DetikNews
Jumat 21 Apr 2017, 18:00 WIB

Di Usia Senja, Rita Koesma Masih Semangat Mengajar di Kolong Jembatan

Avitia Nurmatari - detikNews
Di Usia Senja, Rita Koesma Masih Semangat Mengajar di Kolong Jembatan Foto: Avitia Nurmatari
Bandung - Meski harus naik turun angkutan umum, juga bergelut dengan cuaca, Rita Koesma (64) masih gigih berjuang untuk mengajar anak-anak kurang mampu dan anak jalanan di kolong Jembatan Pasupati, Kota Bandung.

Setiap hari Jumat, biasanya perempuan yang karib disapa Ambu ini mengajar di Taman Film yang berada di kolong jembatan. Dia selalu membawa tikar. Saat Taman Film penuh oleh warga lainnya, Ambu Rita memilih tempat lain di sekitar kolong jembatan.

Murid-muridnya cukup banyak sekitar 20-30 orang. Latar belakangnya berbeda-beda. Ada anak jalanan, anak warga di sekitar kolong jembatan dan siapa saja yang kebetulan datang dan ingin bergabung untuk belajar dengan Ambu Rita.

"Kalau hari Jumat, Ambu ngajar di Taman Film, dari jam dua sampai jam empat sore. Muridnya anak-anak kolong jembatan, anak-anak yang main di perempatan jalan, penduduk sekitar yang miskin. Itu belajar sama Ambu, gratis," ujar Ambu Rita kepada detikcom saat ditemui di kediamannya 'Rita Home Library' di Jalan Bukit Raya Selatan 226, Punclut, Ciumbuleuit, Kota Bandung.

Selain mengajar di kolong jembatan, Rita juga mengajar anak-anak kurang mampu di sekitar rumahnya. Materi yang diajarkan Rita adalah Bahasa inggris, pendidikan karakter dan budi pekerti.

"Ambu sempat ragu, apakah Ambu bisa. Ambu hanya bisa Bahasa Inggris. Tapi Ambu banyak dapat buku-buku dari instansi pendidikan di luar negeri, Ambu banyak membaca juga, sehingga Ambu mengajarkan kepada mereka bagaimana untuk tidak egois, budaya antre, berbagi. Pokoknya tentang budi pekerti," ungkap alumni SMPN 2 Bandung tersebut.

Tidak hanya mengajar untuk anak-anak dengan fisik yang normal. Perempuan yang saat ini mengenyam pendidikan S3 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Pendidikan Luar Sekolah ini juga mengajar anak-anak di Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna. Baginya, pendidikan itu merupakan hak setiap anak yang haus diperjuangkan.

"Mereka ini kan tidak mempunyai fisik yang normal seperti kita. Kenapa enggak kita yang normal yang nyamperin mereka? Seperti anak-anak miskin ini kan enggak mungkin mereka datang ke TBI, English First. Ambu tahu banget tiap anak, dia punya hak yang sama pendidikan, kesehatan dan hidup layak berbahagia," ungkapnya.

Perempuan yang memiliki dua orang anak ini kerap merasa sedih melihat saat ini pendidikan yang layak hanya bisa diperoleh anak-anak dengan orang tua yang mampu. Sehingga ketimpangan antara anak miskin dan anak orang mampu masih terjadi.

"Si kaya kan bisa sekolah di mana saja. Yang miskin bagaimana? Tambah tinggi gap-nya. Sehingga kita yang seharusnya berbuat sesuatu. Tanpa membeda-bedakan anak itu," ujar lulusan SMAN 3 Bandung ini.

Ambu Rita sangat senang banyak anak-anak yang mau datang belajar ke rumahnya. Setiap hari Minggu, pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB, rumahnya akan ramai didatangi anak-anak lingkungan sekitarnya yang mayoritas tidak mampu. Bahkan kini, banyak yang datang dari luar Ciumbuleuit jauh-jauh untuk belajar di rumah Rita.

"Rata-rata mereka ini tidak mampu, ada anak yatim, yatim piatu, bahkan ada yang sama sekali tidak sekolah. Kalau mereka mau sekolah saya perjuangkan, saya bisa minta sponsor. Sponsor bukan dari saya, tapi saya Insya Allah bisa membantu mencarikan," ucapnya.


(avi/ern)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed