DetikNews
Kamis 17 Mei 2018, 13:15 WIB

Cerita Traumatis Korban Bom, Enggan Sekolah dan Takut ke Gereja

Ongq Rifaldy Litualy - detikNews
Cerita Traumatis Korban Bom, Enggan Sekolah dan Takut ke Gereja Erwin Hartawan (Foto: Ongq Rivaldy Lytuali)
Surabaya - Peristiwa pemboman gereja yang terjadi pada Minggu (13/5/2018) di Surabaya masih menghantui para korban ledakan. Peristiwa itu masih menyisakan trauma tersendiri di benak para korban. Bahkan ada korban yang takut pergi ke gereja.

Trauma itu menghantui Clarissa Angeline (8). Putri Erwin Hartawan (39) dan Fenny Suryawati (34) itu merupakan korban dari bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno Surabaya.

"Anak saya waktu kejadian sedang berada di lantai 2 bersama saya, namun saya agak jauh dari clarissa. Jadi waktu itu sambil menunggu sekolah minggu, Clarissa ini melihat mama nya di luar gereja dari jendela kaca di lantai 2, tiba tiba ada mobil masuk lalu bom meledak," cerita Erwin kepada detikcom, Kamis (17/5/2018).

Kaca pada jendela pun pecah terkena efek dari bom. Kaca itu menjadi serpihan dan melukai leher Clarissa. Clarissa juga terkena serpihan bom yang melukai perut, kepala, dan tangannya. Clarissa harus dibawa ke Rumah Sakit RKZ. Untunglah luka Clarissa tak serius sehingga ia sudah diperbolehkan pulang malamnya.


Namun peristiwa itu ternyata membawa trauma tersendiri bagi Clarissa. Trauma pertama yang ia hadapi adalah ketakutan terhadap orang yang mengenakan kerudung. Bahkan Clarissa ketakutan saat ditangani suster di RS RKZ. Biarawati gereja berkerudung yang datang berkunjung untuk mendoakan juga membuat Clarissa ketakutan.

Selain itu, Clarissa juga takut keluar rumah. Clarissa takut ke sekolah dan juga tidak mau lagi jika diajak ke gereja.

"Takut keluar rumah. Dia bilang, papa, aku tidak mau ke sekolah lagi. Dia kan sekarang kelas 3 SD. Lalu dia bilang juga ke saya seperti ini, papa aku juga tidak mau kalau ke gereja lagi, kalau ke gereja aku di rumah saja," kata Erwin menirukan anak nya.

Untuk masalah trautamik yang menimpa Clarissa, Erwin mengaku sudah menceritakan hal itu ke Pemkot Surabaya. Jawaban dari pemkot bahwa nantinya traumatik Clarissa akan dibantu untuk mendapatkan penanganan psikologi. Erwin juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah, dan pihak sekolah juga sudah bersedia membantu untuk semua kemungkinan yang dibutuhkan Clarissa agar dia bisa kembali bersekolah.


"Ini kan jelang ujian kenaikan kelas, itu kata guru nya nanti akan dibantu. Yah mungkin sementara akan didampingi dan belajar di rumah," lanjut Erwin.

Erwin menambahkan bahwa selain anaknya, istrinya, Fenny Suryawati, juga turut menjad korban bom. Kondisi istrinya lebih parah dari anaknya dan saat ini masih menjalani perawatan di RS RKZ.

Saat ini kondisi Fenny sudah siuman dan sudah bisa diajak komunikasi. Saat sudah siuman, Fenny menanyakan kondisi Clarissa kepada Erwin. "Jadi sewaktu saya masuk ke ruang ICU, dia lihat saya dia kaget. Trus dia bilang, pa, kenapa masih di sini? Pulang jaga clarissa," tutur Erwin.

Saat melihat istrinya, Erwin kaget karena masa pemulihannya yang cepat dan sudah bisa diajak bicara. "Kami berterima kasih kepada Pemkot Surabaya yang sudah menanggung semua hal selama perawatan kesehatan anak dan istri saya," tandas Erwin.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed