Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan militer telah melakukan serangan mendadak yang menargetkan ratusan anggota Hizbullah di seluruh Lebanon. Warga Lebanon panik berlarian di tengah gempuran yang turut menargetkan wilayah Beirut.
"IDF melakukan serangan mendadak terhadap ratusan anggota Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang diderita Hizbullah sejak Operasi Beepers," kata Katz dalam pernyataan video, merujuk pada operasi besar tahun 2024 terhadap Hizbullah yang melibatkan bom pager dilansir AFP, Rabu (8/4/2026)
Israel melancarkan serangkaian serangan di Beirut pada Rabu (8/4), menyebabkan kepanikan di antara penduduk dalam serangan paling keras di ibu kota sejak awal perang dengan Hizbullah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Militer Israel mengatakan telah melakukan "serangan terkoordinasi terbesar di seluruh Lebanon". Israel bersikeras bahwa gencatan senjata dua minggu dalam perangnya dengan Iran tidak berlaku untuk Lebanon.
Serangan serentak di ibu kota terjadi tanpa peringatan, mendorong orang-orang di jalanan untuk mulai berlari dan pengendara membunyikan klakson mereka dalam upaya untuk membuka jalan, menurut wartawan AFP.
"Saya melihat ledakan itu, sangat kuat, dan ada anak-anak yang tewas, beberapa dengan tangan mereka terputus," kata Yasser Abdallah, yang bekerja di toko peralatan rumah tangga di pusat Beirut, kepada AFP.
Salah satu serangan menghantam Corniche al-Mazraa, salah satu jalan utama di ibu kota. Seorang fotografer AFP melihat kerusakan yang meluas, bangunan terbakar, dan mobil-mobil hancur.
"Sebuah pesawat menabrak, dan orang-orang mulai berlari ke kiri dan ke kanan, dan asap mengepul" dari gedung yang menjadi sasaran, kata saksi lain, Ali Younes.
Israel juga menyerang pinggiran selatan Beirut dan Lebanon selatan, tempat Hizbullah berkuasa, setelah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk daerah-daerah ini, bersamaan dengan serangan di timur. Ambulans terdengar di daerah-daerah yang menjadi sasaran.
Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada hari Selasa dalam upaya menit-menit terakhir untuk mencegah kehancuran total yang diancam oleh Presiden AS Donald Trump.
Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan gencatan senjata tersebut tidak termasuk pertempuran negaranya dengan Hizbullah di Lebanon.
"Kami bersikeras untuk membedakan antara arena Iran dan Lebanon untuk mengubah realitas di Lebanon dan menghilangkan ancaman dari penduduk di utara," kata Katz.
"Kami telah memperingatkan Naim Qassem bahwa Hizbullah akan membayar harga yang sangat mahal karena menyerang Israel atas nama Iran--dan hari ini kami telah melaksanakan tahap lain dari janji itu," tambahnya, merujuk pada pemimpin kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan dalam penghitungan sementara bahwa serangkaian serangan Israel di seluruh Lebanon pada hari Rabu menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya.











































