Serangan rudal Iran yang menewaskan dua tentara Amerika Serikat (AS) pekan lalu dilaporkan menghantam barak yang menjadi tempat tidur mereka di kompleks pangkalan udara Yordania.
Disebutkan bahwa ada tiga rudal yang menghantam pangkalan udara Yordania tersebut dalam waktu 24 jam, ketika serangan berlangsung pada Jumat (17/7) pekan lalu.
Informasi tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (21/7/2026), diungkapkan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), dalam laporan terbarunya pada Senin (20/7), dengan mengutip para pejabat Washington yang memahami insiden tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan WSJ menyebutkan bahwa serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti merupakan salah satu dari tiga serangan rudal terpisah yang menghantam pangkalan militer tersebut dalam kurun waktu 24 jam, pekan lalu.
Salah satu serangan rudal itu, menurut laporan WSJ, menghantam unit hunian prefabrikasi yang menjadi tempat para tentara AS tidur di kompleks militer tersebut.
WSJ melaporkan bahwa jenazah ketiga telah ditemukan di lokasi yang dihantam serangan rudal dan sedang diperiksa.
Lebih lanjut, laporan WSJ mengungkapkan bahwa serangan rudal pertama memicu kerusakan pada fasilitas gym yang ada di pangkalan udara Yordania tersebut, setelah pasukan mendapat peringatan melalui sirene. Beberapa personel militer mengalami luka-luka saat berupaya mencari perlindungan.
Serangan rudal kedua, menurut WSJ dalam laporannya, menghantam sebuah hanggar pesawat yang kosong.
Kemudian serangan rudal ketiga, sebut laporan WSJ, menghantam unit hunian berbentuk kontainer yang menjadi tempat para tentara AS sedang tidur.
Sedikitnya dua tentara AS tewas akibat serangan rudal di pangkalan Yordania tersebut. Pentagon mengidentifikasi kedua tentara yang tewas sebagai Letnan Satu Tyler J Feehan, yang berusia 25 tahun dan berasal dari Hawaii, dan Prajurit Isabella Gonzales, yang berusia 19 tahun dan berasal dari Texas. Satu tentara AS lainnya dinyatakan hilang.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilansir CNN, mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal di Yordania tersebut dalam pernyataan pada Sabtu (18/7). Pentagon dalam pernyataannya menyebut dua tentara AS itu tewas "dalam sebuah serangan musuh".
Sejumlah tentara AS lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut, termasuk empat personel yang sempat dievakuasi secara medis ke rumah sakit di Yordania, namun kini telah diperbolehkan pulang.
Pentagon menegaskan pihaknya akan terus menyelidiki serangan tersebut.
Kematian personel militer AS di Yordania itu menandai jatuhnya korban jiwa pertama dari pihak Amerika akibat serangan Iran sejak Maret lalu. Pentagon mengumumkan pada Minggu (19/7) bahwa satu personel militer lainnya tewas dalam operasi peledakan terkendali terhadap drone Iran yang ditembak jatuh.
Dengan tambahan kematian tersebut, maka sejauh ini sedikitnya total 17 tentara AS tewas dalam perang yang berkecamuk selama hampir lima bulan tersebut.
Lihat Video 'Iran Tebar Ancaman jika AS Berani Lancarkan Serangan Darat':










































