DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 16:30 WIB

Ma'ruf Amin Cawapres, Ini Kata Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Maruf Amin Cawapres, Ini Kata Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya Foto: Pradita Utama
Surabaya - Majunya KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi, merupakan simbol jika ulama kini diperhitungkan menjadi pemimpin. Namun sejak dulu, kiai memang memiliki makna pemimpin.

"Begini, artinya kiai itu menurut kami merupakan pemimpin. Kami bersyukur ada kiai yang memimpin negara, harapannya beliau harus menjadi Uswatun Hasanah atau contoh yang baik," pesan KH Abdusshomad Bukhori saat dihubungi detikcom di Surabaya, Jumat (10/8/2018).

Secara pribadi, Kiai Somad mengatakan perwakilan kiai yang menjadi pemimpin negara akan bisa menuangkan pemikiran jernih untuk kebijakan Indonesia. Terlebih dewasa ini sering ditemui kasus korupsi hingga kemaksiatan. Namun dengan adanya koalisi nasionalis-religius diharapkan bisa menyatu untuk membangun bangsa.


"Memberikan contoh yang baik, pemikiran-pemikiran jernih harus tertuang dari kebijakan di Indonesia. Yang namanya korupsi, kemaksiatan, namanya macem-macem ada semua. Mudah-mudahan ke depan dengan tampilnya seorang figur kiai, bersama dengan taruhlah tokoh nasionalis dengan religius bisa menyatu dalam membangun bangsa dan negara," imbuh imam besar Masjid Al Akbar Surabaya tersebut.

Tak hanya itu, kata Kiai Somad, selain diharapkan bisa mengurangi kemiskinan, kiai diharapkan juga bisa membangun moral bangsa.

"Kan Indonesia itu negara besar, tapi kok kemiskinan masih banyak dan yang kaya itu tambah kaya. Jadi ini memang harus membangun moral dan jangan mendikotomi agama dengan politik," kata Kiai Somad.


Kiai Somad mengatakan dalam Islam memang sah-sah saja berpolitik. Namun politik yang santun. Karena sejak zaman nabi dulu ada pedoman kepemimpinan.

"Di dalamnya agama ada politik, tapi politik yang santun. Di Islam ada pedoman kepemimpinan itu adalah sebagai pengganti kenabian, dulu ada Nabi Muhammad SAW, sekarang kami neruskan untuk menjaga agama dan siasat dunia. Artinya itu maknanya luas. Yang tidak boleh itu politik kotor. Tapi politik yang sesuai dengan aturan itu harus menyatu," tandas Kiai Somad.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed