Iran Kritik AS: Lebih Pilih Petualangan Militer Gegabah Daripada Diplomasi

Iran Kritik AS: Lebih Pilih Petualangan Militer Gegabah Daripada Diplomasi

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 09 Mei 2026 11:58 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi (dok. AFP/YASSER AL-ZAYYAT)
Menlu Iran Abbas Araghchi (dok. AFP/YASSER AL-ZAYYAT)
Teheran -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritikan terbaru untuk Amerika Serikat (AS), yang disebut lebih memilih "petualangan militer yang gegabah" daripada diplomasi. Araghchi menuduh AS sengaja menggunakan tindakan militer setiap kali solusi diplomatik dengan Iran tampak memungkinkan.

"Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan. AS memilih petualangan militer yang gegabah," kata Araghchi dalam pernyataan terbaru via media sosial X, seperti dilansir Middle East Monitor, Sabtu (9/5/2026).

"Apa pun penyebabnya, hasilnya sama: rakyat Iran tidak pernah tunduk pada tekanan," tegasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam percakapan telepon dengan Menlu Turki Hakan Fidan, seperti dilansir Tasnim News Agency dan Anadolu Agency, Araghchi menyebut peningkatan aktivitas angkatan laut AS di kawasan Teluk semakin memperdalam keraguan tentang keseriusan Washington terhadap upaya diplomasi dan upaya mengakhiri perang.

Araghchi mengatakan bahwa tindakan AS yang "provokatif" baru-baru ini di Teluk Persia dan "retorika ofensif" oleh para pejabat senior Amerika telah meningkatkan kecurigaan Iran tentang komitmen Washington terhadap diplomasi.

Dicetuskan oleh Araghchi bahwa mengakhiri serangan-serangan ilegal dan menghentikan "pendekatan yang tidak masuk akal dan berlebihan" oleh pihak lawan diperlukan untuk memajukan proses diplomatik.

Araghchi, dalam pernyataannya, juga menolak laporan penilaian intelijen AS dari Badan Intelijen Pusat (CIA) soal kemampuan rudal Iran.

"CIA salah. Persediaan rudal dan kapasitas peluncur kami bukanlah mencapai 75 persen dibandingkan dengan 28 Februari. Angka yang benar adalah 120 persen," tegasnya.

"Adapun kesiapan kami untuk membela rakyat kami: 1000 persen," tambah Araghchi.

Situasi di Timur Tengah yang diselimuti gencatan senjata sejak awal April lalu, kembali berkobar setelah Iran dan AS terlibat aksi saling serang di Selat Hormuz. Kedua negara saling menuduh satu sama lain telah terlebih dahulu melanggar gencatan senjata.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pasukannya melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal-kapal militer AS di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). IRGC menyebut serangannya dilancarkan setelah apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Washington.

Sementara Presiden Donald Trump mengatakan militer AS melancarkan serangan terhadap kapal tanker Iran di Selat Hormuz, yang disebutnya sebagai serangan balasan.

Trump mengklaim Iran lebih dahulu menyerang tiga kapal militer AS yang tengah melintas di perairan Selat Hormuz. Serangan itu, kata Trump, memantik respons balasan dari tentara AS. Dia mengklaim serangan AS itu membuat kapal-kapal Iran "hancur total".

Simak juga Video 'Dituding Langgar Gencatan Senjata, AS: Iran yang Nyerang Duluan!':

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait