Puluhan ribu orang di Venezuela kesulitan mencari makanan dan tempat berlindung setelah gempa kembar dahsyat mengguncang pekan lalu, hingga menewaskan nyaris 2.000 orang. Para dokter memperingatkan kemunculan wabah penyakit karena warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa tidur di jalanan.
Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang secara berurutan, berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5, telah merobohkan banyak kompleks perumahan, dengan puluhan ribu orang belum diketahui nasibnya dan dikhawatirkan terjebak reruntuhan.
Operasi pencarian dan penyelamatan yang intens untuk menemukan korban-korban yang terjebak di bawah reruntuhan terus dilakukan, meskipun jendela waktu kritis selama 72 jam untuk bertahan hidup telah berlalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNHCR, seperti dilansir AFP, Rabu (1/7/2026), melaporkan bahwa "kekurangan makanan terjadi secara luas, layanan dasar lumpuh, dan saluran komunikasi sebagian besar terputus" di kota pelabuhan La Guaira, yang menjadi wilayah terdampak gempa paling parah.
"Mereka membagikan pasokan di sini, tetapi terkadang orang-orang nyaris saling membunuh demi makanan...suasananya seperti sabung ayam," tutur salah satu warga La Guaira, Daniela Armas (18), yang berprofesi sebagai pedagang dan mengalami luka-luka akibat gempa.
Informasi terbaru, yang disampaikan Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, menyebutkan bahwa jumlah korban tewas kembali bertambah menjadi sedikitnya 1.943 orang. Lebih dari 10.500 orang lainnya, sebut Rodriguez, mengalami luka-luka.
Dia juga mengumumkan bahwa hampir 6.500 orang telah diselamatkan dari reruntuhan di La Guaira. Namun angkat tersebut diperkirakan mendekati 20.000 orang jika mencakup mereka yang berhasil menyelamatkan diri atau dibantu oleh keluarga mereka.
Banyak warga Venezuela mengungkapkan kemarahan atas lambatnya respons pemerintah terhadap bencana ini, terutama saat kondisi negara yang bergulat dengan krisis ekonomi selama beberapa dekade, yang melemahkan infrastruktur dan layanan kesehatan.
Badan pengungsi PBB tersebut melaporkan bahwa pihaknya membutuhkan dana sebesar US$ 14,85 juta (Rp 266,4 miliar) untuk meningkatkan penyaluran bantuan dan penyediaan tempat perlindungan bagi 30.000 orang selama enam bulan.
"Ketegangan di tengah masyarakat meningkat seiring masih terbatasnya akses terhadap bantuan," ujar juru bicara UNHCR, Carlotta Wolf, dalam laporannya.
Berdasarkan penilaian awal terhadap data satelit yang dirilis NASA, gempa kembar dahsyat tersebut telah merusak atau menghancurkan 58.870 bangunan.
Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, mengatakan bahwa layanan kesehatan di Venezuela sudah kewalahan dan berada di bawah "tekanan ekstrem".
Lindmeier menambahkan bahwa "saat ini terdapat peningkatan risiko wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin", seperti campak dan difteri, akibat rendahnya cakupan vaksinasi sebelum terjadinya gempa.
Tonton juga video "Jumlah Korban Tewas Gempa Venezuela Kini Tembus ke 1.943 Orang"










































