DetikNews
Kamis 12 April 2018, 17:16 WIB

Begini Tipu-tipu Abu Tours di Mata Korbannya

Ristu Hanafi - detikNews
Begini Tipu-tipu Abu Tours di Mata Korbannya Salah satu korban Abu Tours di Yogyakarta, Ihwan Gunawan. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Sebanyak 381 orang calon jemaah umrah dan haji yang memakai jasa travel Abu Tours di Yogyakarta melapor ke Polda DIY. Polisi diminta turun tangan agar hak ratusan jemaah dipenuhi oleh Abu Tour yang pimpinan pusatnya saat ini diproses hukum terkait dugaan kasus penipuan.

Salah seorang jemaah yang menjadi korban, Ihwan Gunawan (40) warga Sleman mengatakan, jemaah meminta ada pengembalian uang yang sudah disetor.

"Saya mendaftar umrah 4 anggota keluarga, per orang biayanya Rp 16 juta. Saya minta uang dikembalikan karena sekarang Abu Tour izinnya sudah dicabut oleh pemerintah, jadi kalau minta diberangkatkan sepertinya susah," kata Ihwan, ditemui ketika melapor di Polda DIY, Kamis (12/4/2018).

Diakuinya, dirinya mendaftar umrah awal Mei 2017 ketika Abu Tour membuka kantor cabang di Yogya. Saat itu ada penawaran promo harga yang lebih murah dibandingkan biro travel umrah dan haji lain. Dia diminta melunasi biaya 3 hari setelah mendaftar.

"Waktu itu kan pemerintah belum merekomendasikan harga umrah sekitar Rp 20 juta, jadi ada promo murah saya langsung mendaftar," ujarnya.

Oleh Abu Tour, dia diminta memilih jadwal keberangkatan bulan Januari atau Februari 2018. Dan dipilihnya waktu keberangkatan Februari. Namun, pada Januari 2018, lanjutnya, Abu Tour menyampaikan informasi adanya penundaan keberangkatan. Jadwal keberangkatan Januari diundur Februari dan seterusnya.

"Tapi Februari ada informasi lagi, yang mau berangkat diminta menambah biaya Rp 15 juta per orang. Ini yang membuat kalut jemaah, apalagi ada pemberitaan pimpinan pusat Abu Tour diproses polisi. Dan tanggal 5 Februari kantor cabang Abu Tour Yogya ditutup, kami tidak bisa lagi berkomunikasi dengan mereka," terangnya.


Ihwan menambahkan, alasan memakai jasa Abu Tour karena pengakuan dari jamaah sebelumnya yang sudah berangkat, fasilitas yang diberikan bagus.

"Hotel dekat, harga bisa disubsidi dari harga yang ditawarkan tour lain. Lalu bulan September 2017 saat kasus First Travel mencuat, kita juga sudah komunikasi dengan Kementerian Agama, Bareskrim, dan OJK, dibilang Abu Tour tidak ada masalah," imbuhnya.

Dia melanjutkan pihak Abu Tour pernah mengaku uang jemaah dipakai untuk modal bisnis lain milik Abu Tour.

"Saat ramai kasus First Travel, kita sempat tanyakan ke Abu Tour, jaminan uang dan jadwal keberangkatan. Dijawab Abu Tour punya banyak unit usaha lain, uang jemaah dialokasikan untuk usaha lain, dan keuntungan dari usaha itu dipakai untuk subsidi jemaah," urai Ihwan.

Direktur Reskrimum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan, meski kasus Abu Tour saat ini telah dilaporkan masyarakat lain di sejumlah daerah ke polisi, seperti Polda Jabar dan Polda Sulsel. Meski demikian, sesuai prosedur, pihaknya tetap akan memproses laporan polisi yang masuk.

"Kami tentunya tak bisa berandai-andai. Kami bertindak atas dasar laporan polisi, selama ini belum ada masyarakat (di Yogya) yang melapor, baru hari ini," ujarnya.

"Kita akan gelar bersama dengan Polda Jabar dan Sulsel karena terlapornya satu, pelapornya di sini 381 orang. Sementara di tempat lain sudah ada penetapan tersangka, ini kan Polri sama, gampang koordinasinya," imbuh Hadi.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed