Serangan drone Rusia terbaru menewaskan 3 orang di Ukraina. Aksi serangan balasan dilakukan Ukraina dengan meluncurkan ratusan drone ke Rusia yang menewaskan 1 orang menargetkan fasilitas minyak Rusia.
Dilansir AFP, Minggu (3/5/2026), Gubernur regional Oleg Kiper mengatakan serangan Rusia di wilayah Odesa selatan Ukraina menewaskan dua orang, termasuk seorang pengemudi truk di pelabuhan.
"Drone musuh menghantam tiga bangunan tempat tinggal, dan dua lainnya rusak.... Fasilitas dan peralatan untuk infrastruktur pelabuhan juga rusak," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layanan darurat memposting foto-foto petugas pemadam kebakaran yang berupaya memadamkan api setelah serangan tersebut.
Serangan Rusia di wilayah garis depan Kherson, di Ukraina selatan, juga menewaskan satu orang, kata para pejabat di sana.
Rusia menembakkan 268 drone dan satu rudal balistik dalam serangan semalam, kata angkatan udara Ukraina.
Sementara itu, tentara Ukraina meluncurkan setidaknya 334 drone ke Rusia, kata kementerian pertahanan Rusia. Wilayah Leningrad barat laut menjadi sasaran utama.
Terminal ekspor minyak di Rusia telah beberapa kali dihantam dalam beberapa pekan terakhir, menghancurkan ekspor senilai miliaran dolar, menurut Kyiv.
Pendapatan minyak dan gas -- yang meningkat karena perang di Timur Tengah -- sangat penting bagi perekonomian Rusia dan pendanaan militernya.
Lebih lanjut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan dua kapal tanker bayangan Rusia diserang di lepas pantai pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam selatan. Ia mengunggah rekaman hitam-putih dari drone angkatan laut yang mendekati salah satu kapal tanker. Namun belum diketahui kerusakan yang terjadi.
Serangan drone Ukraina juga menewaskan seorang pria berusia 77 tahun di wilayah Moskow, yang mengelilingi ibu kota Rusia, kata gubernur wilayah tersebut.
Ukraina menyebut serangannya terhadap Rusia sebagai pembalasan yang adil atas gempuran malam hari Rusia terhadap kota-kotanya. Menurut Ukraina serangan itu hanya menargetkan fasilitas energi dan militer.
Sementara itu Rusia membantah menargetkan warga sipil.











































