Militer Amerika Serikat (AS) diklaim telah mengawal sebanyak 40 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada Selasa (2/9) waktu setempat. Kapal-kapal itu disebut membawa muatan total sebanyak 18 juta barel minyak.
Angka tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (3/9/2026), dilaporkan oleh media terkemuka AS, CNN, yang mengutip dua pejabat AS yang mengetahui operasi pengawalan di Selat Hormuz tersebut.
Jika valid, maka angka tersebut menandai rekor tertinggi untuk perlintasan kapal selama masa perang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selat Hormuz yang merupakan jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global, sebagian besar diblokade oleh Iran selama perang berkecamuk sejak akhir Februari lalu. Sebagai respons, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Belum ada tanggapan langsung Teheran atas laporan tersebut.
Laporan CNN juga menyebutkan bahwa pasukan militer AS menyerang hampir 60 target militer Iran di sekitar jalur perairan tersebut selama operasi pengawalan berlangsung.
Operasi tersebut diklaim menargetkan situs pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, aset penebar ranjau, dan instalasi komunikasi milik Iran. Pasukan AS, menurut dua pejabat yang dikutip CNN, juga menghancurkan sejumlah rudal jelajah antikapal selama proses pengawalan tersebut.
Sebelum perang pecah lebih dari enam bulan lalu, sebanyak 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap harinya.
Keterangan Menteri Energi AS Chris Wright kepada media CNBC pada Senin (31/8) menyebutkan bahwa lebih dari 17 juta barel minyak telah melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Terlepas dari itu, para pejabat militer AS memperkirakan akan adanya serangan lanjutan di dekat Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Diakui oleh salah satu pejabat AS itu bahwa pasukan Iran menunjukkan kemampuan untuk memulihkan kekuatan mereka dengan cepat, sehingga diperlukan tekanan ofensif yang berkelanjutan.
AS dan Iran masih terlibat perselisihan sengit mengenai kendali atas Selat Hormuz. Bentrokan telah berulang kali terjadi di sekitar jalur perairan tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.
Simak juga Video 'Trump Usul Selat Hormuz Jadi Selat Trump!':










































