Trump Klaim Tembakan AS ke Kapal-kapal Kecil Iran Tak Langgar Gencatan Senjata

Trump Klaim Tembakan AS ke Kapal-kapal Kecil Iran Tak Langgar Gencatan Senjata

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Rabu, 06 Mei 2026 03:22 WIB
WASHINGTON, DC - APRIL 16: U.S. President Donald Trump speaks to the media before boarding Marine One on the South Lawn of the White House on April 16, 2026 in Washington, DC. President Donald Trump is traveling to Las Vegas, Nevada to promote the ta
Foto: Presiden AS Donald Trump. (Getty Images via AFP/ANNA MONEYMAKER)
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut pasukan AS telah menghancurkan tujuh kapal militer kecil Iran di Selat Hormuz. Trump menganggap serangan itu bukanlah pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Dilansir Al Jazeera, Rabu (6/5/2026), ketika ditanya apa yang dimaksud dengan pelanggaran gencatan senjata, Trump tak berbicara terang-terangan.

"Anda akan mengetahuinya," kata Trump di Ruang Oval, Washington DC.

"Orang Iran tahu. Mereka tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Mereka menghormati kita," tambahnya.

Diketahui, AS telah memulai proyek kebebasan atau project freedom di Selat Hormuz. Langkah itu merupakan upaya Washington memandu kapal-kapal dari Teluk melalui Selat Hormuz.

Dirangkum detikcom melansir BBC, Selasa (5/5) project ini diawali dengan serangan AS ke tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz. AS menyerang kapal itu menggunakan helikopter.

"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Presiden AS Donald Trump.

Namun, serangan ini dibantah media pemerintah Iran. Mengutip sumber militer, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa dua kapal kargo kecil yang terkena serangan, menewaskan lima warga sipil.

Proyek ini sebenarnya sudah dibocorkan Trump beberapa waktu lalu. Trump saat itu mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal-kapal yang terdampar di perairan Teluk agar bisa keluar dengan melintasi Selat Hormuz pada Senin (4/5).

Kapal-kapal itu terdampar sejak Iran memblokir jalur perairan itu pada awal konflik pada Februari. (fca/fca)



Berita Terkait