisnya dikenal sebagai perintis berbagai usaha strategis, mulai hiburan, semen dan industri bahan makanan.

Di dunia hiburan dialah yang  merintis jaringan bioskop 21 yang megah dan modern seperempat abad lalu. Di dunia media televisi, Pak Dwi --- begitu ia akrab disapa---mendirikan stasiun televisi nasional SCTV.

76 tahun<\/strong>

Pak Dwi dipanggil menghadap Ilahi Rabbi Sabtu pagi, pukul 06.30 waktu Singapura di RS Mount Elizabeth ( Pukul 05. 30 WIB). Pak Dwi menghembuskan nafas terakhir dalam usia 76 tahun. Meninggalkan seorang istri, Ibu Sulastri, empat anak, delapan cucu.

Lebih  sebulan Pak Dwi  dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura akibat komplikasi penyakit ginjal dan berbagai penyakit lainnya. Saat meninggal ia ditunggui oleh Ibu Sulastri dan dua anaknya, Agus Lasmono dan Tri Hanurita, anggota DPR-RI. Putri sulungnya, Martina, tengah berada di Amerika Serikat. Putrinya yang satu lagi, Miyana, sedang berada di tanah air.

Berita duka ini pertama kali  saya terima dari sahabat almarhum anggota LSF, yangn mantan Ketua GPBSI, M Johan Tjasmadi, dan Firman Bintang, anggota LSF yang juga Sekjen organisasi produser film (PPFI).  Agus Lasmono, putera bungsu Pak Dwi yang berada di Singapura kemudian mengkonfirmasi berita tersebut.

\\\"Mohon doa, Bapak sudah tiada,\\\" kata Agus membenarkan. Menurut Agus, jenasah Pak Dwi akan dibawa ke Jakarta hari Sabtu ini juga, diperkirakan tiba di Jakarta pukul enam sore. Menurut rencana jenasa Pak Dwi akan disemayamkan di rumah duka, di Bukit Golf Utama Pondok Indonesia. Sedangkan pemakamannya di komplek pemakaman San Diego Hills, Kerawang, Jawa Barat, karena menunggu Martina, putri sulungnya dari Amerika. Itulah sebabnya waktu pemakaman belum dipastikan. Kalau tidak Minggu ya hari Senin.

\\\"Sampai saat ini belum ada onfirmasi mengenai penerbangan Martina dari AS. Pesawat sulit sekali, kebanyakan sudah penuh\\\" kata Lala Hamid, salah satu kerabat dekat keluarga almarhum.

Tokoh perfilman<\/strong>

Pak Dwi dikenal pula sebagai  tokoh perfilman Indonesia yang amat penting. Sudah pada tempatnya lah jika dunia perfilman Indonesia berduka, kehilangan Pak Dwi yang memiliki peran sangat strategis dalam mendorong produksi film berkwalitas dan menjadi pelopor modernisasi industri bioskop di tanah air. Dia pendiri jaringan bioskop 21 pada tahun 1986.

Studio 21 pertama yang megah di jalan MH Thamrin Kav 21 dibangun Pak Dwi pada tahun 1986, setelah  berhasil  melakukan ujicoba  sinepleks dengan mengubah ruang gedung bioskop Kartika Chandra menjadi beberapa layar. Sineplkeks di Kartika Chandra dilaksanakan bekerjasama dengan Raam Punjabi.

Gagasan sinepleks itu diakui Pak Dwi diiilhami oleh trend bioskop di Amerika Serikat. Masa itu, pengenalan  bioskop model cinepleks di tanah air dijadikan momentum oleh Pak Dwi untuk membangkitkan gairah  masyarakat mendatangi kembali bioskop untuk menonton film yang di kala itu mengalami kelesuan.

Nama 21 diambil dari nomer kaveling jalan MH Thamrin di lokasi Studio 21 pertama dibangun. Namun, ada juga yang mengatakan, bahwa nama itu sesungguhnya  merupakan akronim dari SuDwikatMono, nama lengkap Pak Dwi.

Gedung megah Studio 21 memang tidak ada lagi di Jalan MH Thamrin Kav 21 (di sana kini berdiri gedung pencakar langit BII Tower), namun jaringan 21 hingga kini tetap eksis, megah, menjadi ikon kehidupan modern di Indonesia. Ramalan Pak Dwi terbukti, meskipun kelak, tepatnya di tahun 1999 Pak Dwi melepaskan kepemilikan jaringan bioskop 21 itu kepada partnernya, Benny Suherman dan Harris Lesmana.

Pak Dwi mengawali bisnis di dunia film lebih awal dari itu, di tahun 70 an. Ia memulai produksi film sekalian dengan impor film Mandarin  bekerjsama dengan dua bersaudara Bambang Soetrisno dan Benny Suherman.

Film produksi pertamanya lewat perusahaan Sejahtera Film,  berjudul \\\"Panji Tengkorak\\\" yang mendatangkan sutradara dan sebagian kru dari Hong Kong. Ia kemudian mendirikan Suptan Film, yang  memproduksi sejumlah film  bekerjasama dengan sutradara terkenal Teguh Karya. Dari kerjasama itu lahir film-film yang menjadi langganan peraih Piala Citra FFI, seperti \\\"Badai Pasti Berlalu\\\", dan \\\" Ibunda\\\". Tahun 1980 an ia malah memodali Teguh Karya membuat kelompok kerja, namanya dulu dikenal dengan \\\"Cap Ikan\\\" untuk memproduksi film-film khas manejemen Teater Populer, grup teater Teguh Karya.

Pak Dwi amat concern mendorong sineas film Nasional membuat film yang bermutu sekaligus laris. \\\" Dengan itulah industri film Indonesia bisa ditopang\\\', katanya. Toh, begitu pun, ia banyak mendapat kritik karena dianggap hanya memanjakan film-film yang mendatangkan keuntungan ke bioskopnya.

Yang paling dia sedihkan ketika kelompok bisnisnya dituduh memonopoli peredaran dan impor film. Padahal, sumbangannya kepada berbagai sektor tak disangkal banyak kalangan. Monumen Pers di Solo dan Gedung Dewan Pers merupakan sumbangannya almarhum melalui asosiasi film
impornya.

Sudwikatmono lahir di Wonogiri, Jawa Tengah 28 Desember 1934. Ia merupakan putera ketujuh pensiunan mantri pertanian Desa Wuryanto, dan hanya dia yang tidak militer. Ia merantau ke Jakarta tahun 1955. Ia mulai usaha dari bawah sekali, kulak karung di Tanjung Priok. \\\" Sejak kecil saya memang menyukai dagang\\\" katanya.

Ayam Goreng Kadipiro<\/strong>

Berpembawaan ramah dan familiar, Pak Dwi dikenal luas oleh berbagai lapisan masyarakat. Ia juga boleh dibilang anak gaul Indonesia. Temannya banyak. Hobbynya makan. Saya termasuk yang pernah diundang \\\"napak tilas\\\" berwisata kuliner ke Yogyakarta. Ke tempat tempat dia makan semasa muda, masa perjuangan, masa sulit uang, istilah dua.

Kami --hanya beberapa wartawan-- menelusuri tempat makan maknyus, yang lokasinya banyak  di dalam gang sempit. Saya sempat bergurau, memprotes ke beliau karena tempat-tempat makan kelas warung yang didatangi itu, sudah lama saya akrabi.

\\\"Mestinya, di tempat mahal yang belum pernah saya nikmati,\\\" protes saya yang disambut dengan gelak tawanya.

Beberapa tahun setelah itu saya ketemu Pak Dwi setelah dia mendapat serangan stroke. Dia  menasehati, supaya menghindari sering menyantap makanan enak. \\\"Akibatnya sudah saya rasakan sekarang,  jadi penyakit. Menurut dokter sakit saya antara lain bersumber karena tidak bisa menghindari makan enak itu\\\" ungkapnya.

Tahun 2004, ketika beliau dan istri hadir dalam acara resepsi pernikahan putera saya, di Balai Sudirman, sudah terlihat kondisi tubuh beliau agak lemah. Sebenarnya, kabar kondisi Pak Dwi yang kritis di Singapura sudah saya terima lebih sebulan lalu. Namun, keluarga mengisyaratkan Pak Dwi belum bisa dibesuk.

Selamat jalan Pak Dwi.

*)Ilham Bintang adalah pemerhati film dan juga Pemimpin Redaksi Cek & Ricek.


(ken/ken)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed