Rencana Gila Trump Jadikan Venezuela Negara Bagian AS

Rencana Gila Trump Jadikan Venezuela Negara Bagian AS

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 12 Mei 2026 22:01 WIB
U.S. President Donald Trump looks on as he speaks to reporters near the Lincoln Memorial Reflecting Pool as it undergoes renovations, in Washington, D.C., U.S., May 7, 2026. REUTERS/Kylie Cooper
Foto: Donald Trump (REUTERS/Kylie Cooper)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ide gila. Bukan soal Iran, Trump kini melempar gagasan menjadikan Venezuela sebagai bagian dari wilayah AS.

Hubungan AS dan Venezuela diketahui memanas setelah tentara AS menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Ciracas, Venezuela, pada 3 Januari 2026. Penangkapan itu lantas digunakan Trump untuk menguasai kekayaan alam Venezuela, khususnya minyak.

Tidak cukup sampai di situ, Trump lalu mengunggah pesan kontroversial pada Maret 2026 terkait wacana menguasai wilayah Venezuela. Dia ingin menjadikan negara itu sebagai bagian dari AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di platform Truth Social miliknya pada bulan Maret lalu, Trump menulis: "Hal-hal baik terjadi pada Venezuela akhir-akhir ini! Saya bertanya-tanya tentang keajaiban apa ini? KEBANGSAAN, #51, ADA YANG TERTARIK?"

Trump dilaporkan mengatakan kepada Fox News pada hari Senin (11/5) waktu setempat, bahwa ia "serius" mempertimbangkan untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.

Respons Presiden Venezuela

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez menegaskan bahwa pemerintahnya "tidak pernah" mempertimbangkan untuk menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.

Hal ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya serius mempertimbangkan untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian AS, menyusul penangkapan presidennya, Nicolas Maduro.

"Itu tidak akan pernah dipertimbangkan, karena jika ada satu hal yang dimiliki oleh kami, kaum pria dan wanita Venezuela, adalah bahwa kami mencintai proses kemerdekaan kami, kami mencintai para pahlawan pria dan pahlawan wanita kemerdekaan kami," kata Rodriguez kepada wartawan saat meninggalkan sidang di Mahkamah Internasional di Den Haag, dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/5/2026).

Ketika ditanya tentang prospek status negara bagian AS, Rodriguez menegaskan bahwa pemerintahannya sedang bekerja dengan "agenda kerja sama diplomatik" dengan Amerika Serikat.

Sejak mengambil alih kekuasaan dari Maduro yang telah lama berkuasa, Rodriguez telah memimpin pencairan hubungan dengan Washington di bawah tekanan berat untuk memenuhi tuntutan Trump untuk akses ke cadangan bahan bakar fosil Venezuela yang sangat besar.

Trump telah berulang kali memuji Rodriguez, yang telah mengesahkan reformasi yang membuka sektor pertambangan dan minyak Venezuela bagi perusahaan asing, terutama dari AS.

Rodriguez, yang tadinya menjabat sebagai wakil presiden Maduro, juga telah mendorong pengesahan undang-undang amnesti yang menyebabkan pembebasan ratusan tahanan politik, meskipun sekitar 500 orang masih berada di balik jeruji besi.

Simak juga Video: Trump Mau Buka Wilayah Udara Venezuela: Bos Minyak Bisa ke Sana

Halaman 2 dari 2
(ygs/lir)


Berita Terkait