Trump Sebut Pemimpin Israel-Lebanon Akan Dialog, Pertama dalam 34 Tahun

Trump Sebut Pemimpin Israel-Lebanon Akan Dialog, Pertama dalam 34 Tahun

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 16 Apr 2026 15:14 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Israel dan Lebanon akan melakukan dialog pada Kamis (16/4) waktu setempat. Trump mengklaim pertemuan pemimpin kedua negara itu akan menjadi momen pertama kali selama hampir 34 tahun terakhir.

Namun demikian, otoritas Beirut dalam tanggapannya mengaku "tidak mengetahui" adanya jadwal kontak langsung dengan Tel Aviv dalam waktu dekat.

Rencana pembicaraan antara pemimpin Israel dan Lebanon itu, seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (16/4/2026), diumumkan Trump dalam pernyataan terbaru via akun media sosial Truth Social miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berusaha untuk memberikan sedikit ruang bernapas antara Israel dan Lebanon. Sudah lama sejak kedua pemimpin berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok. Bagus!" tulis Trump dalam pernyataan via Truth Social pada Rabu (15/4) waktu AS.

Trump tidak menyebutkan secara jelas soal siapa saja yang akan mewakili Israel dan Lebanon dalam pembicaraan lanjutan pada Kamis (16/4) tersebut. Tidak diketahui secara jelas lokasi dan format dialog antara pemimpin kedua negara.

Pengumuman ini disampaikan menyusul pertemuan langsung yang tergolong langka antara Duta Besar Israel dan Lebanon di Washington DC, AS, pada Selasa (14/4) waktu setempat, untuk membahas upaya gencatan senjata di tengah eskalasi konflik.

Pertemuan itu menjadi negosiasi langsung pertama antara pejabat senior dari kedua negara sejak tahun 1993 silam.

Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, setelah kelompok Hizbullah yang bermarkas di negara itu dan didukung Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.

Sejak saat itu, rentetan serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi di Lebanon. Tel Aviv juga mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon, dekat perbatasan wilayahnya.

Seruan gencatan senjata antara kedua pihak menggema secara internasional, terutama setelah AS dan Iran yang terlibat perang sengit sejak akhir Februari mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu sejak 7 April lalu.

Sempat terjadi perbedaan pendapat soal apakah gencatan senjata AS-Iran itu juga berlaku untuk pertempuran di Lebanon. Teheran dan Pakistan, sebagai mediator konflik, bersikeras menyatakan gencatan senjata mencakup Lebanon. Namun Tel Aviv dan Washington menyangkalnya.

Alhasil, pembicaraan terpisah pun digelar antara Israel dan Lebanon dengan dimediasi AS.

Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa dalam pembicaraan dengan Lebanon, Israel memiliki dua tujuan utama, yakni pembubaran Hizbullah dan perdamaian berkelanjutan yang "dicapai melalui kekuatan".

Lebanon Akui Tak Tahu Soal Dialog Lanjutan dengan Israel

Otoritas Lebanon, menurut seorang pejabat Beirut yang berbicara kepada AFP, mengatakan bahwa pihaknya "tidak mengetahui" adanya kontak yang akan datang dengan Israel, setelah pertemuan di Washington DC pada Selasa (14/4).

"Kami tidak mengetahui adanya rencana kontak dengan pihak Israel, dan kami belum diberitahu tentang hal itu melalui saluran resmi," kata pejabat Beirut tersebut.

Belum ada tanggapan terbaru dari Gedung Putih terkait hal ini.

Simak juga Vide: Netanyahu Perintahkan Pasukan Israel Lanjutkan Serangan ke Lebanon

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait