Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membahas perlunya pembukaan kembali Selat Hormuz di Iran dalam percakapan telepon mengenai konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung. Lalu lintas melalui selat tersebut telah melambat sekitar 95% sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.
Dilansir BBC, Senin (23/3/2026), juru bicara Downing Street mengatakan para pemimpin "sepakat bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk memastikan stabilitas di pasar energi global" selama percakapan pada Minggu (22/3) malam.
Hal ini terjadi menjelang Starmer akan memimpin pertemuan darurat (Cobra), yang akan dihadiri oleh Gubernur Bank of England Andrew Bailey, untuk membahas dampak perang terhadap biaya hidup. Juru bicara Downing Street mengatakan Starmer dan Trump "sepakat untuk berbicara lagi segera".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iran secara efektif telah memblokir selat tersebut sejak AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari. Sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati selat ini, dan harga bahan bakar global telah melonjak setelah perang, dengan harga minyak mentah naik 45% menjadi $106 per barel.
Dalam unggahan media sosial pada Sabtu (21/3), Trump mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Selat tersebut tidak dibuka dalam waktu 48 jam. Teheran mengatakan akan menargetkan lokasi energi yang terkait dengan AS di seluruh wilayah Teluk jika AS menindaklanjuti ancamannya, menurut media pemerintah Iran.
Topik yang diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan Cobra, yang juga akan dihadiri oleh menteri keuangan, menteri luar negeri, dan menteri energi, termasuk keamanan energi dan dampak ekonomi krisis terhadap keluarga. Para menteri juga akan membahas dampak pada bisnis dan rantai pasokan, bersama dengan respons internasional.
Berbicara kepada BBC pada Minggu (22/3), Menteri Perumahan Steve Reed mengatakan pemerintah telah mengambil tindakan terkait tagihan energi, termasuk paket Β£53 juta untuk rumah tangga yang kesulitan dengan kenaikan tajam harga minyak pemanas. Ia juga mengatakan bahwa "tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan Inggris--atau bahkan mampu melakukannya jika mereka mau".
Hal ini terjadi setelah pasukan tentara Israel (IDF) mengatakan pada Sabtu (21/3), bahwa Teheran memiliki senjata yang dapat mencapai jarak hingga 4.000 km (2.485 mil). Sebelumnya juga terungkap bahwa Iran menargetkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Kepulauan Chagos di Samudra Hindia, sekitar 3.800 km dari Iran.
Reed menolak untuk mengatakan seberapa dekat rudal-rudal itu mendekati wilayah seberang laut Inggris, dengan mengatakan bahwa ia tidak dapat membagikan "detail operasional". Iran menembakkan dua rudal balistik ke Diego Garcia--salah satunya gagal dan jatuh sebelum mencapai sasaran, sementara yang lainnya dicegat, kata Reed.
Pada Jumat (19/3), pemerintah setuju untuk mengizinkan AS menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk melancarkan serangan ke situs-situs Iran yang menargetkan Selat Hormuz.
Sebelumnya, pemerintah hanya mengizinkan pasukan AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan tersebut untuk operasi pertahanan guna mencegah Iran menembakkan rudal yang membahayakan kepentingan atau nyawa warga Inggris.











































