Presiden Kuba Ogah Tunduk ke Trump: Menyerah Tak Ada dalam Kamus Kami!

Presiden Kuba Ogah Tunduk ke Trump: Menyerah Tak Ada dalam Kamus Kami!

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Jumat, 10 Apr 2026 08:23 WIB
Presiden Baru Kuba Diaz-Canel Yakin Komunisme Akan Bertahan
Foto: Diaz Canel (DW (News)).
Jakarta -

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan tidak akan tunduk pada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Diaz menyatakan negaranya memiliki penentuan kemerdekaan sendiri.

"Kita memiliki negara berdaulat yang merdeka, negara yang bebas. Kita memiliki penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, dan kita tidak tunduk pada rencana Amerika Serikat," kata Diaz-Canel kepada NBC News, dilansir kantor berita AFP, Jumat (10/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diaz mengatakan AS tidak mempunyai hak menuntut apa pun dari Kuba. Dia menyebut AS sendiri yang telah memutuskan permusuhan dengan Kuba.

"Pemerintah AS yang telah menerapkan kebijakan permusuhan terhadap Kuba tidak memiliki hak moral untuk menuntut apa pun dari Kuba," tambah pemimpin berusia 65 tahun itu.

Kata Diaz, kata menyerah tidak ada dalam kamus Kuba. Dia pun tidak mau mengundurkan diri.

"Konsep para revolusioner menyerah dan mengundurkan diri-itu bukan bagian dari kosa kata kami."

Trump telah sering berbicara dalam beberapa minggu terakhir tentang Kuba, memprediksi keruntuhan pemerintahan komunis yang berkuasa di sana. Pada Senin (16/3) lalu, ia melemparkan tanda tanya apakah akan mendapat "kehormatan untuk mengambil alih" pulau itu.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba, kapan Amerika Serikat akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba? Itu suatu kehormatan besar," kata Trump dari Gedung Putih.

"Mengambil alih Kuba dalam beberapa bentuk, ya, mengambil alih Kuba--maksud saya, apakah saya membebaskannya, mengambilnya, saya pikir saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya."

Trump menolak untuk menjawab, ketika ditanya apakah operasi untuk "mengambil alih" Kuba akan melibatkan tingkat kekuatan yang sama seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada bulan Januari.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, pada Jumat (20/3), mengatakan dalam pidatonya kepada para aktivis internasional yang membawa bantuan kemanusiaan ke pulau itu bahwa pemerintahnya menyadari bahwa "mungkin ada serangan terhadap Kuba," dan sedang mempersiapkan diri sesuai dengan itu.

Minggu lalu, Díaz-Canel mengkonfirmasi dalam pidato nasional bahwa Kuba sedang berbicara dengan rekan-rekan AS-nya tentang negosiasi untuk mengakhiri embargo bahan bakar. Sejak itu, pemerintah Kuba telah mengklarifikasi bahwa mereka tidak bermaksud untuk bernegosiasi tentang sistem politiknya.

Sejak para revolusioner Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada tahun 1959, negara tersebut berada di bawah embargo ekonomi yang ketat dari AS.

Kuba telah melewati masa-masa ketidakpastian ekonomi yang parah sebelumnya, seperti "Periode Khusus," ketika runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 memutus sumber utama bantuan luar negeri bagi pemerintah komunis.

Krisis terbaru ini sama suramnya. Kekurangan bahan bakar dari Meksiko dan Venezuela telah menghentikan hampir semua pariwisata ke pulau itu, mengganggu pendidikan, mengurangi layanan di rumah sakit, dan mencegah petani membawa hasil panen mereka ke pasar.

Simak juga Video 'Presiden Kuba Sebut 32 Rakyatnya Tewas Saat Maduro Ditangkap AS':

(whn/ygs)


Berita Terkait