Kelompok pemberontak Houthi, yang bermarkas di Yaman, menembakkan rentetan rudal ke wilayah Arab Saudi. Serangan rudal ini dilancarkan Houthi setelah menuduh Saudi membombardir Bandara Internasional Sanaa, Yaman yang berada di bawah kendali mereka, pada Senin (13/7) waktu setempat.
Serangan itu merusak ketenangan yang berlangsung selama empat tahun terakhir, dalam konflik antara Saudi dan kelompok militan yang didukung Iran tersebut.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi di Yaman, seperti dilansir Reuters, Selasa (14/7/2026), melaporkan bahwa pertahanan udaranya telah mencegat sejumlah rudal yang "diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah wilayah selatan" kerajaan Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi militer terhadap Yaman pada tahun 2015 lalu untuk memerangi Houthi, yang kemudian memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Secara terpisah, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengumumkan bahwa pasukannya telah menargetkan bandara internasional di Abha, wilayah pegunungan di selatan Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Wilayah tersebut menjadi lokasi banyak warga Saudi berwisata untuk menghindari cuaca panas.
Serangan itu menjadi serangan pertama yang diklaim oleh Houthi terhadap Saudi, sejak gencatan senjata informal mulai diberlakukan pada Maret 2022, menyusul rentetan serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Saudi.
Situasi terkini ini berpotensi mengobarkan kembali konflik di perbatasan selatan Saudi, setelah serangan drone dan rudal Iran yang menargetkan wilayah timur negara tersebut dan Riyadh mereda menyusul gencatan senjata pada April lalu dalam konflik Iran.
Dengan wilayah lebih luas dibandingkan negara-negara Teluk lainnya, Saudi tergolong lebih beruntung selama perang berkecamuk antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Riyadh dapat terus mengekspor minyak melalui saluran pipa dari pantai timur ke pantai barat di Laut Merah, tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Namun, konflik yang kembali pecah dengan Houthi, yang di masa lalu telah menargetkan aktivitas pelayaran di Laut Merah, dapat mengancam hal tersebut.
Houthi Tuduh Arab Saudi Bombardir Bandara Sanaa
Houthi, yang menguasai wilayah utara Yaman, menuduh Saudi melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa, yang ada di Sanaa, ibu kota Yaman, pada Senin (13/7) waktu setempat dan bersumpah akan melakukan pembalasan.
Houthi menyebut serangan-serangan tersebut sebagai "agresi terang-terangan" dan mengatakan bahwa mereka telah mengakhiri periode deeskalasi.
Kelompok tersebut juga memperingatkan maskapai-maskapai penerbangan untuk tidak melintasi wilayah udara Saudi hingga "blokade" terhadap bandara di Sanaa dicabut.
Serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa itu diklaim oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan mendapat dukungan kuat dari Saudi.
Kementerian Pertahanan dari pemerintah Yaman mengumumkan bahwa landasan di Bandara Internasional Sanaa telah menjadi target serangan, yang dimaksudkan untuk mencegah pesawat Iran mendarat, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman.
Lihat juga Video Houthi Rudal 4 Kapal AS di Laut Arab dan Teluk Aden










































