DetikNews
Kamis 10 Januari 2019, 12:53 WIB

Kisah Herry Wibowo, Karya Hilang Karena Tak Ada Mesin Foto Kopi

Bagus Kurniawan - detikNews
Kisah Herry Wibowo, Karya Hilang Karena Tak Ada Mesin Foto Kopi Foto: Usman Hadi/detikcom
Yogyakarta - Ilustrator komik Nagasasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh, Herry Wibowo (75), tutup usia. Ada ratusan karya-karya seniman asal Yogyakarta, Herry Wibowo yang menghiasi berbagai cerita silat, cerita bersambung dan cerita bergambar yang menghiasi berbagai surat kabar pada tahun 1960-1980-an.

Salah satunya, karya dia banyak menghiasi di cwerita silat Api di Bukit Menoreh, Nagasasra Sabuk Inten, Naga Geni, Mahesa Wulung, Kisah Perjuangan Nyi Ageng Serang, Bendhe Mataram dan lain-lain. Namun ratusan karya waktu itu hilang tidak terdokumentasi karena tidak ada mesin foto kopi.

Ia menggelar pameran "Garis-Garis Liris Ilustrasi Karya Herry Wibowo"di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada bulan April 2000. Ada banyak pengakuan yang diungkapkannya. Salah satunya adalah profesi sebagai ilustrator komik yang nasibnya jauh dari penghasilan tinggi.
Kisah Herry Wibowo, Karya Hilang Karena Tak Ada Mesin Foto KopiFoto: Usman Hadi/detikcom

Karya-karya Herry sejak tahun 1960-an selalu menghiasi cerita silat, cerita bersambung, cerita bergambar seperti karangan SH Mintardja, Herman Pratikto, dan Asmaraman Kho Ping Ho. Beberapa karyanya selalu menghiasi di Harian Kedaulatan Rakyat dan Berita Nasional Yogyakarta di tahun 1970-1980-an seperti di serial Api di Bukit Menoreh, Nagasasra Sabuk Inten, Naga Geni, Mahesa Wulung, Kisah Perjuangan Nyi Ageng Serang, Bendhe Mataram dan lain-lain.
Kisah Herry Wibowo, Karya Hilang Karena Tak Ada Mesin Foto KopiFoto: Usman Hadi/detikcom

Saat pameran tahun 2000 itu, ia bercerita cerbung serial Api di Bukit Menoreh Karya SH Mintardja dengan 375 jilid itu, karya ilustrasi Herry mencapai ratusan jumlahnya. Demikian pula di serial Bendhe Mataram karangan Herman Pratikto.

Penulis-penulis cerita itu seperti SH Mintardja, Herman Pratikto, dan Asmaraman Kho Ping Ho sudah tiada. Dulu semasa hidupnya, orang-orang itu adalah temannya berdiskusi dan bertanya, sebelum Herry mengubahnya menjadi sebuah gambar.

Saat itu Herry bercerita karena tahun 1960-1970-an belum ada mesin foto kopi, banyak karya-karyanya yang hilang usai diserahkan untuk dicetak. Waktu itu yang diserahkan adalah karya asli.

Saat Herry kembali mengumpulkannya sudah tidak ketemu lagi. Percetakan atau penerbit setelah dicetak, banyak karya aslinya yang hilang, bahkan dibuang begitu saja.

"Ya hilang semua, saya tidak punya kopiannya karena belum ada mesin fotokopi. Saat pameran yang dipamerkan kebanyakan sudah difotokopi," ungkap Herry waktu itu.

Selain mengajar di ISI Yogyakarta, Ia juga mengajar dibeberapa perguruan tinggi seni swasta di Yogyakarta. Ia juga menjadi sesepuh Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO). Herry juga sempat menghadiri pameran Pameran bertajuk Kartun Stand up Cartoon PAKYO yang digelar di Galeria Mal bulan April 2018 lalu.


(sip/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed