Komisi penting dalam parlemen Iran, Komisi Keamanan Nasional, telah menyetujui rencana untuk memberlakukan bea masuk, atau tarif tol, bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pengiriman minyak dan gas global yang secara efektif ditutup karena perang di Timur Tengah.
Namun, masih dibutuhkan persetujuan sepenuhnya dari parlemen Iran melalui voting, atau pemungutan suara, untuk benar-benar memberlakukan rencana tersebut.
Laporan televisi pemerintah Iran, yang mengutip seorang anggota komisi keamanan parlemen, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Selasa (31/3/2026), menyebut bahwa rencana yang disetujui itu mencakup serangkaian peraturan baru yang mengatur jalur perairan strategis tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana tersebut mencakup "pengaturan keuangan dan sistem tarif tol Rial (mata uang Iran)" -- yang akan mengharuskan kapal-kapal untuk membayar biaya transit dalam mata uang nasional Iran, Rial -- kemudian juga "penerapan peran kedaulatan Iran".
Diatur juga dalam rencana itu soal "pelarangan terhadap warga Amerika dan rezim Zionis untuk melewatinya", dan larangan bagi negara-negara lainnya untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran.
Salah satu anggota Komisi Keamanan Nasional, Mojtaba Zaeri, seperti dikutip kantor berita Fars, menjelaskan bahwa RUU tersebut juga mencakup pembatasan yang melarang kapal-kapal terkait AS dan Israel untuk melewati Selat Hormuz.
Ketentuan tambahan akan melarang akses bagi negara-negara yang telah bergabung dengan sanksi-sanksi sepihak terhadap Iran.
Usai disetujui Komisi Keamanan Nasional, rancangan undang-undang (RUU) yang memuat rencana tarif tol itu masih harus melewati pemungutan suara penuh dalam parlemen Iran, sebelum dikaji oleh Dewan Wali Iran dan ditandatangani oleh Presiden Iran untuk diresmikan sebagai undang-undang (UU).
Kawasan Timur Tengah semakin memanas sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global, juga terdampak oleh perang berkelanjutan tersebut. Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu.
Hal tersebut memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Sekitar seperlima dari minyak mentah dan gas alam cair global melewati Selat Hormuz sebelum perang meletus. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, perlintasan di Selat Hormuz telah anjlok sekitar 95 persen, dengan dampaknya dirasakan di seluruh pasar energi global.
Tonton juga video "Iran Bantah Bernegosiasi dengan AS: Tuntutannya Sangat Tak Realistis"










































