DetikNews
Kamis 10 Agustus 2017, 10:14 WIB

Kenangan Mantan Karyawan tentang Enaknya Kerja di Nyonya Meneer

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kenangan Mantan Karyawan tentang Enaknya Kerja di Nyonya Meneer mantan karyawan Nyonya Meneer, Endang Nuryiati (53). Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Seorang perempuan paruh baya yang sedang mengendarai sepedanya di Jalan Pantura Kaligawe Semarang tiba-tiba berbelok ke pabrik jamu PT Njonja Meneer (Nyonya Meneer) yang tertutup rapat. Dengan seksama perempuan itu membaca spanduk besar yang terpasang di pagar depan.

"Lihat kayak gini kok sedih juga ya," gumamnya di depan pagar, Rabu (9/8/2017) sore.

Perempuan bernama Endang Nuryiati (53) itu sebenarnya mantan karyawan Nyonya Meneer yang terpaksa berhenti bekerja karena perusahaannya dilanda masalah. Endang masih ingat betul enaknya kerja di Nyonya Meneer sejak tahun 1979.

Sembari masih menunggang sepeda onthelnya, Endang mengisahkan sedikit kenangannya bekerja di sana. Ia merupakan salah satu pekerja yang loyal dan sempat mengikuti perpindahan lokasi produksi sampai 4 kali.

"Dulu di Jalan Raden Patah, terus pindah ke Gereja Blenduk, balik ke Raden Patah terus pindah ke sini," ujar Endang sambil sesekali melirik spanduk penyitaan di pagar pabrik.

Selama bekera di Nyonya Meneer terlebih ketika masa jayanya, Endang sangat menikmatinya karena gaji lancar, ada tunjangan, bahkan perusahaan sering mengadakan tamasya.

"Ya senang kerja di sini, di-piknik-kan, dikasih makan enak, senang lah," pungkas Endang.

Warga Sayung, Kabupaten Demak itu pun selalu semangat ketika berangkat bekerja mengendarai sepeda onthelnya meski jarak dengan tempat tinggal yang cukup jauh. Penghargaan pun pernah diterima dari perusahaan.

"Pas 25 tahun bekerja dapat penghargaan. Waktu itu uang Rp 200 ribu," lanjut Endang sembari tertawa kecil.

Kondisi nyaman di perusahaan mulai berubah tahun 2016 lalu ketika ada sejumlah karyawan yang belum dibayar upahnya karena perusahaan terlilit hutang. Unjuk rasa pun sempat diikuti Endang.

"Mulai tidak kerja sekitar setahunan ini," katanya.

Meski sudah memasuki usia senja, Endang tidak betah menganggur, kini ia bekerja di pabrik pengolahan kayu di Kaligawe. Setiap hari dia masih sering melintas di depan Nyonya Meneer, dan sore itu ia sengaja mampir untuk membaca pengumuman di pagar.

"Kemarin belum ada, ini tadi pagi sudah ada makanya saya mampir pas pulang kerja," tandasnya.

Tidak hanya Endang, beberapa kali terlihat orang-orang berbelok dan membaca pengumuman. Mereka rata-rata mantan pekerja atau keluarga mantan pekerja yang ingin menginformasikan ke keluarga mereka.

"Ibuku yang dulu kerja di sini. Saya ini mau lihat," ujar salah seorang wanita yang sedang memotret spanduk itu.

Spanduk pengumuman besar warna kuning itu memang menarik perhatian. Judul pengumuman adalah "obyek ini dalam sita umum". Di bawahnya tertulis nomor putusan pengadilan yang menyatakan Nyonya Meneer pailit dengan bunyi "telah menyatakan pailit PT Perindustrian Njonja Meneer (dalam pailit) dengan segala akibat hukumnya berdasarkan undang-undang nomor 37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang".

Keterangan selanjutnya berisi penegasan seluruh harta prusahaan Nyonya Meneer disita dan dalam penguasaan kurator. Ditambahkan juga larangan memasuki, menguasai, menggunakan, menggali, merusak, dan mengambil tanpa hak. Di bagian bawah, terdapat nama dua orang kurator yaitu Wahyu Hidayat dan Ade Liansah.
(alg/sip)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed