Iran Dibujuk Capai Kesepakatan Usai Trump Isyaratkan Serangan Militer

Iran Dibujuk Capai Kesepakatan Usai Trump Isyaratkan Serangan Militer

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 19 Feb 2026 11:35 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Annabelle Gordon)
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Annabelle Gordon)
Washington DC -

Gedung Putih memperingatkan bahwa akan "bijaksana" bagi Iran jika mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump sekali lagi mengisyaratkan serangan militer terhadap Teheran, menyusul ketegangan yang semakin meningkat.

Kedua negara baru-baru ini, seperti dilansir AFP, Kamis (19/2/2026), melanjutkan perundingan tidak langsung, yang dimediasi oleh Oman, setelah Trump berulang kali mengancam serangan militer terhadap Iran atas penindakan brutal terhadap para demonstran antipemerintah bulan lalu.

Upaya negosiasi sebelumnya gagal ketika Israel melancarkan gelombang serangan mendadak ke wilayah Iran pada Juni tahun lalu, yang memicu perang selama 12 hari antara kedua negara yang bermusuhan itu. Washington sempat terlibat dalam perang itu dengan mengebom situs-situs nuklir Teheran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran akan sangat bijaksana untuk mencapai kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahannya," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, saat berbicara kepada wartawan pada Rabu (18/2) waktu setempat.

Pernyataan itu disampaikan setelah Trump kembali mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan menyerang Iran di tengah pengerahan kekuatan militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah.

Via media sosial Truth Social pada Rabu (18/2), Trump awalnya memperingatkan Inggris agar tidak melepaskan kedaulatan atas Kepulauan Chagos di Samudra Hindia, dan kemudian menyebut pangkalan udara Diego Garcia yang ada di kepulauan itu akan dibutuhkan jika Iran enggan mencapai kesepakatan dengan AS.

"Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan, maka Amerika Serikat mungkin perlu menggunakan Diego Garcia, dari lapangan terbang yang terletak di Fairford, untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya," kata Trump dalam pernyataannya.

Laporan media-media terkemuka AS, seperti CNN dan CBS, melaporkan pada Rabu (18/2) bahwa militer AS akan siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat akhir pekan ini, meskipun Trump dilaporkan belum membuat keputusan akhir.

Media terkemuka AS lainnya, Wall Street Journal (WSJ), yang mengutip seorang pejabat AS, mengungkapkan bahwa Trump telah diberi pengarahan tentang opsi militer AS dengan "semuanya dirancang untuk memaksimalkan kerusakan".

Menurut pejabat AS yang tidak disebut namanya itu, opsi militer AS itu mencakup serangan untuk "membunuh sejumlah pemimpin politik dan militer Iran, dengan tujuan menggulingkan pemerintah".

Iran Bilang Tak Ingin Perang, Tapi Tolak Tunduk pada Tuntutan AS

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan pada Rabu (18/2) bahwa negaranya tidak ingin berperang. Namun Pezeshkian juga mengisyaratkan tidak akan tunduk pada tuntutan-tuntutan Washington.

"Kami tidak menginginkan perang," tegasnya.

"Sejak hari saya menjabat, saya percaya bahwa perang harus dikesampingkan. Tetapi jika mereka mencoba memaksakan kehendak mereka kepada kita, mempermalukan kita, dan menuntut agar kita menundukkan kepala dengan segala cara, haruskah kita menerimanya?" ujar Pezeshkian.

Perundingan yang dimediasi Oman dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan aksi militer AS, dengan Teheran menuntut pencabutan sanksi-sanksi Washington yang melumpuhkan ekonominya.

Iran bersikeras agar pembicaraan dibatasi pada isu nuklir, meskipun AS mendorong agar program rudal dan dukungan Iran untuk kelompok bersenjata di Timur Tengah juga dibahas.

Setelah putaran kedua perundingan digelar di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2) kemarin, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa negaranya sedang "menyusun" kerangka kerja untuk pembicaraan lebih lanjut dengan AS.

Araghchi mengatakan bahwa Teheran menyetujui "prinsip-prinsip panduan" dengan Washington, tetapi Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan jika Iran belum mengakui semua garis merah yang ditetapkan AS.

Tonton juga video "Iran Latihan Perang di Selat Hormuz Jelang Ketemu AS"

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait