Amerika Serikat (AS) melibatkan perangkat kecerdasan buatan (AI) dari Anthropic dalam serangan terhadap Iran baru-baru ini. Perangkat AI yang sama digunakan dalam operasi militer AS saat menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Gelombang serangan AS, yang dilancarkan secara terkoordinasi dengan Israel, sejak Sabtu (28/2) tentu saja melibatkan senjata-senjata konvensional, seperti rudal jelajah Tomahawk, jet tempur siluman, dan untuk pertama kalinya, menggunakan drone tempur satu arah atau drone kamikaze.
Namun penggunaan perangkat AI dari Anthropic menarik perhatian khusus, mengingat perangkat itu dilarang oleh Presiden Donald Trump beberapa jam sebelum Washington membombardir Teheran dan wilayah-wilayah lainnya pada Sabtu (28/2) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump menyebut Anthropic sebagai "perusahaan AI sayap kiri radikal yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak tahu apa itu dunia nyata". AS bahkan menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasokan, yang menyiratkan perusahaan itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Dituturkan seorang sumber yang memahami situasi tersebut, seperti dilansir Reuters dan The Guardian, Senin (2/3/2026), bahwa Pentagon menggunakan layanan AI dari Anthropic, termasuk perangkat Claude -- semacam asisten AI -- selama serangannya terhadap Iran pada akhir pekan.
Tidak diketahui secara jelas bagaimana cara perangkat AI itu digunakan dalam upaya perang. Baik Pentagon maupun Anthropic belum memberikan komentarnya.
Kecerdasan buatan milik Anthropic, perusahaan AI yang berkantor di San Francisco, telah digunakan di seluruh komunitas intelijen dan angkatan bersenjata, dan merupakan yang pertama di antara perusahaan AI sejenis yang bekerja dengan informasi rahasia, melalui kesepakatan pasokan via penyedia cloud Amazon.
Laporan soal penggunaan perangkat AI dari Anthropic untuk mendukung serangan AS terhadap Iran juga dilaporkan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ) dan Axios.
Menurut WSJ, komando militer AS menggunakan perangkat AI itu untuk tujuan intelijen, serta untuk membantu dalam memilih target dan melakukan simulasi medan perang.
Perangkat AI Claude disebut juga digunakan oleh militer AS dalam operasi menangkap Maduro pada 3 Januari lalu. Hal ini disebut memicu perselisihan sengit antara Anthropic dengan pemerintahan Trump.
Disebutkan bahwa Anthropic merasa keberatan, dengan merujuk pada persyaratan penggunaannya yang tidak mengizinkan Claude digunakan untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan.
Sejak pemutusan hubungan dengan Anthropic, perusahaan AI lainnya seperti OpenAI mengambil alih peran tersebut. CEO OpenAI, Sam Altman, mengatakan pihaknya mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk penggunaan perangkat perusahaan, termasuk ChatGPT, dalam jaringan rahasia mereka.
Lihat Video 'Detik-detik Militer AS Serang Situs Rudal Balistik Milik Iran':











































