DetikNews
Kamis 16 Oktober 2014, 15:18 WIB

Pemanfatan Teknologi Geospasial Belum Maksimal Dongkrak PAD

- detikNews
Bandung - Informasi geospasial atau ruang kebumian belum bergulir maksimal guna mendongkrak peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Sekian banyak kota dan kabupaten di Indonesia, bisa dihitung dengan jari daerah yang memanfaatkan teknologi geospasial.

"Saya menilai teknologi geospasial ini belum maksimal di Indonesia. Terutama untuk meningkatkan pendapatan daerah," ucap Praktisi Sistem Informasi Geografis Gilang Widyawisaksana.

Dia menyampaikannya usai acara seminar bertajuk 'Efisiensi dan Efektivitas Operasional untuk Meningkatkan Pendapatan Daerah Melalui Teknologi Geospasial' di Hotel Hilton, Jalan HOS Tjokroaminoto, Kota Bandung, Kamis (16/10/2014).

Teknologi geospasial memiliki keunggulan dalam menghasilkan data akurat. Misalnya, Gilang menjelaskan, suatu daerah memerlukan keakuratan perihal penentuan nilai besaran pajak bumi dan bangunan suatu area.

"Adanya teknologi geospasial memudahkan dan mempercepat kerja Dinas Pajak di suatu daerah. Sehingga petugas dari Dinas Pajak tak perlu lagi survei ke lapangan untuk mengecek persil. Enggak perlu survei ini 'kan menjadikan efisiensi dan efektif dalam pelayanan publik," tutur Gilang yang juga menjabat Head Of Sales Esri Indonesia.

Teknologi geospasial berupa data yang dilengkapi peta ini bisa juga merinci soal demografi suatu daerah. "Contohnya daerah mana yang banyak populasi perempuan atau anak kecil. Kemudian dari data itu bisa dianalisis. Peta itu bisa diisi berbagai atribut, seperti data tata ruang dan objek pajak," ucap Gilang.

Kendala belum maksimalnya pemanfaatan teknologi geospasial, kata Gilang, disebabkan berbagai faktor antara lain kurangnya pemahaman teknologi, keterbatasan sumber daya manusia, dan dana. Padahal saat ini hadir penyedia teknologi geospasial yang menawarkan produk atau alat yang harganya hanya ratusan juta rupiah.

"Daripada harus mengeluarkan biaya besar untuk foto udara. Bisa miliaran rupiah loh biayanya," kata Gilang.

Seingat Gilang hanya beberapa daerah di Indonesia yang sudah memanfaatkan teknologi geospasial yaitu Denpasar dan Aceh Tengah. Belum maksimal pemanfaatan teknologi geospasial ini lantaran kurangnya koordinasi antarlembaga di Indonesia soal pengunaan data secara bersama-sama.

"Tidak ada satupun institusi yang memiliki data lengkap. Maka perlu peran kolaborasi dengan mengumpulkan akses data dari kementerian, lembaga, dan antardinas," ujar Gilang.

Selama ini padahal sudah disahkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. UU Informasi Geospasial sebagai landasan berdirinya Badan Informasi Geospasial (BIG). "Tentunya BIG perlu gencar mensosialisasikannya," ujar Gilang.


(bbn/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed